HomeAngkringMungkinkah Mengubah Takdir dengan Doa?

Mungkinkah Mengubah Takdir dengan Doa?

0 2 likes 200 views share

Di suatu hari pada tahun-tahun kepemimpinan sahabat Umar RA. Beliau mengadakan perjalanan dari kota suci menuju negri Syam (sekarang Syiria). Beliau tidak sendiri, mengajak serta rombongan untuk suatu keperluan. Bersama beberapa sahabat, termasuk sahabat besar Abu Ubaydah bin Jarrah. Salah satu tokoh yang saking salihnya sampai pernah dinominasikan menjadi calon khulâfaur râsyidûn.

Dalam balut terik mentari dan sengat panas awan, rombongan mendekati negri Syam. Kota dagang strategis, mantan wilayah administrasi Romawi. Namun saat kota subur itu sudah semakin dekat, kabar tidak mengenakkan tiba-tiba tersiar. Musibah penyakit thâ’un atau wabah pes —sebagian orang lain menyebutnya sampar—sedang genting menyerang Syam. Rakyat sipil berjatuhan. Masyarakat banyak yang mati tak tertolong. Ratusan atau entah sudah ribuan korban telah tercatat meninggal.

Disini rombongan mulai gusar. Haruskah perjalanan dilanjutkan? Atau haruskah rombongan kembali saja ke Madinah? Keputusan tegas diambil oleh Khalifah Umar RA: rombongan harus putar haluan, kembali ke kota suci. Tidak ada seorangpun yang ikut serta dijinkan meneruskan langkah. Semua harus ikut serta kembali dengan selamat.

Tapi sahabat besar Abu Ubaiydah menyanggah. Ia berpendapat lain, ijtihadnya mengatakan kalau ini bukan alasan tepat untuk pulang. “Adakah engkau hendak lari dari takdir Allah, hai amirul mukminin?” Kata beliau.

“Andai saja bukan engkau yang bilang begitu…” Ujar sahabat Umar dengan nada agak mengancam, mungkin ditunjukkan pada rombongan lain. Sebab sahabat Abu Ubaydah RA adalah as-sâbiqunal awwalûn. Gelar langka para pemeluk Islam paling awal, yang oleh sejarahwan Ibn Hisyam jumlahnya hanya dicatat empat puluh orang.

Khalifah Umar RA melanjutkan dengan kata-katanya yang amat terkenal itu: hingga mirip prasati. “Ya, benar, kita lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah.”

“Bagaimana pendapatmu, jika kau bersama seekor unta berada di jurang yang punya dua sisi, satu sisi adalah tempat yang subur, dan sisi lain adalah tempat tandus? Bukankah kalau kau gembalakan unta itu di lembah yang subur itu adalah takdir Allah? Dan bila kau gembalakan di tempat yang tandus juga adalah takdir Allah?” Tutur khalifah Umar RA menafsiri kalimatnya. Dan semua orang sepakat.

***

Bicara takdir adalah ibarat mengurai benang kusut. Ia menghadirkan banyak spekulasi di benak banyak orang. Ada yang menafsirinya begini, ada yang menafsirinya begitu. Ada yang memandangnya macam ini, atau macam itu. Dan definisinya bagi orang awam lama-kelamaan membias. Pendapat silih berganti, tapi semua orang punya tendensi.

Ada yang bilang, doa bisa mengubah takdir. Ya, itu sabda Nabi: tak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Tapi, apa maksudnya? Bukankah garis ilahi bernama takdir itu adalah hal mutlak, tak bisa digugat? Lantas pikiran yang jenuh akhirnya berkata: untuk apalah berdoa. Sebab pasti takdir tuhan akan jatuh juga. Untuk apalah menyiram benih yang telah disemai, toh kalau tuhan menakdirkannya tumbuh, akan tumbuh jua.

Dan imam al-Ghazali menjawab kejanggalan itu. Kata beliau, doa ibarat sebuah tanda. Alamat akan jatuhnya suatu perkara. “Termasuk diantara takdir Allah, adalah tertangkalnya musibah berkat doa.” Kata beliau. Sederhananya, bila Allah sudah menggariskan seorang hamba akan tertimpa musibah, maka Allah juga menggariskan hamba-Nya untuk tidak diberi kesempatan berdoa: entah karena hamba itu lupa, atau punya anggapan aneh ‘apalah artinya berdoa’. Lain cerita, bila suratan menyatakan takdir buruk tak akan terjadi, Allah mestinya akan menakdirkan hambanya untuk berdoa. Demikian Sayyid Murtadha az-Zubaydi menafsiri dawuh imam al-Ghazali.

Artinya keliru jika masih ada yang berangkat berperang tapi enggan memakai baju zirah dan tak mau menenteng pedang, lalu percaya dengan mantap, pasrah kepada tuhan kalau nanti dia akan selamat. Sebab, mungkin itulah alamat ia akan mati di medan perang: sebab Allah menakdirkannya pergi dengan tangan kosong. Sebab takdir adalah umpama “jaring” yang saling terkait: ada sebab maka ada akibat. Dan semua tidak saling bertaut. Setiap peristiwa ada hubungannya dengan peristiwa lain. “Ia yang menakdirkan kebaikan, menakdirkan kebaikan itu melalui suatu sebab. Dan Ia yang menakdirkan keburukan, juga menakdirkan suatu sebab untuk menolaknya.” Imbuh imam al-Ghazali.

Rasul pernah menegur sahabat yang enggan menambatkan tunggangannya dengan tali. Sahabat Nabi itu berujar, ia sudah bertawakkal. Namun Nabi adalah punggawanya bijak bestari, beliau tetap memerintahkan agar tunggangan itu diikat, barulah pantas berkata tawakkal. Artinya, bahkan Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan kita berpangku tangan. Sebab setiap jerih payah dan usaha, termasuk doa yang kita panjatkan, —kita hanya bisa berharap— mungkin saja itu adalah tanda-tanda keberhasilan di hari kelak.][