Tag Archives: kesehatan santri

Santri Ikuti Imunisasi Campak dan Rubella

LirboyoNet, Kediri- Ratusan santri yang masih kecil tampak memadati Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo jumat pagi tadi. Mereka adalah santri-santri yang rata-rata berusia dibawah lima belas tahun. Secara berurutan, mereka menunggu dipanggil namanya untuk mendapatkan imunisasi campak dan rubella gratis.

Husni, salah seorang santri yang masih berusia dua belas tahun asal Magelang hanya tersenyum polos ketika ditanya bagaimana rasanya diimunisasi.

Gak sakit, cuma kayak digigit semut.”

Ia juga mengaku sama sekali tidak grogi dan takut saat menghadapi jarum suntik.

Gak deg-degan kok, udah biasanya disuntik.”

Imunisasi ini hanya dikhususkan untuk santri yang masih kecil, dan sebelum melakukan imunisasi, mereka harus dipastikan sehat dan tidak sedang dalam kondisi sakit. Jika sedang sakit, imunisasinya ditunda untuk sementara waktu. Beberapa santri yang nampak sedang batuk dan demam terpaksa harus kecewa dan pulang tanpa mendapatkan imunisasi. Mereka harus sabar dulu, dan menunggu sampai sakitnya sembuh.

Program ini sejatinya merupakan program dari Pemerintah Pusat, dan untuk Ponpes Lirboyo pelaksananya adalah petugas dari Puskesmas kecamatan Campurejo.

Ini program pemerintah, dan Lirboyo itu masuknya wilayah operasi Puskesmas Campurejo.” Tutur Asep, salah satu petugas yang turut membantu mensukseskan imunisasi campak kemarin. “Selain di pondok, juga dilakukan di sekolah-sekolah” tambahnya.

Selain untuk santri-santri putra, imunisasi ini juga dilakukan serempak untuk santri-santri putri. Mereka mendapatkan imunisasi gratis di pondok unit mereka masing-masing.

Penyakit campak dan rubella merupakan penyakit mudah menular yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata atau konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramixovirus. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi dini pada usia waktu masih anak-anak, agar ketika ketika anak-anak menjadi dewasa dapat kebal dari virus dan tidak terjangkit.][

Seminar Kesehatan: Hidup Sehat Anak Pesantren

LirboyoNet, Kediri – Santri identik dengan penyakit kulit, anggapan itu mungkin yang kali ini coba ditepis. Karena ternyata santri tak selalu identik dengan lingkungan yang kotor. Santri juga tidak selalu identik dengan berbagai permasalahan kesehatan. Lewat seminar kesehatan dengan tajuk “Hidup Sehat Anak Pesantren”, ribuan santri mendengarkan berbagai macam informasi baru seputar dunia kesehatan. Khususnya seputar permasalahan yang erat kaitannya dengan kulit.  Sekitar dua jam lamanya, mereka duduk khidmat di Aula Muktamar Ponpes Lirboyo. Acara yang dilaksanakan bakda zuhur setelah musyawarah Tsanawiyah dan Aliyah ini, hanya diikuti para siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien kelas satu Tsanawiyah hingga satu ‘Aliyah saja.

Program ini digelar oleh Kimia Farma, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang perobatan. Ini merupakan program Edukasi Kesehatan yang memang khusus dilakukan dikalangan santri dan pondok pesantren saja. Program ini sudah berjalan satu tahun ini. Dan tutornya adalah para dokter-dokter yang telah berpengalaman. Program ini sendiri sebelum sampai ke Ponpes Lirboyo, sudah sebelumnya sudah sampai di pondok-pondok pesantren lain di berbagai kota-kota besar, seperti Semarang, Jombang, Medan, dan lain-lain.

Kemarin juga rencananya digelar di Pondok Pesantren Saikhuna Kholil Madura, tapi terkendala pas waktu ujian. Akhirnya dimundurkan Januari besok,” tutur Oki Setiawan, Area Manager Kimia Farma Jatim saat ditemui Tim LirboyoNet.

Siang itu, Kimia Farma menghadirkan dua orang pemateri, dr. Agus Wisnu dari Pare dan dr. Nasri Anderson dari Kediri.

Agus H. Adibussholeh Anwar, selaku pimpinan pondok menyampaikan dalam sambutannya, “pikiran bahwa anak pondok belum gudiken belum krasan harus dihilangkan.” Kalimat tersebut disambut tawa santri. Beliau juga mengingatkan, bahwa menjaga kebersihan merupakan satu hal yang sangat penting. Hal tersebut serasi dengan “semboyan” umat Islam bahwa kebersihan sebagian dari sempurnanya iman. “Annadhofatu minal iman, itu jargon kita.” Imbuh beliau. Beliau juga menekankan, pentingnya menjaga kebersihan harus dimulai dari pribadi masing-masing, “kebersihan dimulai dari diri sendiri,” ungkap Gus Adib, panggilan akrab beliau.

Dr. Agus sebagai pemateri pertama, menyampaikan banyak pengetahuan mendasar tentang kesehatan kulit. Penyakit gatal atau pruritas, menurutnya, disebabkan oleh banyak faktor pendukung. Bisa disebabkan alergen, jamur, parasite, kuman, virus, dan lain sebagainya. Causa primer (penyebab utama) tersebut juga bisa berasal dari banyak hal, misalkan saja kosmetik, detergen, sabun mandi, perhiasan, bahkan pakaian kasar.

Setiap orang punya pertahanan tubuh. Ada yang sensitive, ada yang hiprsensitif.” Tutur dr. Agus, “tubuh kita dalam kondisi hipersensitif akan mengalami kondisi gatal.

Sementara itu, banyak cara untuk menyembuhkan penyakit gatal. Penyakit gatal disebabkan alergi misalkan, penyembuhannya bisa dilakukan dengan cara terapi bertahap. “Cara menghilangkan bisa dengan dilatih,” ungkapnya. Seperti dicontohkan, orang yang alergi makan udang, maka menghilangkannya justru dengan melatih diri makan udang,  “udang satu, dibagi sepersepuluh”. Santri-santri tampak tak percaya. Tapi ternyata hal itu memang nyata dan menjadi pengalaman pribadi dr. Agus pada salah satu pasiennya. Ia meminta pasiennya yang alergi udang untuk makan udang secara bertahap, sedikit demi sedikit porsinya ditambah. Jika terasa gatal, maka porsinya dikurangi.

Untuk penyakit gatal memang berbeda-beda penanganannya. Hal itu perlu dikonsultasikan pada dokter yang memang menangani bidang tersebut, jika setelah diberikan pertolongan pertama selama beberapa hari, rasa gatal tak kunjung hilang.

Dr. Agus juga membagi satu tips. Jika terasa gatal, dan hendak menggaruk namun memiliki kuku panjang, maka jangan pernah menggaruk menggunakan kuku. Bagian yang gatal digaruk dengan ujung jari. Karena kuku bisa saja menjadi sarang penularan penyakit yang justru memperparah keadaan.[]

Gratis, PDGI Periksa Gigi 1.000 Santri

LirboyoNet, Kediri – Tidak banyak santri Lirboyo yang rutin memeriksakan giginya. Padahal, setiap orang idealnya memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali. Alasan mereka berupa-rupa. Malas keluar pondok. Tidak tahu tempatnya. Takut suntikan.  Dan masih banyak lagi. Tapi bagaimana kalau dokter gigi yang datang sendiri, tanpa biaya pula?

Ahad (31/07), ratusan santri tampak memadati halaman sekolah MA HM Tribakti, salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo unit HM Al Mahrusiyah. Mereka berbaur dengan puluhan orang berbaju putih-ungu, sambil memegang secarik kertas biru-hijau-kuning. Mereka sedang menunggu giliran masuk ruang kelas. Tentu saja dengan harap-harap cemas: antara bayangan kesakitan yang sangat, atau menderita sakit gigi lebih lama lagi.

Tidak kurang dari 130 dokter gigi di seluruh kota/kabupaten Kediri menyisihkan waktu mereka untuk menyediakan diri memeriksa gigi para santri. Mereka yang tergabung dalam Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) cabang Kediri ini sudah membuka ruang kelas sejak pukul 06.30 WIB. Dengan dibantu beberapa pengurus pondok, mereka melayani seluruh santri yang datang, baik putra maupun putri.

Tuan rumah, yakni Ponpes HM Al Mahrusiyah, mendapat porsi dua ratus santri, seratus santri putra dan seratus santri putri.  Selain itu, pemeriksaan gigi gratis ini juga berlaku bagi santri pondok induk dan pondok unit lain. Tak lupa, panitia juga menyediakan porsi bagi masyarakat sekitar. Total, ada seribu tiket yang disebar.

Agus H. Nabiel Ali Utsman, salah satu pengasuh PP HM Al Mahrusiyah menilai, apa yang dilakukan PDGI ini sebagai amal yang sangat positif. “Sangat membantu para santri dan masyarakat untuk berlaku hidup sehat. Terutama bagi santri yang kesehatan mulut dan gigi mereka sangat rentan. Entah karang gigi, lubang dan lainnya.”

Tidak hanya sebatas pemeriksaan dan pembersihan saja. para dokter juga mempersilahkan bagi mereka yang ingin mencabut maupun menambal gigi berlubang mereka. “Tadi ketemu dokter langganan saya. ‘Giginya mau diapain lagi mas?’ ‘ya diapain gitu bu. Yang penting saya makan bisa tenang’,”  ungkap Zain Zanahar, salah satu santri yang terpaksa harus menambal giginya kembali karena memang sudah banyak yang berlubang.

Kegiatan ini memang menjadi agenda rutin dari PDGI kota-kabupaten Kediri. Tahun lalu, mereka datang ke Ponpes Al Falah Ploso. “Setiap tahunnya, kami berpindah-pindah tempat. Kebetulan, dua tahun ini ada di pesantren,” tutur Abdurrahman, salah satu anggota PDGI.

Kenapa Ponpes HM Al Mahrusiyah? Usut punya usut, kronologinya berawal dari ketidaksengajaan. “Saya punya teman di PDGI. Dia cerita kalau ada kegiatan seperti ini. Mumpung ada kesempatan, langsung saya minta untuk datang ke sini,” ungkap Gus Nabil, sapaan Agus H. Nabiel Ali Utsman.

Beliau yang merupakan putra keempat almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus ini berharap, PDGI bersedia untuk datang kembali tahun depan. Mengingat, santri-santri membutuhkan peran elemen-elemen yang perhatian dengan kesehatan santri, di samping antusiasme mereka yang tinggi untuk mengikuti kegiatan ini.][