560 views

Mengenang KH. Abdul Karim Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo

Tahun 1910 merupakan tonggak awal berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, tempat berjubelnya berpuluh ribu santri. Siapa sangka!!! lingkungan semegah dan seramai ini dahulunya sangat wingit serta mencekam, banyak dihuni para raja jin dan antek-anteknya, markas bromocorah dan kawan-kawannya, favorit para begal untuk bersembunyi mengintai saudagar lewat. Kawasan yang dahulunya dijauhi kini bak magnet dengan kekuatan beribu-ribu gauss yang dapat menarik siapa pun.

Adalah KH. Abdul Karim, menantu dari KH. Soleh banjar melati, sang maha guru, sosok di balik kesuksesan Pondok Pesantren Lirboyo. Manab, nama kecilnya, bukanlah putra kyai terkenal yang sangat disegani, melainkan seorang petani biasa dari Magelang yang menggantungkan hidupnya setiap hari dari sepetak tanah. Satu kalimat yang terkenal di Lirboyo “Tanpa nasab ilmu pun jadi”.

Baca juga: Kebesaran Hati Ibunda KH. Abdul Karim

Dengan berbekal nasi satu bakul, sayur satu mangkuk dan selembar tikar, Kyai Sholeh serta Kyai Asy’ari mengantar Kang Manab menuju Lirboyo pada malam hari. Setelah kedua mertua dan kakak iparnya kembali praktis ia sendirian, sebab Nyai Dlomroh, sang istri, baru menyusul dua hari setelahnya dengan hanya berbekal sedikit beras, kayu bakar dan seekor ayam blorok.

Sebagai pendatang baru di Lirboyo, bukan sambutan hangat yang menyapa, malahan caci maki dan teror yang terus menghampiri Kyai Abdul Karim dan sang istri. Hal ini maklum, sebab dengan hanya terdiri dari 41 keluarga yang masih jauh dari agama Islam, banyak yang tidak suka dengan kedatangan keduanya.Teror tidak hanya datang dari mereka yang nampak, para penghuni Lirboyo yang tidak nampak pun turut mengganggu dan meneror.

Akan tetapi, sang maha guru kita bukanlah sekedar pendatang biasa, beliau adalah sang panutan, cerminan bagi berjuta-juta santrinya kelak. Dengan kedalaman ilmu yang didapatkan selama berpuluh tahun dari gurunya, syikhuna Kholil Bangkalan, menjadi as-shohib bil al-janmbi, lafadz-lafadz al-Quran dan hadist bukan sekedar bacaan, melainkan telah melekat pada pribadi kekasih Allah Swt. tersebut.

Baca juga: Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim

Dalam diamnya, sang kyai dengan lantang berteriak seolah ingin mengajarkan kepada murid-muridnya hadist Rasulullah Saw.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukan mereka yang sering menang gulat, orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Al-Bukhori)

Kesabaran adalah kemenangan, melawan aliran air hanya akan membuat kita hanyut, dengan sabar KH. Abdul Karim menghadapi tetangga yang memusuhi sembari perlahan-lahan menyampaikan ajaran nabi lewat bahasa laku dan sopan santun.

Bahkan, menurut penuturan KH. Effendi Mursyad, salah satu murid dan khodim KH. Abdul Karim, banyak santri dari bangsa jin yang diajar oleh KH Abdul Karim, konon oleh beliau jin yang nakal dan sering mengganggu santri, digendongi lalu ditempatkan di dempul.

Demikianlah, dengan kesabaran Lambat laun, sifat antipati menjadi simpati, penolakan menjadi sambutan hangat. Hingga akhirnya Lirboyo bisa seperti sekarang ini.

Untuk kawan-kawan yang tengah remuk redam hatinya; untuk mereka yang tengah dilanda berbagai ujian dalam hidup, baik di rumah, di jalan raya, di tempat kerja maupun di tengah masyarakat; untuk saudara-saudara yang tengah dihinakan harkat derajat kemanusiaannya; dan untuk siapa saja yang tengah berusaha untuk bersabar, jadikanlah sabar sebagai penolongmu dan ubahlah kelemahan menjadi sebuah kekuatan lewat kesabaran.

Baca juga: KH. Masdain: Metode ngajar Mbah Marzuqi

Ikuti siaran langsung Haul Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Abdul Karim melalui channel Youtube Pondok lirboyo

6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.