Khutbah Jumat: Hak Penting Yang Harus Kita Berikan Kepada Istri

Khutbah Hak Istri

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْبُيُوْتَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً وَأَنَسًا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اَلَّذِي قَالَ: “خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِ”. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Di atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian untuk senantiasa memperbarui ketakwaan. Sungguh, takwa bukan hanya urusan kening yang menyentuh sajadah dalam kekhusyukan salat, tetapi juga tentang bagaimana jemari kita menyentuh dan menuntun kehidupan orang-orang tercinta di dalam rumah kita.

Hari ini, mari kita bawa lentera takwa itu ke dalam ruang paling domestik namun paling sakral dalam hidup kita: yaitu rumah tangga. Khususnya, bagaimana seorang suami menunaikan hak-hak istri yang telah Allah titipkan di pundaknya.

Baca juga: Khutbah: Keistimewaan Hari Jumat

Hadirin Rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dengan kalimat yang sangat indah:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

Pergaulilah istri-istri kalian dengan cara yang baik (QS. An-Nisa: 19).

Apakah makna “ma’ruf” di sini hanya sebatas memberi makan dan pakaian? Syaikh Ibnu Ajibah dalam kitab tafsir sufistiknya, Al-Bahrul Madid, mengutip pandangan para ulama bahwa al-ma’ruf adalah ketika seorang suami melembutkan tutur katanya (talaathuf fil maqaal), mengindahkan perilakunya (tajammul fil fa’aal), dan berhias untuk istrinya sebagaimana istri berhias untuk dirinya.

Lebih dalam lagi, Imam Al-Wartajabi menjelaskan sebuah rahasia spiritual yang menakjubkan. Beliau mengatakan bahwa bermuamalah dengan istri harus berada pada maqam “al-uns”—yakni ruang keintiman yang penuh kehangatan, ruh cinta, dan kegembiraan rasa. Menariknya, beliau menegaskan:

“Tidaklah mampu mempergauli wanita dengan kelembutan yang sempurna kecuali orang-orang yang telah merasakan keintiman bersama Allah (Al-Musta’nisuun billah).”

Inilah mengapa Rasulullah ﷺ, manusia yang paling intim dengan Allah, bersabda bahwa salah satu hal yang dicintakan kepada beliau dari dunia ini adalah wanita (istri yang salehah), dan puncaknya, kesejukan mata beliau diletakkan di dalam salat. Ada benang merah yang suci antara kesalehan ritual di hadapan Allah dengan kesalehan sosial di hadapan seorang istri.

Baca juga: Khutbah Jumat: Memetik Ranumnya Buah Ketakwaan

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Namun, kita tahu bahwa mendayung bahtera rumah tangga tidak selamanya melewati air yang tenang. Kadang, ada riak karakter istri yang tidak sesuai dengan selera ego kita. Ada sifat-sifatnya yang memicu amarah. Di sinilah ketakwaan seorang suami diuji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan resep sabar yang luar biasa:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Rasulullah ﷺ juga menguatkan hal ini dalam sebuah hadis:

لا يَفْرك مؤمنٌ مَؤمنة- أي لا يُبْغِضها- إن سخط منها خُلقَا رضي منها آخر

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia pasti rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim).

Duhai para suami, di balik kekurangan istri yang tampak di mata kita hari ini, bisa jadi Allah sedang menyembunyikan takdir-takdir besar yang indah. Kisah klasik dunia Islam mencatat, ayah dari Imam Malik—ulama besar pendiri Mazhab Maliki—ketika pertama kali menemui istrinya, ia mendapati wajah istrinya tidak sesuai dengan bayangan keindahan di benaknya. Ia sempat terduduk merenung dan enggan mendekat.

Namun sang istri, dengan kecerdasan spiritual yang luar biasa, mengetuk kesadaran suaminya:

“Apakah engkau telah memohon istikharah kepada Tuhanmu? Jika iya, apakah engkau sedang berprasangka buruk pada pilihan Tuhanmu?”

Kalimat itu meruntuhkan keegoan sang suami. Ia pun menerima istrinya dengan rida. Dan tahukah kita apa “kebaikan yang banyak” yang Allah lahirkan dari rahim pernikahan yang awalnya diiringi ketidaksukaan itu? Dari rahim perempuan itulah lahir seorang ulama besar dunia: Imam Malik bin Anas. Sungguh benar kalimat hikmah yang halus: “Allah sengaja menyembunyikan akhir dari sebuah urusan agar engkau tidak mendikte takdir, dan tidak lari dari hal yang kau benci.”

Baca juga: Khutbah Jumat: Menjaga Adab Di Tengah Krisis Moral

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Az-Zuhaili mengingatkan kita bahwa pernikahan adalah ruang interaksi yang di dalamnya terdapat hak-hak bersama (al-huquq al-musytarakah). Masing-masing dituntut untuk saling memperhalus akhlak, bersikap lembut, serta اlapang dada dalam memaklumi keburukan tabiat pasangannya.

Seorang suami dituntut untuk memiliki rasa cemburu yang proporsional demi menjaga kehormatan, namun tidak boleh berlebihan hingga berubah menjadi racun kecurigaan yang merusak ketenteraman.

Di sisi lain, syariat yang bijak juga mengajarkan seni kepemimpinan bagi suami. Suami disarankan untuk menjadi nakhoda yang berwibawa: tidak perlu mengeluhkan seluruh beban finansial atau membeberkan rahasia-rahasia strategis luar rumah yang di luar kapasitas istri, agar ritme rumah tangga tetap stabil dan tidak limbung oleh kecemasan yang tidak perlu.

Maka, marilah kita jadikan rumah-rumah kita sebagai madrasah cinta. Akhlak yang baik kepada istri adalah ukuran kemuliaan seorang pria di hadapan Allah, sebagaimana sabda Sang Nabi: “Khairukum khairukum li-ahlihi, wa ana khairukum li-ahli”—Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik sikapnya kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِّمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَصَابِيْحِ الدُّرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ بَعْدَ هَذِهِ الدَّارِ دَارًا تُجْزَى فِيْهَا النُّفُوْسُ بِمَا تَسْعَى.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Jika di khutbah pertama kita menyadari bahwa mempergauli istri dengan baik adalah jembatan menuju ketenangan dunia, maka ketahuilah bahwa pertanggungjawaban atas kepemimpinan itu akan berlanjut hingga ke pengadilan akhirat.

Seorang istri bukan sekadar pelayan di ruang makan, bukan pula pemuas dahaga biologis semata. Ia adalah “as-shahibu bil janbi”—sahabat karib yang mendampingi lambung kita, yang dikirim oleh Allah untuk membersamai perjalanan spiritual kita menuju surga.

Jika kelak di hari kiamat Allah menuntut pertanggungjawaban atas setiap nikmat, maka senyuman istri yang terbit karena kebaikan akhlak kita, atau air mata istri yang tumpah karena lisan dan kasarnya tangan kita, akan menjadi saksi yang berbicara di hadapan Mahkamah Ar-Rahman.

Mari kita ketuk pintu rahmat Allah di hari Jumat yang penuh berkah ini. Semoga Allah melembutkan hati kita sebagai suami, menganugerahkan kesabaran seluas samudra, dan menjadikan rumah tangga kita sebagai miniatur surga sebelum surga yang hakiki.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

يل لله اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses