Tag Archives: najis

Hukum Parfum dan Obat-obatan Beralkohol

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam dunia kedokteran ataupun dalam parfum berbagai kemasan, tak jarang ditemukan keterangan mengenai alkohol sebagai salah satu campuran produk tersebut. Bagaimanakah hukumnya? Mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arinal Haq, Jombang- Jawa Timur)

___________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Tidak ada keterangan definitif nash al-Quran, Sunnah,dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai alkohol. Ketika tersebar luas keberadaannya, terjadi perbedaan pandangan mengenai hukumnya. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori minuman yang memabukkan. Sebagai perkara yang memabukkan (muskir) dengan karakteristik cair, alkohol statusnya adalah najis. Namun apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan maupun pelarut parfum, maka hukumnya najis namun ditolerir oleh syariat (Ma’fu). Sebagaimana penjelasan Syekh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنِ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ قِيَاسًا عَلَى الْأَنْفَحَةِ الْمَصْلَحَةِ لِلْجُبْنِ

Termasuk bagian dari barang-barang najis yang ditolerir adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup dengan kadar yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogikan pada aroma yang digunakan untuk memperbaiki keju”.[1]

Dalam sudut pandang lain, Imam as-Syarqowi mengemukakan pendapatnya dalam kitab Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir:

وَاَمَّا لَوِ اسْتَهْلَكَتِ الْخَمْرَةُ فِي الدَّوَاءِ بِاَنْ لَمْ يَبْقَ لَهَا وَصْفٌ فَلَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهَا كَصَرْفِ بَاقِي النَّجَاسَاتِ هَذَا اِنْ عُرِفَ اَوْ اَخْبَرَهُ طَبِيْبٌ عَدْلٌ

Dan adapun apabila arak dilarutkan di dalam obat sehingga tidak ditemukan lagi sifat asli yang dimiliki (arak) tersebut, maka tidak haram menggunakannya, seperti najis lain yang murni. Hukum ini berlaku jika diketahui atau diberitakan oleh seorang dokter (pakar kimia) yang adil”.[2]

Dengan demikian, penggunaan alkohol dalam berbagai produk kedokteran dan kecantikan diperbolehkan. Namun dalam rangka kehati-hatian (Ikhtiyat), alangkah baiknya untuk menghindari parfum beralkohol dalam penggunaan yang berkaitan dengan ibadah, semisal salat atau sesamanya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, I/15.

[2] Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir, II/449.

Hukum Mencuci Menggunakan Mesin Cuci

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kepada admin yang terhormat, mohon penjelasannya mengenai hukum mencuci dengan menggunakan mesin cuci apakah sudah dianggap suci? Terima kasih.

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.

(Kholifah, Banyuwangi-Jawa Timur)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebagian orang masih enggan menggunakan mesin cuci. Mereka beranggapan bahwa kesucian pakaian yang dicuci menggunakan mesin cuci patut dipertanyakan. Anggapan tersebut bermula karena air yang digunakan dalam mesin cuci terbilang sedikit, sehingga airnya dianggap najis dan tidak bisa mensucikan. .

Faktanya, tata cara mensucikan dan membilas pakaian dalam fikih amatlah sederhana. Air yang dibutuhkan pun tidak perlu sebanyak dua qullah (kurang lebih 216 liter), karena yang terpenting airnya dianggap wurud (air yang mendatangi benda yang disucikan) tidak sebaliknya (benda yang disucikan dimasukkan dalam air). Hal tersebut sama persis dengan proses pembilasan yang digunakan dalam mesin cuci. Syekh Muhammad Ahmad bin Umar Asy-Syathiri pernah menegaskan:

وَالْغَسَالَاتُ نَوْعَانِ نَوْعٌ يُسَمُّوْنَهُ اُوْتُوْمَاتِيْكِيْ يَرِدُ اِلَيْهَا الْمَاءُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَرِدُ مَاءٌ جَدِيْدٌ ثُمِّ يَتَكَّرَرُ اِيْرَادُ الْمَاءِ عِدَّةً مَرَّاةٍ فَهَذَا لَا خِلَافَ فِيْهِ فِيْ طَهَارَةِ الْمَلَابِسِ

Alat pencuci ada dua macam, salah satunya adalah yang sering disebut dengan mesin cuci otomatis. Cara kerjanya air yang mendatangi (membilas pakaian yang disucikan) kemudian keluar (dibuang). Setelah itu datanglah air yang baru. Pembilasan air tersebut terjadi berulang kali. Maka untuk hal ini tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai kesucian pakaian tersebut.”[1]

Bahkan seandainya prakteknya dibalik, yakni pakaian yang disucikan mendatangi air sedikit, maka menurut pendapat yang paling shahih bisa berkonsekuensi najis, kecuali pendapatan imam Ibnu Suraij. Sebagaimana ungkapan imam Khotib Asy-Syirbini:

وَيُشْتَرَطُ وُرُوْدُ الْمَاء.ِ..وَالثَّانِيْ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ لَا يُشْتَرَطُ لِأَنَّهُ إِذَا قَصَدَ بِالْغَمْسِ فِي الْمَاءِ الْقَلِيْلِ إِزَالَةَ النَّجَاسَةِ طَهُرَ كَمَا لَوْ كَانَ الْمَاءُ وَارِدًا

“(Mensucikan menggunakan air sedikit) disyaratkan air yang harus mendatangi perkara yang disucikan… Pendapat kedua yang merupakan perkataan imam Ibnu Suraij, hal itu tidak disyaratkan. Karena ketika merendam sesuatu yang akan disucikan disertai dengan niat untuk menghilangkan najis, maka hukumnya bisa suci. Sebagaimana ketika air itu yang mendatanginya.”[2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mencuci dengan menggunakan media mesin cuci sudah dianggap suci memandang proses yang terjadi di dalamnya, yaitu air yang mengalir dalam mesin cuci sudah dianggap mendatangi (wurud) terhadap pakaian yang ingin disucikan. Dalam kitab fikih, hal tersebut sudah sapat mensucikan meskipun air yang digunakan terbilang sedikit.

[]waAllahu a’lam


[1] Syarh Al-Yaqut An-Nafis, hal. 98

[2] Mughni Al-Muhtaj, vol. I hal. 86

Kesucian Toilet Umum

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ini merupakan kejadian realita yang sering saya alami ketika akan bersuci di toilet umum yang hanya tersedia air di bak kecil. Terkadang keraguan akan kesucian air membuat saya bingung. Bagaimanakah hukumnya bersuci menggunakan air bak yang ada di toilet umum, memandang kondisinya yang rentan terkena najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ab. Fida – Jakarta.

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebelumnya kami berterima kasih dan mengapresiasi kepada saudara penanya yang telah kritis dengan hukum syariat yang ada di sekitar.

Masyarakat mengakui bahwa toilet merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan toilet di berbagai tempat dan fasilitas umum, seperti SPBU, terminal, stasiun dan lain-lain. Namun sayang, hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan air yang memadai dan  sering tidak ideal untuk digunakan bersuci. Bak air yang berukuran kecil serta posisinya yang rentan akan terkena cipratan najis. Sementara toilet itu terkadang merupakan satu-satunya alternatif sebagai tempat untuk bersuci.

Menaggapi keadaan seperti itu, syekh Zainuddin al-Malibari pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ: وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِيْ مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلَانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلَيِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوِ الْغَالِبِ أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ عَمَلًا بِالْأَصْلِ الْمُتَيَقَّنِ لِأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الْغَالِبِ الْمُخْتَلَفِ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَزْمَانِ

Kaidah penting: Adapun setiap perkara yang memiliki hukum asal suci kemudian ada prasangka akan kenajisannya dikarenakan kebiasaan hukum najis pada hal serupa, maka memiliki dua pemilahan hukum yaitu hukum asal dan realita yang sering terjadi. Adapun yang paling unggul di antara keduanya adalah status suci dengan mempertimbangkan hukum asalnya. Karena hukum asal yang didasari keyakinan dianggap lebih kuat dari pada hukum realita yang masih tak menentu sesuai keadaan dan waktu”.[1]

Berdasarkan keterangan tersebut, maka air yang ada di bak dapat digunakan untuk bersuci dengan memandang hukum asal yang diyakininya, yaitu suci. Sedangkan kondisi air yang rentan akan terkena najis masih bersifat praduga tanpa adanya penguat. []waAllahu a’lam

 

_____________________

[1] Hamisy Fathul Mu’in (I/83).