Sayyidah Khadijah: Dua Sosok Paling Berpengaruh dalam Hidupnya

Sebelum bertemu Rasulullah Saw., sayyidah Khadijah telah menikah dengan ‘Atiq bin ‘Abid. Ia masih berumur belasan tahun ketika itu. Sayang, ‘Atiq wafat setelah ia melahirkan putra pertamanya, Abdullah. Hindun bin Zurarah kemudian mengkhitbahnya. Dengan Hindun, ia memiliki dua putra-putri: al-Harits dan Zainab.
Namun bukan kedua suaminya itu yang memberi peran penting di hidup Khadijah. Sepanjang catatan sejarah, hanya ada dua orang yang benar-benar berpengaruh: Hakim bin Hizam, keponakannya, dan Waraqah bin Naufal, sepupunya.

Hakim adalah pemuda yang pandai. Pandangannya luas. Perangainya halus. Sejak usia 15 tahun, sudah kentara sifat dermawannya. Hanya segelintir penderma dalam kaumnya yang sedermawan dia. Di usia itu, dia sudah masuk dalam perkumpulan para dermawan (dar an-nadwah). Padahal, sebelumnya perkumpulan itu hanya menerima anggota di atas usia 40 tahun.

Dengan diterimanya dia sebagai anggota dar an-nadwah, itu menunjukkan betapa unggul pemikirannya. Abu Sufyan, seorang yang mendapat tempat tertinggi di antara kaum Quraisy, menaruh hormat kepadanya. Ia sangat ingin mendapat prestasi yang sama dengan Hakim.

Dari sosok Hakim inilah Khadijah mendapatkan pengetahuan yang luas. Tak terkecuali ilmu dagang. Karena Hakim sendiri memanfaatkan kecerdasannya itu untuk berdagang.
Hakim memiliki banyak kafilah dagang. Kafilah itu sudah mencapai negara Syam. Bahkan sampai Persia. Meski keuntungannya berlipat, ia tidaklah memakai cara culas untuk mendapatkan keuntungan itu. Justru ia bersedekah kepada fakir miskin Makkah, tamu-tamunya, dan orang-orang yang ingin mendapat belas kasihnya.
Hal ini yang membuat Khadijah kagum, dan semakin giat mempelajari ilmu keponakannya itu.

Jika ia belajar hal-hal duniawi kepada Hakim, maka ia belajar hal-hal ukhrawi kepada sang sepupu, Waraqah bin Naufal. Usia Waraqah yang tua diimbangi dengan ilmu dan ruhaniyahnya yang matang.
Waraqah adalah sosok yang antimaterialistis, zuhud. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk tafakkur atas ciptaan Tuhan. Beribadah pada-Nya. Mempelajari dua kitab suci: Taurat dan Injil.

Ia tidak terpengaruh oleh peribadatan yang dilakukan kaumnya. Ia sama sekali tidak mendekati berhala, patung pemujaan, tumbal dan sesembahan. Ia hanya menyembah Sang Maha Tunggal. Hatinya yang bersih, karena hanya dipenuhi kerinduan akan surga dan kekhawatiran akan neraka, membuatnya dicintai banyak orang dari kaumnya. Jika ia lewat di depan orangorang, mereka menghormatinya. Andai saja bukan karena keyakinan mereka berbeda, orang-orang itu ingin bersama Waraqah, berhadap-hadapan dengannya dalam waktu yang lama.

Dari seluruh pengetahuan yang ia dapatkan, satu hal yang paling ia idam-idamkan. Ia telah mengetahui ciri-ciri Nabi yang akan lahir kemudian sebagai nabi terakhir. Ia baca di kitab Taurat, Injil, ia dapat dari diskusi dengan para agamawan. Nabi terakhir itu berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim as.
Ia sangat merindukan detik-detik itu. Detik-detik di mana ia akan bertemu dengan sang Nabi sebelum nafasnya berhembus.
Dua menara ini menjadi titik tolak sayyidah Khadijah dalam memutuskan seperti apa hidup yang akan dijalaninya. ia mendapat ilmu duniawi yang sempurna dari Hakim, dan pengetahuan ukhrawi yang tinggi lagi arif dari Waraqah.

Sumber:
Dr. Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah az-Zahra’, al-Manar li an-Nasyr wa at-Tanwir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.