Belajar Kritik dari Ulama Salaf dan Dampak Negatifnya

Kesalahan bukan lagi berada pada ruang yang dapat dihindari. Melainkan ia adalah keniscayaan yang ada pada setiap penciptaan. Baik berskala kecil atau besar, disengaja maupun tidak. Sedangkan berusaha memperbaiki kesalahan, tidak saja kewajiban bagi pelakunya, akan tetapi juga pada manusia-manusia di sekitarnya.

Dalam penanganan kesalahan, kritik menjadi salah satu sarana yang dianggap paling efektif untuk mengubah laku seseorang. Penggunaan kritik terkesan elegan, ilmiah dan literatis. Kritik menjadi suatu kecaman atau tanggapan kepada seseorang akan hal buruk terhadap sesuatu laku atau karya. Kritik juga menjadi salah satu metode penanganan dalam syari’at, yang dibahasakan dengan tahsin, nasihat dan bisa juga sebagai daf’u shubhah. Namun, meski berada dalam koridor syari’at, kritik tidak selamanya berbuah manis. Beberapa bahkan hanya tersisa sebagai alasan untuk menangis.

Dampak Negatif dari Kritik

Meski banyak memiliki faedah, kritik juga memiliki sisi negatif yang berbahaya. Pada sebagian kasus, kritik dapat menempatkan korban pada posisi defensif yang menjadikan korban akan membuat alasan untuk menutupi alasannya. Entah alasan yang rasional atau irasional. Jujur atau bahkan sebaliknya. Ironisnya, segala bentuk rasionalisasi tadi hanya akan menjauhkan korban dari rasa bersalah. Padahal kesalahan hanyalah keniscayaan, tetapi tetap saja menganggapnya sebagai kewajaran adalah kesalahan baru lagi.

Setelah adanya pembelaan dari korban, pengkritik pada umumnya tidak akan puas apabila kritiknya ditolak mentah-mentah. Kejadian yang mesti tidak selalu terjadi ini, biasanya hanya akan berjalan dengan debat sangkalan dan pembenaran dari keduanya. Tarik ulur urat leher ini hanya akan berakhir pada masing-masing dari keduanya, yang menyebabkan tidak terselesaikannya suatu masalah. Masing-masing menganggap bahwa dirinyalah yang mutlak benar.

Contoh Kritik dari Ulama Salaf

Untuk memperkecil kemungkinan buruk dan tetap menjaga kesan elegan pada kritik, maka perlunya memahami metode serta sasaran dari kritik tersebut. Seperti Imam al-Ghozali yang berusaha mempelajari ilmu filsafat sebelum akhirnya mengkritik habis-habisan ilmu filsafat dengan karya beliau Tahafut fi Falasifah. Begitu pun Imam Al-Nabhani dalam kitab beliau Syawaludul Haq yang menjelaskan kesesatan Imam Ibnu Taimiyah dalam jilid pertama. Beliau tidak segan menggunakan pendapat Imam Ibnu Taimiyah pada jilid pertama untuk mengkritik Syi’ah. Kedua imam ini memberi pelajaran bahwa kritik haruslah didasari dengan pemahaman sepenuhnya serta tidak dilandasi dengan rasa kebencian, bukan melulu memojokkan dan sarana kebencian.