Dosa

0 3 likes 233 views share

Tersebutlah seorang lelaki saleh yang hidup pada zaman Bani Israil. Lelaki tersebut ahli beribadah. Ahli berpuasa. Tekadnya mencurahkan seluruh hidup hanya untuk mengabdikan diri menyembah-Nya. Ia berpuasa penuh selama tujuh puluh tahun lamanya, dan hanya berbuka setiap seminggu satu kali. Suatu kali ia berdoa, ia memohon agar Allah SWT memperlihatkan bagaimana setan menggoda manusia. Ia sekedar ingin tahu. Ia menantikan doanya dijawab. Ia menunggu. Namun hingga sekian lama, Allah SWT tak kunjung mewujudkan doanya. Mungkinkah doa yang ia minta terlalu berlebihan? Mungkinkah apa yang ia panjatkan terlalu muluk-muluk? Ia lalu berkata pada dirinya sendiri, “Andaikan saja aku bisa melihat bagaimana wujud kesalahanku, dan bagaimana wujud dosa yang pernah aku lakukan antara aku dan tuhanku, pasti itu lebih baik dari pada doa yang aku panjatkan itu.” Tak disangka-sangka, Allah SWT yang mendengar kalimat lelaki tersebut mengutus malaikat kepadanya. Malaikat tersebut menyampaikan apa yang difirmankan Allah SWT. “Allah telah mengutusku padamu, dan Ia berfirman, ‘kalimatmu itu tadi yang kau ucapkan lebih Aku sukai dari pada ibadahmu yang telah kau lakukan selama ini.’ Dan Allah telah membuka matamu, maka lihatlah.” Kata sang malaikat. Ajaib, doa yang ia lantunkan dahulu akhirnya terkabul pada hari itu. Tiba-tiba ia dapat melihat bagaimana setan menjerumuskan manusia. Ia melihat setan dimana-mana. Di seluruh dunia ada bala tentara Iblis. Seluruh tempat seperti telah dibanjiri musuh manusia itu. Ia menyaksikan, bahwa tak seorangpun kecuali dikelilingi oleh banyak sekali setan. Tak seorangpun manusia hidup kecuali disekitarnya setan-setan mengerumuni seperti lalat. Kaget bukan main, ia berkata. “Tuhanku, siapakah yang mungkin selamat dari ini?” Allah SWT lantas berfirman, “Orang yang punya sifat wira’i dan lemah lembut.”

***

Kita mungkin tak bisa meniru kisah tokoh yang dikisahkan oleh Wahab bin Munabbih (34 H-110 H) tersebut. Ditimbang dari nilai ibadahnya saja, kita tak akan mungkin sanggup berpuasa tanpa henti selama satu minggu penuh. Namun setidaknya kita bisa menangkap sisi hikmah kisah tersebut. Bagaimana Allah SWT begitu ridho dengan kalimat sederhana yang diucapkan lelaki Bani Israil tadi. Hanya sebaris kalimat namun bobotnya mengalahkan ibadah selama tujuh puluh tahun dimata Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW memang tak pernah menjelaskan bagaimana “wujud dosa”. Kepada Wâbishoh RA, dosa hanya beliau gambarkan sebagai “sesuatu yang mengganjal di hati”. Ketika salah satu sahabat bertanya tentang apa itu dosa dan apa itu kebaikan, jawab Nabi amat sederhana.

“يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ”   – مسند أحمد

“Wahai Wâbishoh, mintalah fatwa pada dirimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang. Dan membuat jiwamu tenang. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hati. Dan membingungkan hati. Meskipun orang-orang berfatwa padamu, meski mereka berfatwa padamu.” (HR. Ahmad)

Namun, kata Imam al-Ghazali, kita tak bisa memakan hadis tersebut mentah-mentah. Hadis tersebut disabdakan pada Wâbishoh RA. Dan beliau bukan sahabat sembarangan. Beliau orang salih dan ahli ibadah. Nabi berpesan tentang hadis istafti qalbak, yang berarti tanyalah pada hatimu sendiri jika kau ragu akan suatu hal, hanya kepada orang-orang semacam beliau. ”Nabi tidak menghendaki nasihat tentang mintalah fatwa kepada hati sendiri kepada semua orang. Nabi hanya berpesan demikian kepada Wâbishoh yang telah tahu akan keadaan dirinya.” Tutur Imam al-Ghazali.[1]

Artinya, orang awam akan tetap diberi batasan dan pengertian tentang dosa. Dosa berarti apa yang dilarang, dan dosa juga berarti batasan-batasan yang “tidak diinginkan” oleh sang pembawa risalah. Jika orang awam juga diberi nasihat yang sama dengan Wâbishoh RA, bukan tidak mungkin hati akan berfatwa pada tipuan hawa nafsu belaka.

Pada fitrahnya, jiwa yang bersih akan mampu membaca tanda-tanda. Ia mampu membedakan mana “hitam” dan mana “putih”. Bahkan meski banyak orang berkata sebaliknya, bagi orang yang sudah mencapai kapasitas “bersih”, pantang melanggar kata hati. Entah bagaimanapun kata orang, ia lebih baik percaya pada dirinya sendiri.

 

 

[1] Ihya Ulumuddin, Juz 2, halaman 17. CD Maktabah Syamilah.