Tag Archives: tahlil

Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

LirboyoNet, Kediri- Ahad malam Senin 16 Februari 2020 M. Telah dilaksanakan Tahlil dan Do’a tujuh harinya almarhum almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini.

Acara yang dilaksanakan di kediaman almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini ini berjalan dengan penuh khidmat. Tampak para Alumni dan tamu undangan memenuhi kediaman Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini sampai memenuhi area Serambi Masjid Lawang Songo yang memang sudah disiapkan oleh panitia.

Dalam acara tersebut untuk pembacaan surat yasin dipimpin langsung oleh KH. Raden Abdul Hamid Abdul Qodir, sedangkan pembacaan tahlil, tawasul, dan do’a tahlil dipimpin oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus. Sambutan atas nama keluarga dibawakan oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus, untuk Mauizhotul hasanah dan Do’a dibawakan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

Seperti diceritakan oleh KH. Ahmad Fahrurozi Kyai Habib adalah pertemuan dua nasab pendiri pesantren termasyhur di Indonesia, dari jalur ayah beliau adalah putra alm KH. Muhammad Zaini bin KH Moehammad munawwir, pendiri Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Jogjakarta, sementara ibunya almarhumah Nyai Hj Qomariyah binti KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri . 

Beliau adalah sosok kyai yang sangat alim, zuhud dan sederhana, setiap waktunya dihabiskan untuk mengajar di pondok pesantren, beliau menjadi rujukan santri dari seluruh Indonesia yang datang ke lirboyo.

Untuk mengaji kitab kitab besar bidang hadist, fiqh dan tafsir dll. Dengan ketekunan yang luar biasa, beliau mampu membaca kitab mulai pagi hingga malam hari tanpa lelah hingga khatam, sementara para muridnya mendengarkan sambil mencatat makna dari beliau mulai duduk hingga tiduran “mlumah murep “ tidak kuat saking lamanya .

Saya pernah mengaji kitab hadist sahih muslim hingga khatam dengan ijazah sanadnya kepada beliau  juga beberapa kitab lainnya. Pembacaan beliau terkenal sangat teliti, tahqiq dan enak didengar, karna penguasaan ilmu gramatika Arab beliau yang sempurna, saya belajar ilmu nahwu Alfiyah Ibnu Malik hingga ilmu balaghah Jauhar Al Makmun dibawah bimbingannya di MHM lirboyo . 

Meskipun sangat alim, namun beliau bersifat khumul, pendiam dan tidak banyak bicara. Beliau selalu menyembunyikan diri dan tidak suka tampil di depan umum kecuali hal yang sangat penting, saya tidak pernah melihat beliau kerso berpidato di pengajian umum atau acara terbuka lainnya, bahkan jika ada seremonial acara kunjungan pejabat tinggi sepenting apapun di lirboyo beliau sangat jarang sekali  berkenan  ikut hadir menyambut, beliau lebih memilih berdiam diri dan tidak keluar dari rumahnya .

Semoga kita semua bisa mendapatkan percikan berkah beliau, serta bisa meneladani tauladan beliau yang sangat alim, zuhud dan sederhana.  Wallahu A’lam .(TB)

Mengamputasi Radikalisme

LirboyoNet, Kediri – Ketika agama disinggung modernitas, para pemeluknya akan berhadapan dengan beberapa pilihan: membuka lebar kedua tangan; memilih diam; atau merasa terancam.

Beruntungnya, Nabi membekali umatnya dengan dilalah (pertanda) yang sepertinya memperbolehkan umat untuk memilih apa saja, termasuk bergerak radikal (cenderung keras).

Bagi kaum sunni, terutama nahdliyyin, modernitas akan mereka seleksi dengan empat filter: tawazun, tasamuh, tawasuth, dan ta’adul. Mereka tidak biasa sertamerta menghakimi tanpa mengkajinya dengan empat perabot itu.

Gawatnya, perabot-perabot itu kian kabur di tengah masyarakat kini. Maka Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) pada Kamis lalu, (14/04) mengumpulkan sebagian santrinya di Aula P3HM. Mereka diberi pengetahuan terkait bahaya radikalisme di luar pesantren. Tutor handal pun dihadirkan. Zahro Wardi, sang tutor itu, telah berkali-kali menyuarakan kehati-hatian atas radikalisme di berbagai tempat. Termasuk ke Makau, sebuah daerah administratif khusus negara Tiongkok.

Diklat ini dikhususkan bagi siswi kelas  Tiga Aliyah Madrasah Putri Hidayatul Mubtadi-aat (MPHM), dan siswi Robithoh (program khusus bagi alumnus tahun sebelumnya).

Para pengusung radikalisme cukup sering membuat bingung masyarakat awam. Tahlil, istighotsah, yang telah menjadi adat istiadat sejak lampau, digugat. Maka tak asing lagi kata kafir, haram, bid’ah, di telinga masyarakat.

Karena term takfiri (pengkafiran) sudah dinilai akut, para siswi itu disajikan buku materi cukup tebal, mencapai 103 halaman. Maka seminar yang diikuti sekitar 170 siswi itu berlangsung lama, hingga 2,5 jam.

“Tahlil itu seperti ote-ote,” jelas Zahro terkait pengharaman tradisi tahlil. “Garamnya halal, kubis halal, wortel halal, terigu halal, air halal. Jadilah ote-ote halal. Yasin sunnah, laa ilaaha illallah sunnah, silaturrohim sunnah, tasbih ada haditsnya. Dijadikan satu jadinya tahlilan.”

Menolak gerakan radikal bukan berarti membablaskan toleransi. “Jangan diyakini semua agama benar. Kita punya batas, yakni ketika agama lain melaksanakan ibadahnya, kita tidak mengganggunya. Seperti halnya dengan jenazah yahudi lewat di depan Nabi, beliau hanya diam,” tegas beliau.

Di akhir makalah itu, Zahro Wardi mencantumkan ancaman yang harus menjadi perhatian:

1. Gerakan islam phobia secara internasional, terutama dari barat yang arogan.

2. Gerakan sekuler liberalis yang mengacaukan keimanan dan tradisi keagamaan.

3. Gerakan islam transnasional yang mempunyai ciri-ciri:

a.Bersifat transnasional.

b. Ideologi gerakan yang tidak bertumpu pada konsep nation state, melainkan konsep kesatuan ummat.

c. Didominasi oleh corak aliran pikiran skripturalis radikal dan fundamentalis.

d. Secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern.][