Tag Archives: negara

Peran Wanita Untuk Keluarga dan Negara

“Para ibu yang ada ditengah keluarga dan negara sangat menentukan baik dan buruk dalam keluarga dan negara itu”

“Kata ulama “annisa imaddudin” perempuan adalah cagak suatu negara. artinya jika wanitanya rusak maka negaranya ikut rusak, sebab kebaikan seorang laki-laki pun itu ada hubungannya dengan kebaikan seorang istri”

“Pengaruh istri ditengah-tengah keluarga sangat menentukan baik buruknya keluarga, juga kepada anak-anaknya, fitroh sebuah keluarga itu baik buruknya ini ada hubungannya dengan baik buruknya istri”

“Dalam pandangan islam mengatakan kalau orang menikah yang penting supaya kamu menikah dengan wanita yang agamanya baik”

“Peran seorang istri itu menentukan baik buruknya suami dan anaknya, yang lebih dekat dengan anak adalah ibu, dan disinilah ibu harus baik”

“Jika ingin menghendaki kebaikan orang lain kita harus memperbaiki diri sendiri”

“Menjaga keluarga itu merupakan kewajiban seorang bapak, kalau tidak mendidik anak-anaknya maka seorang bapak itu berdosa namun kadang-kadang peran bapak itu tidak maksimal kadang justru di Indonesia peran ibulah yang sangat menentukan”

“Anak jangan dibelajari yang jelek-jelek, sebab karakter manusia secara otomatis ia akan seneng pada kejelekan”

“Bagi orang tua terutama ibu harus mengawasi anaknya supaya menjadi baik dan taat kepada Allah bisa khidmah kepada orang tuanya, ini salah satu jalannya adalah memondokkan anaknya”

“Orang mondokkan anak itu kewajiban, dan orang yang mondokkan anaknya dan masih memberi kiriman maka Allah akan memperlancar rizqinya”

“Orang taqwa itu butuh ngaji dan butuh mondok, taqwa itu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya”

“Orang taqwa kepada Allah kalau punya masalah itu ada solusinya”

“Sekarang ini menjodohkan anak itu repot, kadang kena narkoba kadang kena aids. mencari menantu harus hati-hati”

“Anak dirawat sejak kecil besar-besar mendapat jodoh yang tidak pas akan merepotkan orang tuanya namun beda lagi dengan santri insyaAllah jodohnya dimudahkan Allah swt, santri itu cari jodoh cukup ngaji saja kalau sudah waktunya akan dicari sendiri baik itu putra / putri”

“Santri itu rizqinya tidak diduga-duga, santri itu biasanya kesulitan dulu”

“Allah mengatakan “innamal usriyussra” kalau orang ingin gampang prosesnya harus kesulitan dulu, santri setahun dua tahun asalkan mulang nanti insyaallah rizqinya barokah keluarganya barokah”

“Orang yang paling mulia disisi allah adalah orang yang taqwa, orang yang taqwa itu harus mondok”

“Pesantren yang lebih baik itu pesantren salaf, sebab mencetak ulama juga kiyai”

“Orang itu baik dan tidaknya ada hubungan disekitarnya jadi di pesantren sekelilingnya baik maka Kebaikan-kebaikan di pesantren tidak diragukan”

“Indonesia tidak ada pesantren hancur sudah akhlaknya”

“Anak sekarang masuk SMP/Mts minta HP, minta motor minta bensin, dibuat kluyuran, kalau anak tidak mondok itu satu hari bisa 50.000,- tapi kalau di pesantren satu bulan bisa 500.000 dan hasilnya pun sudah jelas”

“Anak itu mau mondok atau tidak itu hubungannya dengan ibunya, sebab kalau bapak ingin mondokkan anaknya dan ibunya bilang jangan, bapak akan mikir lagi namun kalau ibunya yang meminta kepada bapaknya untuk mondok itu akan berhasil”

 

  • Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam kunjungan Ibu Muslimat Sidoarjo

Islam dan Spirit Kemerdekaan

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Ketika engkau tahu latar belakangnya, maka jelaslah sesuatu yang dimaksud di dalamnya” (Pepatah Arab).

Di Indonesia, peringatan proklamasi kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17 agustus dirayakan dengan berbagai macam bentuk perayaan, mulai dari upacara pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, berbagai event perlombaan atau yang lain sebagainya.  Masyarakat merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

Namun sangat ironis, ketika dibalik semua euforia itu mereka acuh tak acuh atas filosofi dan spirit kemerdekaan yang sebenarnya. Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (Muhasabah An-Nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan spirit membangun kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Bela Negara

 “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota suci Makkah. Sebagimana penuturan dari sahabat Ibnu Abbas Ra yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Hibban Ra:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda; Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kauku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di selainmu,” (HR. Ibnu Hibban).[1]

Dengan penerapannya yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan saat ini, semangat bela negara dapat mengakhiri episode berdarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam semangat bela negara dapat diaplikasikan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu masyarakat. Karena dengan begitu, implementasi nyata semangat bela negara dan nasionalisme tidak hanya terbatas pada perlindungan negara, melainkan menjadi sebuah usaha ketahanan, kekuatan, dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

Menguatkan Simbiosis Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan.  Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sinergi Bersama Pemerintah

Sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Dengan demikian, perlua adanya formulasi dan inovasi yang dapat membangun dan memajukan kehidupan umat dari ketertinggalan.  Baik kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Dan juga harus adanya sosialisasi dan penerapan pemahaman atas formula dan kebijakan yang dianggap lebih maslahat secara merata. Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa.

Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung dengan pihak pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kebijakan. Atas dasar itu pula, syariat Islam telah memberi rambu-rambu bagi wewenang dan kebijakan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Filosofi tersebut juga sejalan dengan kaidah fiqih:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin harus berorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya”. [3]

Kaidah tersebut sangat urgen dalam membentuk konsep kebijakan yang diputuskan dan dijalankan pemerintah. Sehinggala segala tindakan yang dilakukan pemerintah benar-benar memprioritaskan kepentingan umum, bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai spirit membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekian, waAllahu a’lam[]

________________________

[1] Shahih Ibnu Hibban, juz 9 hal 23.

[2] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

[3] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 1 hal 121.

Menyoal Peran Generasi Muda

Sebuah peradaban bangsa merupakan hal yang paling penting dalam tatanan kehidupan manusia. Namun, peradaban yang sudah ada tidak akan bertahan secara konsisten tanpa adanya regenerasi secara signifikan yang akan melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

Dari sinilah peran generasi muda sebagai generasi penerus sangat dibutuhkan. Kecerdasan intelektual, usia yang masih muda, mobilitas tinggi, serta semangat yang membara merupakan salah satu contoh kekuatan besar yang dimiliki generasi muda sebagai aset penting peradaban suatu bangsa. Maka sudah jelas bahwa mereka menjadi bagian penting dari agama, bangsa, dan negara. Karena di tangan generasi mudalah tonggak perjuangan dan harapan bangsa untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.  Syaikh Musthofa Al-Gholayaini berkata:

إِنَّ فِى يَدِ الشُّباَّنِ اَمْرَ اْلاُمَّةْ وَفِى اَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا

“Sesungguhnya di tangan para pemudalah urusan umat, dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat”. Ini telah membuktikan bahwa para generasi muda menjadi tulang punggung dan harapan dari sebuah peradaban agama dan bangsa.

Dilihat dari konsep kenegaraan, generasi muda diibaratkan sebuah pilar/tiang dan negara itu ibarat bangunannya. Sebuah bangunan dengan pilar yang berasal dari bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi akan tetap kokoh dan mampu bertahan walaupun badai, petir, bahkan bencana sekalipun yang menghantam. Begitu juga dengan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Dengan modal ilmu dan akhlak yang mereka miliki menjadi hal yang paling penting untuk menjadikan negaranya maju dan tetap kokoh dari berbagai ancaman dan pengaruh pihak luar.

Dalam konteks Islam, peran dan fungsi generasi muda sangat urgen dalam mempertahankan eksistensi kejayaan agama Islam. Karena di tangan merekalah tongkat estafet Islam akan diperjuangkandan ditegakkan. Hal ini dikarenakan seorang pemuda memiliki potensi yang besar dalam mengemban amanah besar tersebut. Maka tidak ada alasan apapun untuk tidak segera menyelamatkan generasi penerus dari berbagai ancaman kerusakan di era globalisasi saat ini.

Sebagai realisasi nyata dari berbagai sudut pandang tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi generasi muda:

  1. Pendidkan dan Akhlaqul karimah

Generasi muda merupakan akar kekuatan sebuah agama maupun bangsa. Oleh sebab itu, perhatian khusus dalam menjaga aset penting yang menjadi penopang kekuatan tersebut mutlak diperlukan. Terutama dalam sektor pendidikan yang memiliki andil besar dalam mencetak dan mendidik karakter generasi muda yang  berakhlaqul karimah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, sesuai dengan hadis yang disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. [1]

Ancaman bahaya lain yang menyerang generasi muda adalah ancaman pemikiran. Seperti pemahaman yang ekstrim dalam beragama, paham radikal, sekuler, liberal, dan seterusnya. Sehingga tidak heran kalau generasi muda yang masih memiliki pemahaman yang kurang mendalam namun memiliki jiwa semangat yang tinggi menjadi sasaran utama upaya rekrutmen kelompok-kelompok yang beraliran seberang tersebut.

Dan dalam ranah pendidikan itu sendiri, tidak terbatas sekedar konsep penularan pengetahuan (transfer of knowledge). Namun lebih menitik beratkan dalam konsep tarbiyyah dan upaya pembangunan karakter (character building). Memahami hal demikian, sudah seharusnya orang tua, pihak lembaga pendidkan, maupun pemerintah bersinergi dan bekerjasama dalam mengemban tanggungjawab untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak dan memelihara akhlaqul karimah bagi para generasi muda. Boleh para generasi muda mengadopsi atau mengikuti perkembangan zaman, asalkan tetap memegang kuat  prinsip:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْدُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”.

Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, sudah saatnya untuk menyingsingkan lengan baju untuk lebih cerdas memahami keadaan dan situasi yang dihadapinya. Generasi muda harus mempunyai kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang seimbang. Karena yang dibutuhkan tidak hanya cerdas dalam akademi, tapi kecerdasan yang muncul dari hati dan sifat religiuitaslah yang terpenting. Dan dengan pengamalan ilmu dan penerapannya pada obyek (maudlu’) yang tepat, diharapkan dapat merubah dan memajukan peradaban agama maupun bangsa ini menjadi lebik baik.

Sungguh ironi, terjadi ketidakseimbangan antara dunia pendidikan seperti pesantren ataupun yang lain yang selalu konsisten berusaha mencetak kader-kader bangsa yang berilmu dan bermoral dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang secara perlahan merusak para generasi muda bangsa. Hal tersebut yang membuat para generasi muda harus berpikir kritis dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Menggali Potensi Sejak Dini

Usia muda merupakan usia dimana seseorang masih memiliki jiwa semangat yang tinggi, kecerdasan intelektual yang stabil. Dalam masa tersebut, mereka sepatutnya mengerahkan seluruh daya untuk menggali segala potensi yang dimilikinya sebelum urusan dan tanggung jawab bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Pentingnya memanfaatkan usia muda secara maksimal telah tersirat secara implisit dalam hadis Rasulullah SAW:

غْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Pergunakanlah perkara yang lima sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu” (HR. Hakim).[2]

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan betapa pentingnya masa muda untuk digunakan dalam segala hal yang positif. Maka selayaknya para generasi muda untuk benar-benar menyadari betapa pentingnya usia muda untuk menggali segala potensi dirinya dalam mencari ilmu dan pengalaman yang dapat memberi manfaat baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

  1. Pergaulan dan Globalisasi

Diakui ataupun tidak, derasnya arus globalisasi  dan segala bentuk kemajuannya telah berdampak negatif terhadap perkembangan cara berpikir dan gaya hidup generasi muda yang banyak teradopsi dari pemikiran orang-orang luar yang berusaha merusak generasi muda. Tentunya hal tersebut lambat laun akan semakin menyeret mereka menjauhi moral dan karakter positif yang telah tertanam sejak lama.

Lingkungan pergaulan dan pertemananpun sangat berpotensi membentuk pola kehidupan seseorang, konsep seperti ini sudah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ». رواه أبو داود

“Dari Sahabat Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Dawud).

Dalam Alqur’an dicontohkan sebuah kisah pemuda Ashabul Kahfi, bagaimana mereka tetap kokoh memegang prinsip keimanan di saat kaum mereka dilanda kerusakana dan kebobrokan moral. Ketika kemampuan untuk memperbaiki tidak lagi mereka miliki, Allah SWT memberikan pertolongan dengan menyelamatkan mereka dari ancaman kaumnya sehingga mereka tertidur di dalam gua selama kurang lebih tiga ratus tahun. Kemudian Allah SWT memuji mereka dalam firmannya:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).

Redaksi  Al-Fityah ditafsiri dengan arti para pemuda, mereka adalah orang yang lebih mudah menerima kebenaran serta mengikuti petunjuk dibandingkan dengan orang yang telah lanjut usia yang terjerumus ke dalam agama yang batil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan RasulNya adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal dengan agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit. [3]

Maka melihat dari hal itu, generasi mudalah yang menjadi target sasaran musuh Islam. Genderang perang yang ditabuh yang dikemas dengan bentuk  perang dingin (the cold war) terus dikobarkan dari berbagai celah sudut. Baik melalui media internet, televisi, maupun media yang lain yang tidak mendidik. Lambat laun semuanya akan merusak moral dan kepribadian umat Islam dan generasi penerusnya.

Walhasil, peranan generasi muda dalam menopang eksistensi sebuah peradaban sudah tidak bisa pungkiri. Sebagai generasi yang akan melanjutkan segala perjuangan yang sudah ada sebelumnya, maka diperlukan sebuah jiwa militansi yang tinggi serta kesiapan dan pembekalan yang mumpuni dan berkualitas, baik dari segi intelektual maupun spiritual. Sebagaimana sebuah pepatah  Arab:

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ

“Pemuda hari ini adalah pemimpin-pemimpin hari esok”. [] waAllahu a’lam.

__________

[1] Shahih Al-Jami’ no. 2833, dan diriwayatkan oleh Imam malik Bin Anas dalam kitabnya, Al-Muwattho’.

[2] Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain, juz 4 hal 341.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, juz 5 hal 127.

HIMASAL Kediri Istighotsah Bersama Demi Keutuhan Negara

LirboyoNet, Kediri – Ahad pagi (26/02) kemarin, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) cabang Kediri mengadakan kegiatan istighosah bersama. Mereka laksanakan istighosah itu di Masjid Al-Hasan Mojoroto, yang masih berada di dalam lingkungan Ponpes Lirboyo.

Pelaksanaan istighosah ini berkaitan dengan himbauan dari masyayikh untuk bersama-sama mendoakan bangsa dan Negara, yang bertujuan untuk menunjukkan partisipasi dalam menjaga keutuhan Negara (baca: Instruksi Menggelar Istighotsah).

Hadir dalam acara itu, KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah. Selain itu, istighosah ini juga dihadiri oleh jajaran aparatur polisi kota Kediri. Juga tak ketinggalan pengurus PCNU Kota Kediri. Sementara, ratusan alumni kota dan kabupaten Kediri memenuhi bagian dalam masjid dan sebagian halaman. Mereka mulai berdatangan sejak pukul 07.00 WIB.

Adapun rangkaian acara istighosah ini selesai menjelang dhuhur, sekitar pukul 11.00 WIB. Banyak harapan dari para peserta dengan adanya kegiatan ini. Salah satunya, kehidupan bermasyarakat semakin harmonis dengan lebih eratnya persatuan antar masyarakat Indonesia, baik sipil maupun aparatur negara.

Indonesia Maslahat: Relasi antara Agama dan Negara

Saat ini, diskursus bela negara dan cinta tanah air menjadi sangat penting bagi masyarakat, terutama masyarakat Islam. Penting karena konteks merebaknya berbagai konflik politik dan militer dalam skala global telah menempatkan Islam pada puncak kekhawatiran.

Dunia internasional telah gempar dengan berbagai konflik di Timur Tengah yang tak kunjung padam. Mulai konflik  antar sekte, antar kelompok radikal, bahkan konflik pemerintahan sampai konflik transnasional lainnya. Berbagai kelompok pun muncul dengan berbagai klaim yang variatif. Dan pada gilirannya akan saling tempur satu sama lain seolah berebut menjadi penguasa dengan mengusung ideologi dan argumentasi masing-masing.

Sebagian orang mengatakan bahwa pecahnya konflik ini terjadi karena rekayasa musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Kalaupun isu tersebut benar, kita tidak bisa memalingkan muka dari sumber-sumber masalah yang ada dalam tubuh Islam sendiri.

Permasalahan Islam yang cukup kompleks ini cukup menyita perhatian dunia. Sorot tajam pun mengarah ke Indonesia. Bagaimana negara yang mayoritas penduduknya beragama islam ini tidak seperti negara-negara Islam Timur Tengah yang sedang berkemelut perang? Dan bagaimana negara yang dihuni berbagai latar belakang ras, budaya, Agama, suku, bahasa dan lain-lain ini bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis.

Relasi Agama dan Negara

Sebuah keniscayaan bagi Indonesia, bahwa ia lahir dari  keragaman dan kemajemukan. Demikian ini bukan dimaksud sebagai alasan berpecah-belah atau dasar fanatisme kesukuan atau rasisme kebangsaan  bahkan sektarianisme keagamaan. Melainkan agar saling bersedia membangun hubungan yang humanis dan dialogis. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hasil dari pemikiran dan peradaban masyarakat pribumi yang harus dibela dan dipertahankan. Sebuah bangsa yang dibangun atas dasar kesadaran geo politik, cita-cita, dan nilai-nilai luhur yang hidup dan mengakar kuat dalam kepribadian masyarakat. Sebuah bangsa yang bersedia membangun peradaban, persatuan dan kesatuan di atas realita kemajemukan. Sebab, bangsa ini telah memiliki kesadaran nilai-nilai kemanusiaan yang sanggup mengesampingkan perbedaan ras, budaya, agama, suku, bahasa dan lain-lainnya.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentunya barometer peradaban dan hubungan antar masyarakat secara  otomatis ada di pundak Islam. Namun dalam prakteknya, pergerakan yang dilakukan oleh Islam semata-mata berdasarkan agama yang eksistensinya dilandasi atas eksistensi  negaranya. Agama tidak bisa ditegakkan dalam kehidupan masyarakat tanpa adanya negara, kendati simbiosisme agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Namun tidak berarti negara harus dimanifestsikan dalam bentuk negara agama (khilafah).

Di dalam Islam tidak mengharuskan formalitas berdirinya Negara Islam. Karena menurut perspektif Islam, perwujudan negara merupakan perantara yang menjembatani tujuan paripurna agama itu sendiri. Dengan demikian, pembelaan terhadap negara dengan konteks mempertahankan agama merupakan titik pertemuan diskursus Islam dalam negara, sehingga menjadi fenomena tak terbantahkan perkawinan secara harmonis antara prinsip-prinsip keislaman dengan realita kemanusiaan, keindonesiaaan, bahkan relitas dunia modern.

Di abad modern ini, pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman kehidupan bangsa dan bernegara. Karena negara sebagai kebutuhan yang sangat penting  dalam mengimplementasikan agama secara riil dalam kehidupan. Maka semangat beragama harus didasari semangat bernegara. Dengan pengertian sikap moderat dan inklusif Islam ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak berlebihan sekiranya semangat kebangsaan dan cinta tanah air harus mengintervensi terhadap selurus aspek dan elemen masyarakat. Hal ini dimaksudkan demi terciptanya kemaslahatan global, mengakhiri episode berdarah sejarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam membela tanah air dapat diwujudkan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan keadaan masing-masing. Karena dengan begitu, tidak hanya akan terbatas pada perlindungan terhadap negara, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan semua aspek kehidupan. Karena faktanya, tidak sepenuhnya benar jika rentetan tragedi konflik kemanusiaan dalam sejarah hanya terbatas keyakinan belaka. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial dan penindasan yang terajut dalam ketidak-adilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Dan juga diperlukan pemerataan sosialisasi bela negara untuk melahirkan pemikiran nan dinamis serta gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju nan bermoral sebagai kontribusi besar kekuatan bangsa. Dan memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai faham radikalisme, ekstrimisme dan lain-lain yang berpotensi merongrong kebhinekaan bangsa ini.

Namun bentuk cinta tanah air  tidak dapat diperlakukan melebihi porsi yang semestinya. Hal ini betujuan untuk menghindari faham fasisme dan totalitarianisme yang akan menjadikan masyarakat mencintai tanah airnya mengalahkan segalanya. Dan juga cinta tanah air tidak dapat dikesampingkan atau bahkan ditinggalkan sebagaimana masyarakat apatis. Dengan mengambil jalan tengahlah estafet peradaban akan terus berlanjut dan roda kehidupan akan terus berputar menuju masyarakat yang madani dan bermoral.

Disinilah peran Islam untuk bergerak dan mengintervensi seluruh aspek kehidupan. Dengan menimbang nilai-nilai kemaslahatan universal yang menjadi proyek dan tujuan agama itu sendiri, agama dan negara akan berjalan beriringan, akan terus bersinergi dan saling memperkuat dari segi internal dan eksternal untuk memperkuat kesatuan bangsa dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang MASLAHAT (maju, sejahtera, adil, harmonis, aman, dan tentram).

Wallohu a’lam.

Penulis: Nasikhul Amien, santri asal Pasuruan.