HomeDawuh MasyayikhNasehat Habib Syech untuk Santri Putri

Nasehat Habib Syech untuk Santri Putri

0 4 likes 2.9K views share

Setiap kebaikan yang kita lakukan, yang kita dapatkan dari guru kita, di situ berarti guru kita hadir dalam waktu kita melakukan kebaikan tersebut. Begitu pula shalawat kepada nabi Muhammad SAW. karena shalawat itu terus, tidak pernah henti. Jika berhenti shalawat berarti kiamat sudah habis. Jadi Allah selalu bershalawat maksudnya Allah selalu memudahkan lisan-lisan umat Muhammad SAW bershalawat kepadanya.

Alhamdulillah putri-putriku semuanya, ciri orang yang baik dia berada di wadah yang baik. Ciri orang yang baik dia selalu tertarik dengan kebaikan. Termasuk di tempat ini almarhum mbah Yai Idris (KH. A. Idris Marzuqi) membuat kebaikan demi kebaikan, yaitu amal jariyah, al ilmu yuntafau bih dengan putri-putrinya di sini. Putri-putri ini adalah putri-putri pilihan dari Allah yang diantarkan oleh orangtuanya ke tempat ini. Tempat ini adalah pilihan Allah, dan tempat yang dikasihi Rasulullah, dan apa yang ada di dalamnya pasti dipilih oleh Allah dan dikasihi oleh Rasulullah. Sebagaimana di hari ini adalah bertepatan dengan tanggal satu Rajab. Di bulan mulia, adik-adik kumpul di tempat ini, di bulan yang mulia, majelis yang mulia, di tempat orang mulia. Jadi alhamdulillah. Semua kemuliaan, dan mengingat Nabi yang mulia Muhammad saw.

Jadi alhamdulillah. Syukur, bersyukur, kita masih ada beliau-beliau ini yang meneruskan perjuangan perjuangan muassis pondok pesantren Lirboyo ini. Jadi mari terus semangat dan belajar, apalagi pelajaran Alquran. Orang yang menghafal Alquran, nanti di akhirat, orang-orang tuanya akan mendapatkan kanzun, akan mendapatkan mahkota. Orang tuanya yang tidak hafal, mendapat mahkota karena anak-anaknya yang hafal, bagaimana yang menghafal Alquran itu sendiri?

Jadi wahai putri-putriku yang menghafal Alquran, yang semangat, belajar juga yang semangat, jangan sampai kita putus asa. Kalian berada di tempat ini, karena kalian diharapkan menjadi wanita-wanita yang mengeluarkan keturunan keturunan min ahlil quran, min ahlil ibadah, min ahlil khoir, min ahlissunnah wal jamaah. Jadi kalian yang semangat. Karena kesemangatan kalian ini nantinya akan menghasilkan buah. Hasil itu nanti tergantung bagaimana semangat kita. Hasil seseorang itu karena tingginya ujian orang tersebut. Sewaktu orang dipuji, disitu tambah naik derajatnya. Di situ waktu kita menghadapi tantangan, adik-adik di pondok mesti mendapat tantangan nafsu, kepingin begini, males dan sebagainya, tapi  perangi, sabar, dan jaga. Terus lawan, karena itu nantinya akan membuat kita hancur. Kita lawan semua bentuk kemalasan, apapun yang membuat kita ini enggan untuk belajar, terus usahakan. Kalau kita bosan dalam belajar ini, kita cari jalan lain bagaimana cara mempelajari. Sistemnya yang beda. Saya kadang saat belajar, mulai jenuh, saya tutup buku itu, saya qasidah. Nanti habis qasidah, sudah agak tenang lagi, baru saya buka buku lagi. Insya Allah itu sebagai sarana supaya kita tidak bosan.

Manusia itu sifatnya bosan. Makanya para ulama, para kiai, setiap ada acara itu mesti ada selingan-selingan. Nah, selingan-selingannya itu membuat kita tidak jenuh. Mungkin nanti kita akan bacakan salah satu syiir beliau Mbah Idris, itu yang ya robbana ya robbana, itu selalu saya bawakan. Saya sampai saat ini rasanya seakan akan baru saja ditinggalkan oleh beliau. Bagaimana sifat beliau, kalau sudah duduk berdampingan dan masya Allah, luar biasa. Mudah-mudahan yang ada ini diberi panjang umur, sehat semuanya. Dan beliau yang meninggalkan kita, ruhnya insya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Sebagaimana Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi kepada gurunya “wa ruuhuhu indana bawwaa. Ruh beliau selalu melindungi aku. Di mana pun aku berada di sana ada ruh guruku.”

Wahai putri-putriku, tidak mungkin terjadi seorang wali tanpa ibu yang shalihah. Jadi tidak mungkin keluar dzuriyah-dzuriyah yang limpat kecuali dari ibu-ibu yang hebat. Siapa mereka? adalah kalian yang dipersiapkan. Kalian dipersiapkan untuk menjadi itu. Bukan dipersiapkan untuk menjadi orang yang tidak terhormat di masyarakat. Tidak. Kalian dipersiapkan oleh masyarakat dan guru-guru di sini untuk menjadi orang yang nantinya keluar dari tubuh kalian, dari rahim kalian orang-orang yang hebat. Orang-orang yang tahu Alquran, yang cinta Alquran, faham Alquran, rindu dengan Alquran. Rindu Allah, rindu Rasulullah. Jangan sampai kesempatan ini dihilangkan dengan hal-hal yang tidak manfaat.

Dikatakan di dalam Alquran surat Al-‘Ashr, manusia itu semua pasti, pasti merugi. Kecuali “Illalladzina amanu wa amilus sholihati wa tawaashou bil haqqi wa tawaashous bis shobri.”

Empat golongan manusia ini, insya Allah dia yang akan selamat. Pertama orang beriman, kita termasuk orang orang yang beriman. Wa amilussholihati, kita termasuk beramal shaleh, berkumpul di tempat ini, di tempat orang yang shaleh, di tempat waliyullah, di majelis ini, majelis Rasulullah, majelis Alquran. Ini tempat yang shaleh.

Wa tawaashou bilhaq, mengajak kepada yang haq, kita disini juga disampaikan hal-hal yang haq. Wa tawaashou bis shobr, kita duduk disini dari pagi sampai sekarang, tidak pindah, ini termasuk sabar. Empat-empatnya di dalam majelis ini ada. Berarti kita tidak merugi. Kita tidak termasuk khosirin, kita termasuk orang yang beruntung.

Alhamdulillah, mudah-mudahan kesempatan itu jangan sampai hilang. Penuhi hari hari kita dengan kebaikan, putri-putriku. Boleh kita bercanda, boleh kita ngobrol. Bukan tidak boleh. Kalau kita tidak bercanda, jadi malaikat kita. Kita manusia, wajar ada candanya sedikit. Boleh. Tapi waktu itu diusahakan. Sebanyak mungkin manfaat buat kita. Karena kalian di sini tidak akan seumur hidup. Kalian di sini dibatasi waktu. Nah, waktu kalian yang dibatasi ini usahakan, kalian bisa menyelesaikannya dengan bagus.

Jadilah kalian putri-putri yang hebat. Putri-putri yang pulang ke kampung menjadi contoh orang orang. Putri-putri yang di masyarakat di manapun kalian berada menjadi sorotan bagi masyarakat. Bahwa ini anak-anak dari Mbah Idris, yang luar biasa. Di mana tempat, nama Mbah Idris itu terbawa. Oleh karena itu di mana tempat jangan sampai mencoreng nama guru Anda. Buat bangga guru Anda, walau dengan berbuat senyum kepada orang sekitar. Maksudnya senyum di sini beradab dan berakhlak.  Bukan mengumbar senyum kepada siapapun. Perempuan tidak diperbolehkan begitu.

Kadang orang-orang pondok kalau sudah keluar dari pondok, seperti keluar dari kerangkeng. Dari penjara. Bukan. Pondok ini bukan penjara. Pondok ini surga. Penjara itu di luar. Justru penjara itu bumi yang ada di luar ini. Tapi di sini Anda ada di dalam surga. Riyadlul jinan, taman dari surga. Tempat orang-orang yang berdzikir, orang yang mencari ilmu, itu surga. Jadi orang sekarang dibalik. Seakan-akan orang di luar meilhat kita ini dikekang, dipenjara. Salah. Nanti kalau kalian keluar ke sana, itu isinya neraka tok. Yang perempuan berpakaian model begini, begitu. Naudzubillah min dzalik.

Walaupun dikatakan dalam hadist neraka itu nanti kebanyakan wanita, tapi saya yakin bukan kalian yang dikatakan rasulullah. Kadang kita tidak terima, kenapa ya Allah saya tidak boleh begini. Harus bersyukur. Walaupun saya seperti ini ya Allah, saya min ahlil quran. Walaupun saya bukan orang yang kaya, yang kelihatannya indah di mata pandangan saya tetapi saya tenang dan nikmat dalam membaca Alquran.

Kita doakan semoga Bu Nyai Khadijah diberi kesehatan, panjang umur, semua anak cucunya, semua pengasuh, yang pengajarnya, yang pengurusnya, yang belajar, dan orang-orang tua dan wali muridnya diberi panjang umur, sehat walafiat, dan diberi nikmat.

Nikmat tidak ada nikmat seperti Alquran. Subhanallah, Alquran itu disayang-sayang, dicium-cium. Alquran itu indah. Sampai datuk saya mengatakan kalau Alquran itu adalah kekasihnya. Istrinya sudah tidur, beliau masih berdialog bercumbu dengan kekasihnya. Beliau meninggal hafal Alquran, dan meninggal dalam keadaan membaca Alquran. Saya Syech bin Abdul Qodir, bin Abdurrahman. Habib Abdurrahman inilah yang hafal Alquran. Sampai beliau minta kepada Allah di zaman itu, di Yaman lagi dijajah sama Inggris. Waktu itu penjajah melarang anak anak sekolah memakai celana panjang, atau gamis. Tapi mbah saya tidak terima matanya melihat aurat-aurat anak-anak itu dan aurat wanita yang tidak berjilbab. Akhirnya ngomong sama Habib Ali bin Muhammad al Habsyi Shohibu Simthud Duror itu, “tolong doakan saya supaya saya buta. Dan doakan air ini supaya hafalan saya tambah kuat. saya ingin buta, tidak ingin melihat maksiat.” Subhanallah, didoakan Habib Ali, diminumi air itu, dalam beberapa hari, ada yang mengatakan tiga minggu, buta beliau. Dan hafalannya itu kuat. Sampai seperti itu orang-orang dulu dengan maksiat. Karena beliau mengatakan aku itu ahli Quran, ga boleh nonton ngono-ngono kui.

Jadi putri-putriku yang hafal Alquran tontonane yo seng apik. Kalau ada apa apa yo moco bismillah. Moco quran wae. nek ada rasa rindu moco quran wae. Jadi kalau membaca Alquran itu niatkan “ya Allah, aku cinta kepada Alquran dan Alquran cinta kepadaku.” Kalau sudah cinta sama cinta, mau tidur itu pengen ketemu kekasihnya dulu. Paling ra, tabarok sebelum tidur. Nantinya orang yang membaca itu akan terhindar dari siksa kubur. Kalau sudah Alquran yang dibaca, insya Allah semua akan jadi baik.

Jangan khawatir, kalian didoakan oleh orang-orang yang shaleh. Saya juga minta didoakan. Kalian hebat. Kalian wajahnya ini luar biasa nikmat dipandang. Insya Allah kenikmatan ini tidak hanya saat ini, tapi sampai akhir hayat nanti.][

 

Disampaikan dalam acara temu santri di Aula Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Qur’an, Lirboyo, Sabtu (09/04) pukul 11.30 WIs.