HomeAngkringKisah Nasehat untuk Pejabat

Kisah Nasehat untuk Pejabat

0 1 likes 14 views share

Zaman digital seperti sekarang ini apapun dari belahan dunia lain bisa kita temukan di tempat. Informasi yang di dapatpun dari berbagai sumber yang keakuratannya di sesuikan dengan tujuan penyebarnya. Sehinga ujaran kebencian atau hoax tak terelakkan.

Ketika ada apapun yang mengenai harga diri atau nama kebesaran akan berbuntut pada permusuhan dan saling caci.

Semua bermula dari diri sendiri, yang betapa egoisnya dalam bertindak, masih mengedepankan kepentingan golongan lebih-lebih pribadi. Tanpa di saring terlebih dahulu menggunakan pikiran dingin baik-buruknya.

halifah Hisyam bin Abdul Malik dilahirkan pada tahun 70 H. Ia termasuk salah satu khalifah yang cerdas, tegas dan pemurah. Salah satu dari Khalifah Bani Ummayah ini juga memiliki selera seni sastra yang cukup tinggi. Selain itu, ia juga suka wewangian dan pakaian indah, hemat, tidak boros, dan tidak mudah ditipu. Khalifah Hisyam juga dikenal dengan penyantun dan bertaqwa.

Pada suatu tempo, ia besertaan dengan rombongan kerajaannya berangkat menuju kota suci Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, sesampainya di Makkah, ia memerintahkan bawahannya;

“datangkan padaku seseorang Sahabat Nabi.”

“ wahai Amirul mukminin, sudah tidak ada lagi Sahabat Nabi yang masih hidup.”

“kalau begitu datang Taabi-‘ien (pengikut Sahabat)”

Pesuruhnyapun memanggilkan permintaan Rajanya itu, ia memanggil Thowus al-Yamany, salah seorang Taabi-‘ien.

Datanglah Thowus al-Yamany, ketika ia masuk untuk menemui Khalifah, ia tidak melepas terompahnya hingga sampai di karpet kebesaran Khalifah yang telah menunggunya, kontan memberi kesan Negatif pada khalifah. Tidak cukup di sini, Thowus al-Yamany juga tidak memberikan salam keagungan dengan ucapan “assalamuilakum wahai Amirul mukminin” justru  ia secara terang menyebut nama Khalifah pada salamnya tanpa menyamarkan nama  aslinya (kunyah) “assalamuilakum wahai Hisyam” bertambah geramlah sang Khalifah.

Setelah itu  Thowus al-Yamany duduk berhadapan langsung dengan Khalifah juga dengan tanpa mencium tangan Khalifah, bahkan tanpa meminta izin. Cukuplah kejadian di depan Khalifah ini membuatnya semakin marah tak terelakkan, sang Khalifah hendak membunuh Thowus al-Yamany, karena geram dengan tindakannya yang di rasa merobek kebesaran seorang Khalifah, tapi beruntung penasehatnya melarang “ engkau berada di tanah haram, tidak mungkin itu di lakukan” Khalifahpun mencoba menenangkan diri dan perasaannya.

“Thowus, apa yang mendorongmu betindak tidak senonoh di hadapannku? “ kata Khalifah memulai percakapan.

memangnya apa yang aku kerjakan ?” jawab Thowus al-Yamany tanpa ada beban sama sekali.

Sekali lagi Khalifah menahan hatinya.

“ kau mencopot terompahmu di pinggir karpetku, kau tidak mencium tanganku, tidak salam dengan salam kehormatan kepadaku ( dengan “assalamuilakum wahai Amirul mukminin” ), menyebut langsung namaku, ”bagaimana kabarmu wahai Hisyam”. Kau duduk di depanku tanpa seizinku.” Ujar Khalifah panjang lebar menerangkan semua kesalahan fatal Thowus al-Yamany sehingga ia harus memberikan alasan yang tepat atas tindakannya kalau tidak mau menerima hukuman.

Sebenarnya Thowus al-Yamany sendiri bukannya tidak tau dengan tindakan dan resikonya, ia hanya ingin menesehati.

” aku mencopot kedua terompahku di pinggir karpetmu, karena aku mencopot keduanya saat menghadap Tuhan yang Maha Mulia saja setiap hari lima kali, tapi Ia tidak menyiksaku dan lagi tidak marah padaku. Aku tidak mencium tanganmu karena aku mendengar Amirul mukminin Ali ibn Abi Tholib berkata “ tidak halal bagi seseorang untuk di cium tangannya kecuali istri dan anaknya karena kasih sayangnya”. Aku tidak mengucapkan salam dengan ucapan kebesaran Khalifah karena orang-orang tidak rela dengan kepemimpinanmu menjadi Khalifah sehingga aku tidak mau bedusta dengan bersalam kebesaran padamu. Aku tidak memanggilmu dengan nama kunnyahmu  (julikan) karena Allah sendiri menyebut nama kekasih, Nabi maupun RosulNya dengan namanya ( tanpa di kunnyahi) seperti ”wahai Daawud..”, “wahai Yahya…”,  “wahai Isa..” akan tetapi Ia menyebut secara nama samar (kunnyah) musuhnya “ Tabbat yadaa Abii Lahab”. aku duduk langsung di hadapannu (tidak berdiri di pinggir seperti layaknya seorang Raja) karena aku mendengar Khalifah Ali ibn Abi Tholib berkata “ jika kalian ingin melihat seseorang ahli neraka maka lihatlah orang yang sedang duduk dan di sekitarnya, Di depannya, samping kanan-kirinya ada banyak orang berdiri (karena memuliakannya sebagai Raja)”

Mendengar dalih panjang Thowus atas semua tindakannya tadi, luluhlah hati Khalifah Hisyam, Ia mulai mewawas diri.

“ nasehatilah aku” pintanya tidak ingin menyia-nyiakan pertemuannya dengan orang yang menjumpai dan pernah bertatap muka dengan sahabat Nabi ini.

“ Aku mendengar Khalifah Ali ibn Abi Tholib berkata “ sesungguhnya di neraka terdapat ular-ular besar dan kalajengking sebesar kerbau, yang siap memakan pemimpin yang tidak berlaku adil pada rakyatnya (orang yang di kuasainya)”

Setelah mendengar nasehat yang memilukan ini, Sang Khalifah sontak berdiri dan tersungkur tak sadarkan diri.