Tag Archives: kisah hikmah

Kisah Hikmah: Penjaga Kebun Yang Jujur

Nuh bin Maryam namanya, ia merupakan seorang tokoh Masyarakat sekaligus kadi yang mempunyai kedudukan tinggi. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita dan nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan idaman. Lazimnya bunga desa, begitu banyak laki-laki yang ingin meminangnya mulai dari pengusaha, konglomerat dan orang-orang terpandang lainnya. Namun dari sekian banyak lamaran yang datang itu, tidak ada yang Nuh bin Maryam iyakan. Ia bingung, orang seperti apakah yang akan ia terima untuk putrinya itu.

Selain itu, Nuh bin Maryam juga memiliki perkebunan dan budak berkulit hitam yang bernama Abdullah. Suatu kali ia menugaskan budaknya itu untuk menjaga perkebunannya.

Selang dua bulan, Nuh bin Maryam mendatangi kebunnya. Penasaran dengan hasil perkebunannya, ia memerintahkan Abdullah untuk mengambil barang satu atau dua anggur untuknya.

Abdullah beranjak dan memetikkan anggur untuk tuannya. Namun naas, Anggur yang ia petik ternyata rasanya asam. Sang tuan pun kembali menyuruh Abdullah untuk mengambilkannya yang lain. untuk kedua kalinya, Anggur yang diambilkan Abdullah itu tidak manis.

Melihat ketidakbecusan budaknya itu, Nuh bin Maryam pun menghardiknya,

“Kenapa engkau selalu membawakanku yang masih asam, bukankah buahnya banyak?!”

“Maaf, tuan. Saya tidak tahu mana yang manis dan mana yang asam.” Jawab Abdullah seadanya.

Subhanallah! Dua bulan kamu di sini dan kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang tidak!”

“Sungguh, tuan. Saya tidak pernah mencicipinya sedikit pun.”

“Memang ada apa?”

Tanya Nuh bin Maryam.

“Saya tidak ingin menghianati tuan dan menyalahi perintah, sementara tuan hanya menugaskanku untuk menjaganya saja. Bukan untuk memakannya.”

Mendengar jawaban tersebut, Nuh bin Maryam terkagum-kagum akan kejujuran dan sikap amanah budaknya itu. Kemudian ia berkata,

“Keteguhan sikapmu telah membuatku tertarik. Aku hendak menuturkan sesuatu padamu, tapi harus engkau laksanakan.”

“Sudah kewajibanku untuk taat kepada Allah dan menjalankan perintahmu, tuan.”

Kemudian Nuh bin Maryam menuturkan perihal kebingungannya untuk memilihkan pasangan bagi putrinya itu.

“Aku memiliki seorang putri yang amat cantik. Sudah banyak orang yang melamarnya, mulai dari orang kaya, konglomerat sampai orang-orang terpandang. Namun hingga sekarang aku masih bingung dengan siapa ia hendak aku nikahkan. Aku ingin meminta pendapatmu tentang hal ini.”

“Tuanku, tentang hal ini, dijaman jahiliah orang-orang memilih asal, nasab, agama dan pangkat. Sementara orang Yahudi dan Nasrani lebih condong pada kecantikan dan ketampanan. Lalu dijaman Rasulullah yang dikedepankan adalah agama dan ketakwaannya, dan saat ini orang-orang lebih condong pada harta dan kekuasaan. Silahkan tuan pilih diantara kriteria itu.”

“Kalau begitu, aku memilih agama dan ketakwaan. Dan sekalian aku juga memilihmu untuk kunikahkan dengan putriku. Karena sungguh dalam dirimu ada agama dan ketakwaan.”

Mendengar jawaban tuannya yang demikian, Abdullah menjawab,

“Saya hanya seorang hamba sahaya berkulit hitam, tuanku. Yang dulu tuan beli dengan harta. Adakah pantas besanding dengan putri tuan, dan tentu saja putri tuan pun akan menolaknya.”

“Sudah, kamu ikut saya ke rumah.”

Jawab tuannya singkat.

Setelah sampai, sang kadi pun berkata kepada istrinya,

“Sungguh pemuda ini merupakan anak yang saleh dan bertakwa, aku ingin menikahkan putri kita dengannya. Bagaimana menurutmu?”

“Semuanya aku pasrahkan padamu. Tapi kalau begitu, tunggu, aku ingin menyampaikannya dulu kepada putri kita tentang rencana ini.”

Kemudian sang istri pun menemui putrinya dan menyampaikan rencana tersebut.

“Apa kehendak ibu dan ayah, aku ikut. Aku tidak ingin jadi anak yang durhaka.”

Mendengar itu, si istri pun kembali dan mengabarkannya kepada Nuh bin Maryam.

Akhir kisah, Nuh bin Maryam dengan segala keagungan dan kekayaanya menjatuhkan pilihannya pada seorang Abdullah yang hanya hamba sahaya belaka. Nuh bin Maryam lebih memilih kekayaan abadi (kesalehan dan ketakwaan) ketimbang mengedepankan kekayaan sementara (harta, pangkat dsb.)

“Sama kebun saja amanah, apa lagi sama perempuan” sederhananya seperti itu mungkin.(IM)

-Disarikan dari kitab anNawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qulyubi

Makan Siang Rasulullah

Dalam suatu perjalanan, Rasulullah saw. beserta para sahabatnya berhenti di suatu tempat untuk beristirahat dan makan siang. Beliau memerintahkan para sahabat untuk menyembelih seekor kambing dan mempersiapkannya.

Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Biar aku yang menyembelihnya”

Yang lain menimpali, “Aku yang mengulitinya.”

Seorang sahabat lagi berkata, “Aku yang memasaknya”

Melihat hal tersebut, Rasulullah pun berkata, “Aku yang akan mencarikan kayu bakar dan menyalakan apinya untuk kalian”

Mendengar perkataan Rasulullah demikian, tentu saja para sahabat tidak rela sang junjungannya sampai ikut repot mempersiapkan makanan.

“Tidak usahlah baginda merepotkan diri seperti itu, biar kami saja yang mencari kayu dan mempersiapkan apinya.

Demi mendengar permintaan para sahabatnya itu, Rasulullah menjawab,

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin melebih-lebihkan diriku diantara kalian dan terlalu bergantung kepada orang lain. Karena, sungguh, Allah tidak mencintai kepada hambanya yang gemar melebih-lebihkan diri dan suka bergantung kepada orang lain.”*

Padahal beliau sudah mulia sejak sebelum dunia diciptakan, namun itulah diantara atom percikan Khuluqin ‘Adzim yang Allah swt firmankan dalam kitab-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 “Sungguh engkau benar-benar berbudi pekerti luhur.”

*Diterjemahkan dari kitab Muhammad al-Insan al-Kamil, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani hal. 171.

Nasehat Uwais Al- Qarni

Suatu saat Harim bin Hayyan, seorang saleh di tanah Arab jauh-jauh datang ke Kufah, Irak, untuk memenuhi satu-satunya cita-cita: bertemu Uways Al Qarni.

Telah ia kenal kisah kesalehan Uways Al Qarni. Bagaimana Rasulullah tak satu kalipun bertemu dengannya, namun oleh Rasulullah ia disebut sebagai pengguncang dunia langit. Bagaimana Umar bin Khattab berkali-kali menitipkan salam pada jamaahnya untuk disampaikan kepada Uways Al Qarni, nun jauh di Qaran, Irak.

Harim bin Hayyan mencari-carinya ke berbagai penjuru, hingga kemudian tertegunlah ia di tepi sungai Eufrat. Seseorang sedang berwudu dan mencuci pakaiannya. Seketika ia menerka, “ini pasti Uways Al Qarni yang aku cari.” Pakaiannya kumuh. Wajahnya lusuh. Tapi benar. Itulah Uways Al Qarni, Sang Majnun (Orang Gila).

“Suatu kebahagiaan bertemu denganmu, wahai Uways. Bagaimana kabarmu?” Tak diduga, yang ditanya hanya diam. Ia juga tak menjabat tangan Harim yang dijulurkan padanya. Harim, yang telah meluap-luap rasa cintanya karena telah bertemu dengan yang dirindukannya, menangis di hadapan Uways.

Uways menangis pula. Hingga kemudian ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Harim bin Hayyan. Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menunjukkan diriku padamu?”

Harim terheran-heran. Bagaimana bisa Uways al Qarni mengenalnya. Mengenal nama ayahnya, sementara keduanya belum sekalipun pernah bertemu?

Dengan pandangan sejuknya Uways Al Qarni menjawab keheranan itu. “Jiwa kita saling mengenal ketika masing-masing hati kita saling berbicara. Sungguh, di dalam jiwa kita terdapat hati sebagaimana hati manusia. Sesama orang beriman pastilah saling mengenal dan saling mencinta atas pertolongan Allah. Meski tak pernah bertemu, tak pernah memandang, tak pernah berbincang. Meski terhalang rumah-rumah. Meski terpaut jarak dan lembah.”

“Maka sampaikan padaku hadits Rasulullah wahai Uways,” Kesempatan bertemu itu tak disia-siakan oleh Harim bin Hayyan. Ia ingin mendapatkan kesejukan kalimat-kalimat dari lelaki bijak itu.

“Tak sekalipun aku bertemu dengan Rasulullah. Tapi, telah sampai kepadaku juga ucapan-ucapannya, sebagaimana yang telah sampai kepada kalian. Namun, aku bukanlah orang yang suka bercerita. Bukan penentu hukum. Pun bukan pemberi fatwa. Hatiku tak ingin dipenuhi urusan manusia.”

“Maka sampaikan padaku firman Allah, Sungguh aku mencintaimu karena Allah. Maka sampaikan padaku sehingga aku bisa menjaganya, memegang pesan-pesannya.”

Uways al Qarni mengalah. Ia mulai membaca basmalah. Seketika ia menjerit. Menangis. “Tuhan telah berfirman. Ucapan paling benar adalah ucapanNya. Kalam yang paling indah adalah kalamNya.”

“Wahai Harim bin Hayyan. Inilah wasiatku padamu. Berpegangteguhlah pada Kitab Allah dan orang-orang shaleh. Jangan sekali-kali hatimu berpaling darinya, sekejap mata pun. Takutlah berpisah dari jamaah. Perpisahanmu dengan mereka adalah berpisahnya agamamu. Kau tak akan mendapatkan pengetahuan dan masuklah kau ke neraka.”

Uways kemudian berdoa, “wahai Tuhanku, Harim mencintaiku karenaMu, ia menemuiku karenaMu, maka pertemukanlah diriku dengannya di surga kelak. Jagalah ia di dunia sebagaimana mestinya. Mudahkanlah ia dalam urusan dunia, jadikanlah ia orang yang mensyukuri setiap nikmat yang kau berikan.”

Doa itu menggembirakan hati Harim bin Hayyan. Siapa yang tidak bergembira ketika ia didoakan oleh kekasihnya, manusia yang dunia langit bergemuruh ketika disebut-sebut namanya?

Namun kegembiraan itu berlangsung begitu singkat. Karena setelahnya, Uways mengucapkan kalimat yang tidak disangka-sangkanya, “Wahai Harim. Sungguh aku membenci keramaian dan mencintai kesendirian. Maka jangan mencariku setelah ini. Ketahuilah, aku bagian dari dirimu. Ingat-ingatlah aku, doakan aku. Karena aku akan selalu mengingat dan mendoakanmu.”

Harim terperangah. Ia menangis. Uways menangis. Tak lama kemudian, mereka berpisah.

“Betapa setelahnya aku mencari-carinya,” kisah  Harim ketika mengenang kisah hari itu. “Bertanya ke mana-mana. Tak kutemui seorangpun yang bisa memberi kabar tentangnya.”

Uqala-ul Majanin, Abu Qasim al-Hasan, Dar an-Nafais, hlm. 95-97.

Taubat, Seorang Tunasusila Lahirkan Nabi

Sebuah cerita unik tempo dulu dari kaum bani Israel, tentang seorang tunasusila. Wanita cantik jelita yang kehadirannya meresahkan orang disekitar karena keelokan paras dan penampilannya.Wanita ini selalu duduk di depan ruang rumahnya dengan pose yang menggoda, pintu rumahnya selalu terbuka, sehingga orang yang lewat akan melihatnya dari luar sehingga terpesona.

Setiap orang yang ingin masuk kerumah wanita ini dikenakan “tarif”. meski demikian, banyak orang yang tertarik untuk bisa masuk kerumah tersebut.

Suatu kesempatan, tanpa disengaja seorang ahli ibadah lewat di depan rumah wanita itu, matanya sampai juga ke dalam isi rumah itu. Saat yang sama wanita tersebut sedang duduk di atas dipannya. Serr, desiran setan mendesir hebat dalam hati Si ahli ibadah itu, dengan susah payah ia berdoa dan memaksakan diri untuk menghilangkan godaan setan dalam hatinya. Lama sekali.

Namun gagal, gejolak hatinya terus mengajak serong. mengakui kalah, tanpa basa-basi ia menjual perkakas rumah yang ia punya guna membeli “tiket” masuk, setelah terkumpul dan cukup untuk membeli, ia pun pergi menemui wanita tersebut.

Ia serahkan segepok uang kepada penjaga kasir yang ada di depan rumah, sedangkan  si wanita menyuruhnya untuk sejenak menunggu, ia akan mempersiapkan diri untuk menyambut sang tamu, ia berbenah, memoles wajahnya dan mengenakan pakaian yang terbaik.

Setelah dirasa cukup, ia duduk seperti biasanya, lalu menyuruh ahli ibadah tadi untuk masuk. Setelah masuk, ahli ibadah tadi segera duduk berdampingan dengan wanita yang diharap-harapkan ini. Tanpa selang panjang, ia julurkan tangannya untuk meraih tubuh perempuan di sampingnya tersebut.

Tiba-tiba, belum saja melakukan hal-hal dusta, sampai akhirnya datanglah kasih sayang Allah kepada ahli ibadah ini, berkat ibadah-ibadah yang ia lakukan waktu dulu, terbersit dalam hatinya bahwa Allah mengawasi semua yang ia perbuat.

Bahwa aku sekarang berada pada perilaku yang terlarang. Amal ibadahku akan lebur tak tersisa. Hatinya bergetar hebat, rasa takut yang dahsyat ia alami, raut mukanya berubah drastis, pucat pasi, tubuhnya geloyoran.

Melihat perubahan-perubahan yang dialami pria disampinya, wanita ini bertanya

Ada apa denganmu?”

“Aku takut kepada Tuhanku, izinkan aku keluar dari sini,”  jawabnya.

“Kamu gila, banyak orang yang ingin menikmatiku, mereka hanya bisa menelan ludah tak kesampaian.  sedangkan kamu sekarang sudah berada disini malah ingin keluar sebelum melakukan apa-apa,” Tukas wanita tersebut merasa heran dengan apa yang terjadi di hadapannya.

Aku takut Allah. sudah, uang yang kuberikan kepadamu halal untuk kau miliki, sekarang izinkan aku keluar dari sini,” kata si ahli ibadah kukuh pada pendiriannya.

Apa engkau belum pernah melakukan hal ini sebelumnya?” tanya si wanita penasaran dengan sikap ahli ibadah.

Belum.

Dari mana asalmu? dan siapa namamu?” tanya si wanita menyelidik.

Dari daerah ini, namaku ini,” jawabnya tak sabar ingin cepat enyah dari tempat maksiat ini.

Dengan terpaksa wanita tersebut merelaka pria ahli ibadah ini keluar rumah, setelah keluar ia langsung menyerapahi dirinya, kenapa ia begitu bodohnya melakukan hal yang keji ini, penyesalan yang sangat mendalam ia rasakan, ia menangis, ia raup segenggam pasir lalu menyawurkan di kepalanya.

Diwaktu bersamaan, dengan perantara keberkahan ahli ibadah ini, wanita lajang tadi merasakan guncangan batin yang tak kalah hebatnya. Tiba-tiba rasa takut menyelimutinya.

“Laki-laki ini baru saja melakukan satu dosa kecil, namun ia sudah merasakan ketakutan yang mencengangkan, sedangkan aku sudah tak terhitung jumlah dosa yang kuperbuat, sekian tahun lamanya, tak merasakan apa-apa. padahal Tuhan yang ia takuti pun adalah Tuhanku juga. Seharusnya akulah yang lebih merasakan takut dibanding laki-laki ini.”

Setelah kejadian batin ini, ia pun bertobat dari perbuatannya, ia kunci pintu rumahnya dari yang sebelumnya selalu terbuka bagi siapapun. Ia mulai menutup auratnya rapat-rapat dari yang sebelumnya selalu menggoda bagi siapa yang melihat. Ia lekas mengabdikan diri untuk beribadah dengan sepenuh penyesalan.

Setelah sekian lama ia ibadah, terbersit dalam hatinya “Kenapa aku tidak mendatangi laki-laki yang kemarin datang kepadaku itu, siapa tahu ia mau menikahiku, sehingga aku bisa belajar darinya tentang agama, dan ia akan menjagaku.”

Segeralah ia mempersiapkan diri dengan membawa semua harta dan pelayannya, sampailah ia disebuah daerah yang disebut laki-laki itu dulu. Setelah sedikit bertanya dimana rumah ahli ibadah itu, dipanggillah ia bahwa ada seorang wanita yang mencarinya.

Keluarlah si ahli ibadah tadi dari tempat ibadahnya, setelah mereka berhadapan, si wanita membuka penutup wajahnya, seketika ahli ibadah tahu siapa gerangan wanita dihadapannya ini.

Memori masa lalu antar keduanya terekam kembali dalam benaknya. Takut terjadi hal-hal lain. Seketika ia teriak dengan sangat keras, sampai akhirnya ruhnya keluar dari jasad, mati.

Sedih sekali si wanita itu, ia menempuh perjalanan jauh supaya dinikahi oleh laki-laki idamannya dan menjadi seorang hamba yang taat namun setelah bertemu ia meninggal.

Ia tak ingin jerih payahnya tak menghasilkan apa-apa “Adakah dari kerabat laki-laki ini yang mau dengan wanita seperti saya,” tanyanya kepada orang disekitar. menawarkan diri.

“Ia mempunyai saudara laki-laki, hanya saja saudaranya ini sangatlah miskin,” jawab masyarakat sekitar.

“Tak apa, aku mempunyai banyak harta untuk keperluannya.”

Segera ia mencari kerabat laki-laki tadi, singkat cerita merekapun sepakat menjalin hubungan keluarga, setelah waktu berselang, pasangan ini dikarunia tujuh orang anak, yang ternyata kelak dari ketujuhnya semua menjadi nabi yang diutus kepada kaum bani israel.

Subhanallah. Dahsyatnya taubat yang didasari atas ketulusan, semoga kita mampu dengan segera bertaubat dari dosa-dosa setiap harinya. Amiin [ABNA]

Ulama dan Umara, Kepercayaan Demi Kemaslahatan

Setelah tiga abad lebih menjadi negara terjajah, negeri ini akhirnya dapat mengibarkan merah putih dengan tangis haru dan pilu bersama meneriakkan proklamasi.

Seumur jagung kemerdekaan diproklamirkan, blok sekutu datang untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Pesawat terbang meraung-raung diatas Kota Surabaya.

Artileri super canggih didatangkan untuk bermanuver dan mengancam pribumi dalam operasi gagak. Namun kita telah akrab dengan debu perjuangan, tidak lagi takut dengan kematian. Tidak lagi gamang untuk maju perang.

Dan refolusi jihad pun diterbitkan, oleh Rais Nahdlatul Ulama Kyai Hasyim Asyari bersambut dengan ribuan santri yang dikirim ke Surabaya. 10 November 1945, sepuluh santri jadi martir untuk mimpi merdeka, setelah sebelumnya pada 22 oktober 1945  Kyai Hasyim asyari berkata :

“orang yang mati membela tanah air dari serangan penjajah adalah mati syahid”

Mimpi itu telah menjadi nyata, kini kita telah bertempat tinggal ditanah kelahiran sebagai pemilik dan tuan. Bukan budak di kampung halaman. Ini adalah hadiah terindah para pejuang. Hadiah pengorbanan jiwa, raga juga nyawa.Buah kesabaran untuk sebuah tawa yang menjadi nyata dari para santri dan ulama untuk Indonesia.

Sekelumit kisah pengorbanan ulama dan santri untuk indonesia dan tercetusnya Hari Santri yang baru saja kita peringati. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu para ulama sangatlah penting bagi indonesia. Mereka tidak hanya duduk mengaji dan mengkaji kitab suci, tetapi merekapun berdiri tanpa  jeri melawan penjajah negeri.

Mereka tidak hanya salat puluhan rakaat, tetapi merekapun menjembatani kemerdekaan indonesia dengan tirakat. Padahal ulama adalah pemegang kekuasaan informal yang tugas utamanya adalah mendakwahkan agama dan mengajarkannya. Tapi dedikasi mereka kepada negara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sedangkan pemegang kekuasaan formal adalah para umara. Lantas para umara yang seperti yang kita harapkan untuk indonesia? Yang bijaksana, yang bergaya ulama atau yang merakyat? Tetapi, adakah pemimpin yang adil dan bijaksana dizaman ini?

Bahwasannya, periodisasi pemimpin umat islam terbagi menjadi 4 masa. Masa yang pertama adalah masa Khulafa al-Rasyidin. Masa kedua yaitu Mulkan ‘Addlan yang artinya raja yang menggigit, para pemimpin atau khalifah pada masa ini masih menjadikan hukum islam (al-Quran dan Hadis) sebagai dasar pemerintah mereka.

Tetapi kebersamaan mereka terhadap hukum islam ini sebatas menggigit, bukan memegang dengan kokoh. Masa ini terjadi pada masa Daulah Bani Ummayyah dan berakhir pada masa Daulah Turki Utsmani.

Lalu masa yang ketiga yaitu Mulkan jabriyah yang artinya raja yang memaksa atau diktator. Pada masa ini benar-benar telah melepaskan islam dalam sistem pemerintahannya, atau mencampur adukkan antara hukum islam dengan hukum positif buatan manusia.

Jika kediktatoran negeri-negeri non muslim terjadi karena memang ideologi mereka bukan islam, maka lain lagi dengan negeri-negeri mulsim. Di negeri-negeri muslim mereka masih mengaku muslim, nama-nama mereka muslim, namun hakikat yang berjalan pada sistem pemerintahan mereka adalah jahiliyah. Kalaupun ada sebagian hukum islam yang diterapkan, maka itu hanya pada bagian ritual saja –undang-undang perdata- itupun dengan praktek yang kurang sesuai.

Periode ini ditandai dengan munculnya ideologi komunis dan marxisme di Rusia dan China atau ideologi fasis di Jerman. Sebutlah Stalin, Lenin, Karl Marx dan Adolf Hitler, julukan dictator telah melekat pada nama mereka dalam sudut-sudut buku sejarah dunia.

Di Indonesia bapak presiden Soeharto adalah nama yang sering dikait-kaitkan dengan kediktatoran pada masa ini. Selama 32 tahun memimpin tak tergantikan. Seakan ia adalah pemilik mutlak sebuah kekuasaan.

Sedangkan masa yang keempat yaitu Khilafah Ala Minhaj an-Nubuwwah, artinya kepemimpinan yang lurus, hal ini terjadi pada zaman kemunculan Nabi Isa As. Dan Imam Mahdi.

Keempat periodisasi ini adalah sabda Nabi Saw. Kepada satu-satunya Sahabat pemegang rahasia Rasulullah, Hudzaifah Bin Yaman.

Sekarang kita aplikasikan hadis tersebut dengan realita kehidupan sesungguhnya, yang menandakan bahwa kita berada pada masa periodisasi yang ke-3, Malkan Jabariyaah. Jika kita bandingkan sistem pemerintahan yang terjadi kini dengan yang telah dijelaskan diatas, maka terdapat banyak sekali persamaan.

Pemerintah yang telah dijejali dengan hukum-hukum buatan manusia dan praktek-praktek kehidupan berpolitik yang berliku tak karuan. Contoh yang dapat kita amati langsung adalah saat proses kampanye. Visi-Misi Paslon diteriakkan, janji-janji politik diumbar, benar-benar diumbar. Sebab janji adalah pesona. Diatas kertas atau dipinggir-pinggir jalan janji tidak punya pengaruh apa-apa. Tak ada sanksi hukum yang berarti. Yang terpenting adalah meraih kekuasaan negeri.

Toh dari seratus macam janji yang akan terpenuhi dan terasa oleh rakyat negeri hanya beberapa puluh persen saja. Padahal janji adalah ikatan yang hanya bisa dilepaskan dengan menepatinya. Dan janji adalah hutang yang harus dibayar dengan memenuhinya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para ulama dan umara pada zaman ini, zaman yang telah disabdakan Nabi Saw. Akan terjadi. Ulama dan umara adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Mereka berdua harus selalu bergandengan menuju satu tujuan yakni kemaslahatan.

Imam Ghazali berkata “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga atau pengawal. Apa-apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa-apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap.”

Diantara keduanya tidak boleh ada rasa benci, apalagi iri akan kekuasaan yang dimiliki masing-masing pihak. Para umara harus memuliakan para ulama, karena ulama adalah guru mereka. Ulama yang masyhur maupun tidak, semua sama.

Mereka adalah pewaris ajaran yang dibawa nabi. Mereka mulia bukan karena kemasyhuran ataupun kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulia karena ilmulah yang memuliakan mereka. Tidak ada ulama yang mengajarkan kesesatan. Sehingga umara tidak perlu repot-repot membuat daftar para ulama yang boleh didengar tausyiahnya oleh rakyat.

Karena ulama mengajarkan ajaran agama yang mengajarkan toleransi. Kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan dan menganjurkan persatuan. Hal-hal inilah yang didengungkan para ulama kepada umara. Dengan retorika dakwah yang mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul dan mendidik bukan menghardik.

Jangan sampai ada rasa iri antar keduanya, karena hal tersebut akan menjadi virus yang jika masuk pada penguasa maka akan membuat kebijakannya menjadi belati bermata dua. Jika masuk dalam kalbu ulama akan membuat infeksi ilmunya. Dan niat akhirat yang lillah akan menjadi niat dunia yang linnas.Dengki itu juga akan mengundang saudaranya, kecongkaan, kejahatan serta dusta, fitnah dan bahkan perang saudara.

Adapun para ulama adalah penasehat para penguasa zaman ini. Karena umara hanyalah menduduki dan menjalankan pemerintahan yang sudah ada. Adapun kebijakan-kebijakan baru yang terjadi adalah tergantung kecerdasan, kecerdikan dan kearifan penguasa tersebut.

Kecintaan rakyat pada pemimpinnya tergantung sikap dan tutur katanya. Kepedulian ulama kepada pengusa tergantung pada akhlak dan keadilannya. Ulama sudah tentu umara, tapi umara belum tentu ulama. Karena ulama adalah pemimpin umat. Sedangkan umara adalah pemimpin rakyat.

Jika ada ulama yang menginginkan kedudukan sebagai umara maka ia berada dijembatan penentuan. Jika ia tetap bisa berakhlak dan beramal sebagaimana biasanya maka kemuliaan akan tetap tampak pada dirinya. Namun jika ia tersibukkan dengan kesibukan dunia dan mengurangi amaliah akhiratnya, maka seiring terperdayanya ia pada dunia tersebut, seiring itu pula kemuliaan akan luntur dari wajahnya.

Maka jika ulama menginginkan kemaslahatan negaranya, ia harus pandai-pandai menyetir umaranya, karena ulama adalah sebaik-baiknya penasehat umara. Mari berkaca pada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, selama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Khalifah Ali menjabat sebagai penasehat utama khalifah.

Maka secara tidak langsung, kesuksesan yang diraih oleh tiga khalifah sebelumnya adalah juga karena Khalifah Ali. Jadi dibalik kemaslahatan sebuah negara adalah karena nasehat para ulamanya. Dibalik kesuksesan seorang umara adalah karena kecintaan pada ulamanya.

Sejak Daulah Turki Utsmani gulung tikar dan masa periodisasi Mulkan Jabriyah menebarkan layangnya, sejak itulah propaganda yang mengadudomba islam dan pemerintah. pada tahun 1936 M Cristian Snouck Hurgronje mencetuskan politik devide et impera. Ia mencegah kelompok-kelompok kecil menjadi kelompok-kelompok yang lebih besar dan kuat. ia juga memecah belah kelompok-kelompok besar menjadi kelompok kecil.

Ia mengatakan; pecah kekuatan ulama dengan para bangsawan penguasa. Biarkan islam berkembang asalkan hanya pada ritual ibadahnya saja, namun segera berangus jika ada kekuatan islam politik. Sebab itu ancaman riil bagi pemerintahan.

Karena merutnya islam tidak bisa dikalahkan dengan serangan ofensif. Untuk menghancurkannya, pecah belah mereka dengan masalah kekuasaan, kesukuan, kelompok dan sekte. Serang kelompok-kelompok fanatik dengan budaya dan media maya.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal masa kepemimpinan zaman ini, hukum-hukum islam sedikit demi sedikit tergerus dari sistem pemerintahan. Lalu bagaimana sikap para ulama mengenai hukum pemerintahan pada masa ini.

Menurut Imam Taqiyuddin yang mengutip pendapat Imam Al-Ghazali ; keberadaan syarat-syarat secara utuh dan komprehensif adalah sulit bagi umat islam zaman sekarang. Karena sudah tidak ada mujtahid yang independen.

Dengan demikian rakyat harus merealisasikan dan mematuhi semua keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan penguasa meski penguasa tersebut bodoh atau fasik. Ini agar kepentingan dan kemaslahatan umat terpenuhi.

Senada dengan pendapat diatas. Sayyid abdurrahman bin Husein bin Umar Ba’alawy berpendapat, setiap tempat yang pernah dihuni oleh umat islam dengan nyaman dan aman, disatu masa dimana hukum-hukum dan keadilan dapat ditegakkan meski pemerintahannya fasik tetaplah harus patuh demi terjaganya kemaslahatan.

Jika para ulama melawan atau menentangnya, hal ini dapat menyulut timbulnya islam radikal atau bahkan terorisme. Dan ini akan menambah permasalahan bagi pemerintah. Karena terbentuknya kelompok-kelompok ini bersifat memberontak yang mengatasnamakan agama islam.

Para ulama dan umara haruslah saling bahu-membahu membentuk sebuah kepercayaan demi kemaslahatan. Sebab jika tidak ada kepercayaan maka yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Seperti terbentuknya daulah Islam Iraq atau yang lebih kita kenal dengan Islamic State of Iran and Syiria oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Kelompok islam radikal ini melawan dan menjatuhkan rezim Bashar Asad dan Hafidh Asad di Suriah.

Ini hanya pandangan kecil yang kita lihat. Jika lebih lebar, sebenarnya ISIS adalah bentuk kerjasama antara Inggris, Amerika dan Israel. Untuk membentuk organisasi teroris. Kekuatan dunia bertemu dan mengadu seluruh kekuatan islam untuk dikubur di bumi Syam.

Beberapa pemimpin Timur Tengah yang jatuh akibat terbentuknya Islam radikal ini yaitu Rezim Ben Aly di Tunisia, rezim Husni Mubarak di Mesir, rezim Muammar Khadafi di Libya, rezim Ali Abdullah Salim di Yaman rezim Irak dan juga Afganistan.

Dan yang perlu digaris bawahi, bahwa semua kejadian ini setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika. Nama Osama bin Laden dan al-Qaeda ramai dibicarakan. Nama islampun dipertaruhkan. Semua kelompok islam tidak pernah mengakui melahirkannya.Tapi mata dunia menuding pada islam, dan ulama-ulama pesantren dituduh sebagai pelopor para teroris dunia.

Inilah mungkin yang akan terjadi jika ulama dan umara dalam satu negara tidak berjalan bersama. Banyaknya propaganda yang mengadu domba menjadi bayang-bayang perpecahan islam dan pemerintahan.

Karena pada kenyataannya kini banyak yang ingin benegara didalam negara. Berdemokrasi didalam demokrasi. Mereka menganggap bahwa politik pemerintahan adalah politik kotor yang dijalankan untuk membodohi rakyat melalui kekuasaan yang dimiliki penguasa.

Padahal pada kenyataannya zaman yang demikian telah ternas dalam hadis jauh sebelumnya. Maka, kini kemaslahatan suatu negara tergantung pada keharmonisan ulama dan umaranya. Berjalan beriringan melangkah bersama menapaki masa didetik-detik akhir masa dunia.

Dimana kepercayaan sangatlah dibutuhkan disaat banyak mata-mata mendelik tajam mencari celah kesalahan, untuk kemudian menjadikannya modal melakukan sebuah perlawanan hingga berujung pada sebuah kata perpecahan. Sehingga kata kemaslahatan hanya akan menjadi harapan yang tak pernah ada dalam genggaman.

 

_______________________

Oleh : Yulia Makarti

Asal : Sulawesi Tenggara

Kamar : Ar-Rayyan, P3TQ

Kelas : Umdah (Ula II)

 

Sebagai Juara Kedua Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra