HomeSantri MenulisIndonesia Maslahat: Relasi antara Agama dan Negara

Indonesia Maslahat: Relasi antara Agama dan Negara

0 8 likes 856 views share

Saat ini, diskursus bela negara dan cinta tanah air menjadi sangat penting bagi masyarakat, terutama masyarakat Islam. Penting karena konteks merebaknya berbagai konflik politik dan militer dalam skala global telah menempatkan Islam pada puncak kekhawatiran.

Dunia internasional telah gempar dengan berbagai konflik di Timur Tengah yang tak kunjung padam. Mulai konflik  antar sekte, antar kelompok radikal, bahkan konflik pemerintahan sampai konflik transnasional lainnya. Berbagai kelompok pun muncul dengan berbagai klaim yang variatif. Dan pada gilirannya akan saling tempur satu sama lain seolah berebut menjadi penguasa dengan mengusung ideologi dan argumentasi masing-masing.

Sebagian orang mengatakan bahwa pecahnya konflik ini terjadi karena rekayasa musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Kalaupun isu tersebut benar, kita tidak bisa memalingkan muka dari sumber-sumber masalah yang ada dalam tubuh Islam sendiri.

Permasalahan Islam yang cukup kompleks ini cukup menyita perhatian dunia. Sorot tajam pun mengarah ke Indonesia. Bagaimana negara yang mayoritas penduduknya beragama islam ini tidak seperti negara-negara Islam Timur Tengah yang sedang berkemelut perang? Dan bagaimana negara yang dihuni berbagai latar belakang ras, budaya, Agama, suku, bahasa dan lain-lain ini bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis.

Relasi Agama dan Negara

Sebuah keniscayaan bagi Indonesia, bahwa ia lahir dari  keragaman dan kemajemukan. Demikian ini bukan dimaksud sebagai alasan berpecah-belah atau dasar fanatisme kesukuan atau rasisme kebangsaan  bahkan sektarianisme keagamaan. Melainkan agar saling bersedia membangun hubungan yang humanis dan dialogis. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hasil dari pemikiran dan peradaban masyarakat pribumi yang harus dibela dan dipertahankan. Sebuah bangsa yang dibangun atas dasar kesadaran geo politik, cita-cita, dan nilai-nilai luhur yang hidup dan mengakar kuat dalam kepribadian masyarakat. Sebuah bangsa yang bersedia membangun peradaban, persatuan dan kesatuan di atas realita kemajemukan. Sebab, bangsa ini telah memiliki kesadaran nilai-nilai kemanusiaan yang sanggup mengesampingkan perbedaan ras, budaya, agama, suku, bahasa dan lain-lainnya.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentunya barometer peradaban dan hubungan antar masyarakat secara  otomatis ada di pundak Islam. Namun dalam prakteknya, pergerakan yang dilakukan oleh Islam semata-mata berdasarkan agama yang eksistensinya dilandasi atas eksistensi  negaranya. Agama tidak bisa ditegakkan dalam kehidupan masyarakat tanpa adanya negara, kendati simbiosisme agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Namun tidak berarti negara harus dimanifestsikan dalam bentuk negara agama (khilafah).

Di dalam Islam tidak mengharuskan formalitas berdirinya Negara Islam. Karena menurut perspektif Islam, perwujudan negara merupakan perantara yang menjembatani tujuan paripurna agama itu sendiri. Dengan demikian, pembelaan terhadap negara dengan konteks mempertahankan agama merupakan titik pertemuan diskursus Islam dalam negara, sehingga menjadi fenomena tak terbantahkan perkawinan secara harmonis antara prinsip-prinsip keislaman dengan realita kemanusiaan, keindonesiaaan, bahkan relitas dunia modern.

Di abad modern ini, pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman kehidupan bangsa dan bernegara. Karena negara sebagai kebutuhan yang sangat penting  dalam mengimplementasikan agama secara riil dalam kehidupan. Maka semangat beragama harus didasari semangat bernegara. Dengan pengertian sikap moderat dan inklusif Islam ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak berlebihan sekiranya semangat kebangsaan dan cinta tanah air harus mengintervensi terhadap selurus aspek dan elemen masyarakat. Hal ini dimaksudkan demi terciptanya kemaslahatan global, mengakhiri episode berdarah sejarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam membela tanah air dapat diwujudkan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan keadaan masing-masing. Karena dengan begitu, tidak hanya akan terbatas pada perlindungan terhadap negara, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan semua aspek kehidupan. Karena faktanya, tidak sepenuhnya benar jika rentetan tragedi konflik kemanusiaan dalam sejarah hanya terbatas keyakinan belaka. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial dan penindasan yang terajut dalam ketidak-adilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Dan juga diperlukan pemerataan sosialisasi bela negara untuk melahirkan pemikiran nan dinamis serta gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju nan bermoral sebagai kontribusi besar kekuatan bangsa. Dan memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai faham radikalisme, ekstrimisme dan lain-lain yang berpotensi merongrong kebhinekaan bangsa ini.

Namun bentuk cinta tanah air  tidak dapat diperlakukan melebihi porsi yang semestinya. Hal ini betujuan untuk menghindari faham fasisme dan totalitarianisme yang akan menjadikan masyarakat mencintai tanah airnya mengalahkan segalanya. Dan juga cinta tanah air tidak dapat dikesampingkan atau bahkan ditinggalkan sebagaimana masyarakat apatis. Dengan mengambil jalan tengahlah estafet peradaban akan terus berlanjut dan roda kehidupan akan terus berputar menuju masyarakat yang madani dan bermoral.

Disinilah peran Islam untuk bergerak dan mengintervensi seluruh aspek kehidupan. Dengan menimbang nilai-nilai kemaslahatan universal yang menjadi proyek dan tujuan agama itu sendiri, agama dan negara akan berjalan beriringan, akan terus bersinergi dan saling memperkuat dari segi internal dan eksternal untuk memperkuat kesatuan bangsa dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang MASLAHAT (maju, sejahtera, adil, harmonis, aman, dan tentram).

Wallohu a’lam.

Penulis: Nasikhul Amien, santri asal Pasuruan.