Tag Archives: kisah hikmah

Allah Pamerkan Umat Muhammad kepada Nabi Musa

Diriwayatkan dari Akhbar Ra. Beliau berkata; “aku membaca sepotong keterangan yang diwahyukan kepada Nabi Musa As.”wahai Musa, ada dua rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat subuh, seorang yang salat pada dua rakaat ini Aku akan mengampuni seluruh dosa yang ia lakukan disiang maupun malah hari, menjadi tanggunganku” firman Allah Swt. Kepada Musa As.

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat duhur. Pada rakaat pertama aku memberi mereka ampunan. Dirakaat kedua aku memberi mereka timbangan amal baik yang paling berat.

“Dirakaat ketiga aku memasrahkan para malaikat yang akan bertasbih dan memohon ampunan bagi mereka. dirakaat keempat aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka, bidadari memandangi mereka dari atas”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat ashar, tiada satupun malaikat yang ada dimuka bumi dan penjuru langit kecuali memintakan ampun bagi mereka, dan orang yang dimintakan ampun oleh malaikat, aku takkan pernah menyiksanya.”

“Musa, tiga rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya kala mentari terbenam, aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka , mereka tidak meminta apapun tentang kebutuhannya kecuali akan aku kabulkan.”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya saat mega merah hilang, yang mana salat ini lebih baik bagi mereka daripada dunia dan seisinya, mereka keluar dari salatnya dengan keadaan bersih dari dosa layaknya dimana ibunya melahirkannya”

“Musa, Muhammad dan umatnya berwudu seperti yang telah aku perintahkan, aku memberi mereka surga pada setiap tetes dari wudunya, surga yang luasnya laksanya luas jagat raya ini.”

“Musa, Muhammad dan umatnya berpuasa sebulan penuh disetiap tahunnya dibulan ramadan, setiap sehari puasa aku akan memberi mereka satu kota megah di surga, aku juga memberi mereka pahala setiap ibadah sunah yang mereka lakukan dibulan itu dengan pahalanya ibadah fardu. Aku juga menjadikan satu malam dibulan itu malam lailatul qadar, siapa yang meminta ampuna waktu itu penuh penyesalan dan membenarkan dengan hatinya, apabila ia mati dimalam itu atau dibulan itu, aku akan memberinya pahala seorang syahid dengan kelipatan tiga puluh”

“Musa, pada umat Muhammad ada sekelompok orang yang mendirikan sebuah kemuliaan, mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selai allah, maka balasan bagi mereka dengan sebab itu adalah balasan yang sama yang diberikan kepada para nabi, rahmatku atas mereka adalah sebuah kepastian, murkaku kepada mereka adalah sebuah ketiadaan, tiada pernah aku menghalangi pintu taubat pada seorangpun dari mereka selagi mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah” [ABNA]

 

______________

dikutip dari kitab at-Tanbih al-ghafiliin

Kisah: Yang Didapat Hatim al-Ashom Selama 33 Tahun Mondok

Hatim al-Ashom ialah seorang diantara bijak bestari terkemuka abad ke-tiga hijriah, kekasih Allah yang masyhur. Mengenai ini, Imam Junaidi al-Baghdadi berkomentar: “Hatim adalah Abu bakar dizamannya”

Syekh Hatim mengarungi ilmu dan kesalehan di bawah bimbingan para guru sufi masyhur dijamannya. Diantara guru yang sangat lama diikuti beliau adalah syekh Syaqiq al-Balkhi. Tiga puluh tiga tahun lamanya beliau menimba ilmu dari Sang Syekh.

Lazimnya seorang guru ingin tahu hal apa saja yang sudah diperoleh oleh muridanya, suatu kali syekh Syaqiq menanyakan perihal apa saja yang sudah Hatim peroleh darinya.

“Apa saja yang sudah engkau pelajari dariku, Hatim?”

“Ada delapan persoalan, syekh”

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..  Tiga puluh tiga tahun umurku habis bersamamu, sementara engkau hanya dapat delapan masalah!”

“Sungguh, ustadz. Aku tidak bohong. Hanya itu yang aku dapat.”

“Apa itu?”

Kemudian Hatim memaparkan delapan masalah yang ia peroleh selama 33 tahun belajarnya itu,

“Pertama: aku melihat, setiap manusia itu pasti mencintai seseorang, sementara ia dan yang dicintainya suatu saat nanti akan masuk liang lahat. Di situ sang kekasih akan meninggalkannya, maka dari itu aku menjadikan amal baik sebagai kekasihku. Ia tidak akan meninggalkanku, akan menemaniku di alam kubur nanti.”

Ahsanta, ya Hatim! Lalu yang kedua?”

“Aku merenungi firman Allah ta’ala: ‘Adapun seorang yang takut pada derajat tuhannya dan menahan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat kembalinya’. Dan aku tahu bahwa firman-Nya adalah kebenaran, maka aku bersungguh-sungguh menahan hawa nafsuku sampai aku senantiasa taat kepada-Nya.

Ketiga, aku melihat setiap manusia memiliki hal berharga pada dirinya, lalau aku membaca firman Allah ta’ala: ‘Apa-apa yang disampingmu akan sirna sementara apa-apa yang di sisi Allah akan abadi’. Maka setiap kali aku mendapatkan sesuatu, segera aku gunakan dijalan Allah agar sesuatu itu abadi di sisi-Nya.

Keempat, aku melihat sungguh para manusia itu selalu berkutat pada harta, kemulianan dan nasab. Aku berpikir, lalu kesimpulanku bahwa tidak ada sesuatu apapun di dalamnya. Kemudian aku menengok firman Allah ta’ala:  ‘Sungguh yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwanya’. Maka aku memilih takwa dengan harapan menjadi mulia di sisi Allah;

Kelima, aku melihat para manusia saling mencela, saling melaknat satu dengan lainnya. Dan muaranya adalah kedengkian. Maka aku kembali menengok firman Allah ta’ala: ‘Aku telah menjatah maisyah mereka dikehidupan dunia itu’. Kemudian aku meninggalkan kedengkian dan menjauhi mereka. Aku yakin bahwa bagian itu datangnya dari Allah maka aku jauhkan diriku dari permusuhan para manusia.

Keenam, aku melihat para manusia saling mendzolimi satu dengan lainnya, kemudian aku menengok firman Allah ta’ala: ‘Sungguh musuh bagi kalian adalah setan, maka jadikanlah ia musuhmu’. Maka yang aku musuhi hanyala setan. Dan aku benar-benar berhati-hati darinya karena Allah sudah menyataknnya, akhirnya aku meninggalkan untuk memusuhi mahluk Allah selainnya.

Ketujuh, aku memperhatikan begitu banyak manusia yang berlebihan mencari makan sampai-sampai mereka merendahkan dirinya dan masuk dalam keharaman. Lalu aku tengok firman Allah ta’ala: ‘Tidaklah ada yang melata di bumi kecuali sudah Allah tanggung rezekinya’ bukankah aku sebagian dari yang melata itu, yang sudah Allah tanggung rezekinya itu? Dari itu maka aku mnyibukkan diri pada tanggunganku kepada Allah dan meninggalkan yang sudah Allah tanggung untukku.

Dan yang terakhir, aku memperhatikan begitu banyak manusia yang menggantungkan perkaranya pada yang lain. menggantungkan kesehatannya pada orang ini, dagangannya pada orang itu dsb. Lalu aku kembali pada firman Allah Ta’ala: ‘Siapa yang bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencukupinya’. Maka akau bertawakkal kepada Allah.

Mendengar penuturan muridnya demikian, Syekh Syaqiq pun memujinya,

“Semoga Allah senantiasa memudahkanmu. Sungguh aku telah menelaah ilmu-ilmu dalam Taurat, Injil, Zabur, Alquran dan aku menemukan bahwa segala macam kebaikan dan keagamaan yang banyak itu berkisar dalam delapan hal yang sudah engkau tuturkan tadi. Maka barang siapa mengamalkannya, sungguh ia telah mengamalkan empat kitab tadi.”(IM)

Dari Kitab Salalim al-Fudola karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Kisah Hikmah: Anjing Dan Serigala

Tatkala wafatnya salah seorang pemimpin Islam, para petinggi Romawi berkumpul untuk merencanakan suatu serangan besar guna menghancurkan pasukan Islam. Seorang diantara mereka berkata,

“ini kesempatan besar bagi kita untuk menghancurkan pasukan Islam, mereka sedang tercerai berai. Saling bermusuhan satu sama lain.”

Menanggapi usulan itu, mereka kemudian berkumpul untuk mematangkan rencana besar tersebut. Mereka semua sepakat bahwa ini adalah kesempatan emas yang sangat langka.
Dari mereka ada seorang bijak yang sangat memahami strategi perang yang kebetulan tidak dapat hadir di situ. Mereka pun mengatakan,

“Untuk memantapkan rencana ini, kita harus membeberkannya padanya.”

Ketika mereka memaparkan apa yang menjadi kesepakatan mereka, ucapnya, “Tidak,aku tidak memandang bahwa rencana ini baik.”
Mereka menanyakan alasannya,

Jawabnya, “Besok alasan itu akan aku sampaikan pada kalian,”

Dihari berikutnya, mereka mendatangi orang bijak ini, untuk menagih apa yang menjadi janjinya,

“Engkau telah berjanji untuk menceritakan alasanmu pada hari ini, alasan yang membuat kami harus mengurungkan apa yang menjadi kesepakatan kami,”

“Ya, aku mendengarnya dan patuh.”

Lalu ia memerintahkan untuk melepaskan dua ekor anjing besar yang telah ia persiapkan, satu sama lain ia adu untuk saling menyerang. Kedua anjing itu pun meloncat, saling menyerang, saling mencakar hingga darah keduanya meleleh. Beberapa waktu kemudian setelah kedua anjing itu lelah berkelahi, ia membuka satu pintu sangkar, ia lepaskan seekor serigala.

Tatkala dua anjing ini melihatnya, keduanya pun berhenti saling menyerang, lalu serentak menyerang serigala itu, satu sama lain bahu membahu untuk mengalahkannya. Sampai keduanya dapat membunuh serigala itu.
Si bijak ini pun mengatakan kepada mereka,

“Perumpamaan atas kalian dan orang-orang muslim ini sebagaimana serigala ini dan anjing-anjing itu. Kekacauan itu akan terus terjadi diantara orang-orang muslim selagi tidak muncul musuh bersama. tatkala muncul seorang agresor dari pihak lain, mereka pun akan mengesampingkan permusuhan, saling bahu membahu untuk mengalahkan musuh.”

Para pemimpin ini pun dapat menerima kedalaman wawasan dan kejelian pemikiran si bijak ini.*(IM)

*Dikutip dari: Konteks Sejarah Islam Dalam Tatanan Global Multipolar, Thom Afandi Muhammad

Kisah Hikmah: Kebijaksanaan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Saat masa Kekhalifaan Bani Umayyah, semua khatib Jumat pasti menyisipkan celaan laknat kepada Sayyidina Ali. Mereka meyakini bahwa hal itu adalah sunnah. Memandang fenomena itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkeinginan menghilangkan tradisi tersebut.

Setelah berpikir beberapa saat, beliau menemukan ide. Diam-diam beliau memanggil Ibnu Hakhan, salah seorang pemuka Yahudi. Setelah hadir beliau mengungkapkan maksudnya,

 “Aku memanggilmu untuk merencanakan sesuatu,”

“Apakah itu?”

Khalifah menjelaskan rencana yang akan dilakukan dan mengarahkan apa yang harus diperankan oleh Ibnu Hakhan. Ibnu Hakhan pun mengiyakannya.

Tibalah hari jumat. Ketika Khalifah sudah naik ke mimbar dan hendak menyampaikan khutbahnya, Ibnu Hakhan yang ikut Hadir itu berdiri dan berkata,

“Wahai, sang pemimpin! Aku punya permintaan untukmu!”

Sontak saja, hal itu membuat para hadirin geram. Mereka membentak-bentak si yahudi Ibnu Hakahan itu dan hendak mengusirnya. Sebegitu lancangnya seorang yahudi menghentikan sang Khalifah yang hendak berkhutbah.

“Biarkan saja,” Seru Khalifah kepada para hadirin.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya khalifah.

 “Aku datang kemari dengan tujuan untuk meminang putrimu. Menjadikannya sebagai istriku!”

Mendengar itu, Khalifah mengeluarkan ekspresi geram dan membentak Ibnu Hakhan,

 “Bagaimana bisa! Sementara kamu seorang Yahudi!”

 “Jika alasannya karena Agama, mengapa nabi kalian menikahkan fatimah Putrinya dengan Ali bin Abi Thalib. Sementara dia kafir!” Jawab Ibnu Hakhan.

Kembali Kahlifah membentak si Ibnu Hakhan,

“Jaga mulutmu hai, Ibnu Hakhan! Ali bin Abi Thalib adalah keponakan nabi, beliau orang yang istimewa dengan berbagai keutamaan-keutamaannya!” Jawab Sang Khalifah sambil menyebutkan keistimewaan-keistimewaan sayyidina Ali.

“Kalau Ali bin Abi Thalib memiliki derajat yang sedemikian tingginya, mengapa setiap Khutbah Jumat kalian senantiasa menghujat dan melaknatnya di atas mimbar?!” seloroh Ibnu Hakhan.

Para Hadirin yang mendengarkannya pun terdiam menyaksikan hujatan si Ibnu Hakhan.

“Baiklah, mulai saat ini sampai seterusnya kami tidak akan menghujat sayyidina Ali lagi.” Jawab Khalifah Umar.

Akhirnya, sang Khalifah menggantinya dengan membaca firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَائِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ*

Berkat skenario sang Khalifah dan Ibnu Hakhan, sejak saat itu tidak terdengar lagi celaan kepada Sayyidina Ali dalam khutbah-khutbah Jumat.

***

Berdakwah dan mengajak kebaikan tidak selamanya harus dengan terang-terangan dan menasihati langsung. Bahkan seringkali melalui strategi atau skenario maksud dakwah lebih mudah untuk tersampaikan. (IM)

*sumber: Syarah Yaqut an-Nafis

Kisah Hikmah; Petuah Bijak Setan

Dikalangan Bani lsrail, ada seorang yang sangat tekun beribadah. kokoh imannya tak mampu digoyahkan, bahkan Setan sendiri sudah berulangkali mencoba menggodanya dengan bujuk-rayunya yang paling ampuh sekalipun, namun tetap saja ia teguh menggenggam ketakwaannya.

Pada suatu hari, si ahli ibadah itu keluar untuk suatu kepentingan. Setan pun membuntutinya, untuk mencari kesempatan menggoda ‘Abid tersebut. Namun, karena orang itu selalu berzikir kepada Allah, setan merasa kesulitan untuk mendekatinya, ia akan terbakar mendengar asmaNya disebut. Untuk menakut-nakuti orang itu, Setan menampakkan batang hidungnya dengan menjelma menjadi singa atau binatang buas lainnya.

Ketika Ahli ibadah itu sedang melaksanakan Salat Setan menjelma menjadi ular, kemudian melilit kakinya sampai ke  kepalanya. Ketika ia bersujud Setan membuka lebar-lebar mulutnya seakan-akan hendak menelan kepala si Ahli ibadah itu Namun, dengan tenang, ahli ibadah itu menyingkirkan ular jelmaan Setan dengan tangannya.

Segala usaha telah dikerahkan, Setan merasa putus asa, kemudian ia berkata kepada orang itu:

“Aku berusaha menggodamu, tetapi tidak pernah berhasil. Kini, aku akan berkawan saja denganmu.”  Ujar Setan, menyerah.

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu.” Ahli ibadah itu menjawab dengan acuh.

“Baiklah bila demikian. Tetapi, tidakkah engkau ingin bertanya kepadaku bagaimana cara aku menyesatkan manusia?”  setan menawarkan jasa.

“Baiklah. Aku bertanya kepadamu bagairnana cara engkau menyesatkan anak turun Adam?” tanya ahli ibadah itu, merasa mendapatkan kesempatan mencuri pengetahuan meski itu datangnya dari setan.

“Aku menyesatkan manusia dengan tiga hal, yaitu pelit, marah dan mabuk. Kepada manusia pelit, yang aku ingatkan bahwa hartanya  sangat sedikit, sehingga ia enggan untuk menafkahkan hartanya. Kepada manusia pemarah, aku mempermainkannya seperti anak kecil yang mempermainkan bola. Adapun kepada pemabuk, aku menuntunnya sesuka hatiku.”  Tukas setan panjang lebar membuka rahasia gerakannya kepada musuh abadinya, manusia. Semoga kita akan selalu diberikan pertolongan untuk bisa lolos dari perangkap setan dan pengikutnya. Amiin. [ABNA]