Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri

tradisi bani kh abdul karim kepada para santri

Di tengah kehidupan pesantren yang penuh kesederhanaan, terdapat nilai luhur yang sering kali tidak tertulis dalam kitab, namun hidup dalam perilaku para masyayikh. Salah satunya adalah bagaimana memuliakan santri. Nilai inilah yang pernah disampaikan oleh Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz, ketika mengenang didikan keluarga besar Mbah KH. Abdul Karim Lirboyo.

Beliau menceritakan bahwa ayahnya, Kyai Ahmad Hafidz, merupakan cucu pertama Mbah KH. Abdul Karim; putra pertama dari putra pertama. Sejak usia sekitar 10 tahun, sang ayah telah tinggal dan mondok di Lirboyo setelah menjadi yatim, lalu diasuh langsung oleh Mbah KH. Abdul Karim hingga usia kurang lebih 30 tahun. Dalam rentang lebih dari dua dekade itu, Kyai Ahmad Hafidz mendapatkan pendidikan langsung dari para masyayikh besar: Mbah KH. Abdul Karim, Mbah Marzuki, dan Mbah Mahrus Aly.

Baca juga: Makna Kebaikan yang Tidak Istiqomah Menurut Imam Ghazali

Dari pengalaman panjang itulah lahir tradisi adab yang sangat kuat dalam keluarga pesantren tersebut.

Santri adalah Tamu Allah

Menurut dawuh yang beliau dengar langsung dari ayahnya, keluarga Mbah KH. Abdul Karim memandang para santri bukan sekadar murid biasa. Santri diposisikan sebagai “tamu-tamu Allah”, orang-orang mulia yang dikirim Allah untuk menuntut ilmu dan harus dilayani dengan penuh hormat.

“Maka dalam rentang waktu ini sekitar 20-an tahun lebih ini, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari Mbah Abdul Karim dari Mbah Marzuki, dari Mbah Mahrus ini mendapatkan pendidikan langsung, banyak hal yang beliau ceritakan kepada saya.

Diantaranya adalah itu, tradisi di keluarga Kiai Haji Abdul Karim bagaimana kita menyikapi seorang santri bagi keluarga Mbah Abdul Karim, yang saya dengarkan dari Bapak saya. Memandang santri ini adalah tamu-tamu Allah adalah orang-orang yang mulia yang dikirimkan oleh Allah kepada kami untuk dilayani, untuk dilayani dalam hal tolabul ilmi.”

Kisah Masa Kecil Agus Abdurrohman

Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz kemudian mengenang masa kecilnya dengan gaya yang jenaka namun sarat pelajaran. Sebagai anak kiai, kadang muncul rasa malas dan ingin dimanja. Meski sejak kecil dirinya dibiasakan mencuci pakaian sendiri, membersihkan piring sendiri, dan mengurus kebutuhan pribadi sendiri, tetap saja sesekali muncul “tabiat nge-gus”.

Kadang pekerjaan mencuci diam-diam dititipkan kepada para santri atau khadam.

Baca juga: Sifat Lemah Lembut sebagai Tanda Rahmat Allah

“Saya ingat banget, ketika masa kecil saya -ya biasa sek cilik anake Yai duwe santri kadang-kadang kan ya rodok nge-gus, umbah-umbah dewe aras-arasen akhirnya ngongkon kang-kang titip neng gene mbak-mbak dan seterusnya seperti itu.

Padahal dari kecil oleh Bapak saya itu didoktrin untuk mengerjakan semua kebutuhan saya sendiri, mencuci atau apa, setelah makan piring kok tidak dicuci ini langsung didukani (dimarahi) dan seterusnya. Itu sejak kecil itu seperti itu, tapi kadang-kadang ya panggah nge-gus, metu lumue, metu malese, akhire umbah-umbah titipne mbak-mbak titipne kang-kang, itu sembunyi-sembunyi.”

Namun suatu hari perbuatan itu diketahui oleh kedua orang tuanya. Saat itulah beliau mendapatkan teguran yang sangat membekas hingga sekarang.

Baca juga: Merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren

“Bocah-bocah kuwi rene ki mondok tholabul ilmi, ora dadi buruh e sampeyan.”

(“Anak-anak itu datang ke sini untuk mondok dan mencari ilmu, bukan menjadi buruhmu.”)

Kalimat sederhana ini mengandung pandangan pendidikan pesantren yang sangat dalam. Santri bukan objek yang bisa diperintah seenaknya hanya karena status sosial atau kedekatan dengan keluarga ndalem. Mereka adalah penuntut ilmu yang sedang berjuang meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan demi agama.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses