Tag Archives: KH Marzuqi Dahlan

KH. Zamzami Yusuf: Alasan Mbah Juki Tetap Ngaji Kitab yang Berisikan Hadits Dhaif

Saya aktif ngaji pasaran kepada beliau, termasuk ketika bulan puasa di sana selalu mengaji Dalail. Pada bulan haji biasanya libur, hal itu saya isi untuk mengaji pasaran bersama Kiai Marzuqi. Yang masih saya ingat beliau mengaji kitab Daqaiqul Akbar. Sebelum mengaji kitab Daqaiqul Akbar beliau berkata, “Mbah Kiai Hasyim Asy’ari sebenarnya tidak mau mengaji kitab ini karena haditsnya memang dhaif dan beliau adalah pakar hadits, namun sengaja saya membacakan ini agar kita lebih banyak mengingat mati sekalipun ini haditsnya dhaif. Dan bagi anak-anak yang belum saatnya tidak usah mengikuti ngaji pasaran.” Artinya anak-anak yang masih di bawah kelas dan masih belum tamatan, masih kelas satu tsanawiyah alangkah baiknya tidak usah ikut. Memang harus orang yang sudah paham betul tentang syariah.

Saya ingat beliau memberi komentar, padahal beliau jarang memberi komentar-beliau berkata, ‘’ Orang-orang wahabi itu mengharamkan ngaji kitab ini.” Begitulah kata Mbah Kiai Marzuqi. Mbah Hasyim tidak sampai mengatakan haram, tapi orang wahabi mengharamkan. Maka jika kalian berhadapandengan orang wahabi dan berdebat-dengan khas bahasa tangannya sambil megangkat-beliau berkata, ‘’Ojo diladeni, gebuk wae,(artinya pukul saja) sebab tidak akan ta’lim.” Sampai semua santri tertawa karena selama mengaji ke Mbah Marzuqi, baru sekeras itu beliau berbicara dan jarang beliau mengungkapkan dengan berapi-api.

Kalau beliau ngaji, kemudian tiba-tiba meloncat, para santri tidak berani mengingatkan. Begitu itu, santri sambil mencari-cari mana yang dibaca beliau. Nah, saat santri mulai ribut, beliau baru dawuh, ‘’Oh, anu to le… salah halaman, iyo-iyo.”()

Sumber: Himasal Lirboyo

KH. Masdain: Metode ngajar Mbah Marzuqi

Metode belajar yang dipakai oleh KH. Marzuqi dahlan adalah metode klasik, seperti memaknai dengan sistem mubtadak-khabar. Saya dan Gus Bahru disuruh membaca kemudian di-maknai lalu di-tarkib. KH. Marzuqi Dahlan tidak menyuruh untuk menerangkan. Kemudian KH. Marzuqi Dahlan membaca kembali dan di-Murodi. KH. Marzuqi Dahlan dalam membacakan kitab dan memaknai tidak perlu di-murodi seperti halnya para santri, itu sudah dipahami. Cara penyampaian beliau sangat simpel tapi sangat mudah untuk dipahami dan melekat di hati. Itu merupakan kelebihan beliau yang dianugrahkan oleh Allah kepada beliau.

KH. Marzuqi Dahlan dalam menerangkan selalu menambahkan cerita-cerita yang berhubungan dengan apa yang beliau baca. Beliau menceritakan tentang guru-guru beliau, saat mengaji kepada KH. Dahlan, saat mengaji kepada KH. Abdul Karim, dan lain sebagainya. Nasihat dan cerita beliau itu sudah membuat para santri takut. Cerita tersebut bagaikan doktrinisasi yang cukup harus ditaati. Pada saat beliau menerangkan, para santri selalu memperhatikan betul.

Saya tidak pernah menemui kegalakan KH. Marzuqi Dahlan. Saya hanya pernah menjumpai jika ada santri yang lalaran dengan tabuhan yang sangat keras kemudian terlihat oleh KH. Marzuqi Dahlan, beliau akan marah. Pernah suatu ketika pada pukul 23.00 WIB, santri lalaran dengan tabuhan yang berlebihan, beliau mendatangi mereka dengan membawa batu (kayu) dan melemparkan kepada para santri. Beliau belum sempat berkata apa pun, para santri yang tahu itu KH. Marzuqi Dahlan, semua berdiam lalu bubar dan berlari.()

Sumber: Himasal Lirboyo

KH. Ilham Nadzir: Ngaji pada KH. Marzuqi Dahlan Seperti Minum Madu Murni

Kesederhanaan KH. Marzuqi Dahlan yang saya tahu tidak pernah berdandan (gak tahu macak, blas). Aktifitas keseharian beliau mengaji ke daerah Jampes dengan hanya bersepeda ontel (sepeda kuno tempo dulu). Bannya masih berupa ban ungkul (ban sepedanya terbuat dari karet utuh), sadel sepedanya yang  jengat dengan hanya diberi lilitan tali. Beliau juga suka berziarah ke makam-makam ulama dengan hanya menaiki bendi (dokar). Saya ngaji kitab Ihya itu pertama kali selama empat tahun, yang kedua selama enam tahun.

Jadi Mbah Marzuqi sangat memperhatikan urusan ngaji. Kiprah beliau berkenaan dengan membaca kitab untuk pertama kalinya sekitar tahun 1956 (sekitar dua tahun sepeninggal Mbah Kiai Abdul Karim). Padahal, Mbah Kiai Marzuqi itu kalau hafalan nahwu uangel poll. Jadi, “ka ‘abdi, ‘abdi, ‘abda, ‘abda, ‘abdiya, bolak-balik, diulang-ulang begitu. Dalam hati saya berkata, “Sa’jane iso pora to kiai iki (sebenarnya kiai ini bisa apa nggak sih).” Namun, yang membuat saya takjub, selanjutnya beliau sangat lancar dalam membaca kitabnya. Dadi, moco kitab tafsir druendel, ihya druundel, moco kitab-kitab liyane yo druendel (jadi baca tafsir begitu lancar, kitab ihya lancar, kitab-kitab lain juga lancar).’’ Sampai-sampai, saya merasa saat ngaji kepada beliau itu seperti minum madu murni. Begitu nikmat mendengarnya. Jadi, nggak usah diartikan sudah paham saya. Saat beliau membacakan kitabnya dengan sendirinya saya itu langsung paham.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Kesan Mendalam KH. A. Chalwani Nawawi Terhadap KH. Marzuqi Dahlan

KH. Chalwani Nawawi waktu nyantri di Lirboyo mondok di KH. Marzuqi Dahlan. Santri lirboyo waktu itu sudah ada sekitar 2000-an, yang di madrasah jumlahnya enam ratus lebih dan yang ngaji saja sekitar tujuh ratus lebih, itu jumlah total baik yang di Induk maupun di HM. Di pondoknya Kyai Mahrus sekitar lima ratusan dan didominasi oleh anak Cirebon dan Brebes.

Di mata KH. Chalwani, Kyai Marzuqi Dahlan merupakan figur pesantren yang sebenar-benarnya, yang benar-benar tampil dua puluh empat jam. Istilahnya Kyai Chalwani bisa disebut “al ma’had al hakiki ”. Kyai Marzuqi juga sangat keras dalam aturan. Ketika ada kejadian yang melanggar syari’at atau ada santri yang nakal, beliau langsung mendatangi kamarnya sambil gedok-gedok atau ketok-ketok pakai tongkat sehingga santri-santri pada kabur semuanya.

Berbeda dengan Kyai Abdul Karim yang ketika ada santri yang sa’karepe dewe (seenaknya sendiri) didiamkan saja. Karena Kyai Abdul karim orangnya sangat santai sekali. Pernah ada santri yang melanggar aturan, terus di ta’zir (digundul atau digrujud ) Kyai Marzuqi menunggui ta’ziran tersebut sambil ngendika kepada santri yang di ta’zir ” niku meripate sampean…niku disabuni, damel ningali gudang garam mawon….”.

Kyai Marzuqi paling tidak suka santrinya belajar semacam ilmu hikmah seperti kitab syamsul ma’arif dan Kyai mengajarkan kepada para santri agar selalu bersikap husnudzonan. Bahkan misalnya ketika ada sepasang lelaki dan perempuan dalam satu becak. Kita harus tetap berhusnudzon kalau itu adalah istrinya. Meskipun dalam kenyataannya itu bukan istrinya. Sehingga dengan itu kita tidak akan mendapat kesalahan dari Allah dan kesalahan hanya terletak kepada mereka sendiri.

Yang terkesan dari Kyai Marzuqi, ketika ada santri yang izin pulang, beliau biasanya mendo’akannya semoga bermanfaat sambil ngendiko “ kulo sak anak putu kulo, nyuwun di dungoaken nggeh”( saya dan anak cucu saya, mohon didoakan ya).

Kyai Marzuqi merupakan tipe kyai yang dakwah bil hal, sangat syar’i dan khumul. Beliau tidak pernah mau menampakkan kemampuan dan amaliyahnya. Sehingga sangat sulit untuk diungkapkan dan dijelaskan secara teoritis. Kyai Marzuqi juga jarang banyak bicara dan guyon. Masalah penampilan pun jarang beliau perhatikan. Bajunya seenaknya sendiri dan terkadang kancingnya juga tidak pas.

Selain itu, beliau juga tampak sangat lugu. Ketika ngaji beliau hanya membaca atau memaknai saja, jarang sekali beliau cerita-cerita dan itupun maknainya tidak bernada. Begitu juga saat beliau mengimami shalat, surat alfatihah dan surat-surat lainnya juga dibaca biasa saja mengalir apa adanya tanpa bernada lagu. Keluguan beliau juga tampak saat ada tentara yang datang ke kediaman beliau dengan pakain tentara yang lengkap dengan pangkatnya. Tiba-tiba Kyai Marzuqi menunjuk pangkat yang tertempel di baju tertara itu sambil berkata “niku nopo niku…”. Malah yang terjadi tentara itu ketakutan.

Sepanjang yang diketahui Kyai Chalwani, ilmu tashawuf yang didalami oleh Kyai Marzuqi mengikuti kepada Al Ghozali. Karena Al Ghozali di bidang syar’i sangat keras walaupun akhirnya Al Ghozali berguru kepada muridnya yang kealimannya masih dibawahnya.

Kabar berita yang tersebar mengenai kehebatan Kyai Marzuqi, Kyai Chalwani mengungkapkan konon ketika ada santri lirboyo yang membunuh PKI, yang notabene anak PKI itu KKO. Lalu akhirnya Lirboyo diserbu beberapa truk sama KKO. Mereka bawa bedil dan KKOnya mau membunuh Kyai Marzuqi. Kemudian dituntunlah Kyai marzuki, begitu senapannya diarahkan ke Kyai Marzuki yang terjadi senapannya tidak berbunyi. Tetapi kalau ditembakkan ke arah lain, senapan itu berbunyi. Sampai-sampai Kyai Mahrus keluar dengan membawa pistol dan gus-gusnya pada sembunyi di dapur atas.

Untuk khotib jum’at di pondok Lirboyo, biasanya gantian antara Kyai Marzuqi dan Kyai Mahrus. Namun biasanya Kyai Mahrus yang sering mengisi.()

Sumber: HIMASAL Lirboyo

Haul KH. Marzuqi Dahlan ke-43

LirboyoNet, Kediri – Suasana malam yang cerah menyelimuti nuansa khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (26/07). Bertempat di ndalem lama KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk para ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus Ponpes Lirboyo.

Acara tersebut merupakan haul beliau yang ke-43 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan tawassul kepada nama-nama yang hendak dihauli. Dilanjutkan dengan membaca surat yasin, tahlil, dan ditutup doa.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH. Yasin Asymuni menuturkan kenagan beliau tentang sosok dan pribadi KH. Marzuqi Dahlan. Menurut beliau, sosok Mbah Juki, panggilan KH. Marzuqi Dahlan, adalah orang yang sangat khusyuk dalam menjalankan salat. Mbah Juki  amat meresapi setiap bacaan dan gerakan salat yang beliau lakukan. “Mbah Kiai Marzuqi, ingkang kulo ningali, menawi wahosan, niku estu-estu tadabbur. Estu-estu dipun resapi, dipun wahos, mboten cepet-cepet.” (Mbah Kiai Marzuki, yang saya lihat, terkait bacaan salat itu sangat-sangat tadabbur. Sangat-sangat diresapi. Dibaca, tidak cepat-cepat.) Kenang  Kiai Yasin.  “Insyaallah, ingkang sepuh-sepuh, taseh semerep, saget ngraosaken.” (Insyaallah, alumni-alumni senior yang mengetahui beliau, bisa merasakan.) Pungkas Kiai Yasin.

Semoga berkah dari KH. Marzuqi Dahlan dapat kita rasakan terus sampai kapanpun. Alfatihah……[]