Kediri – Lantunan doa dan gemuruh selawat menjadi penanda sakral bagi pergantian tahun di Kota Kediri. Sejak pukul 15.30 WIB, rombongan santri berbusana putih tampak memadati jalanan. Puluhan ribu santri dari berbagai pesantren, termasuk rombongan besar Pondok Pesantren Lirboyo, berjalan kaki dengan tertib menuju Balai Kota Kediri di Jalan Basuki Rahmat No. 15, Pocanan.
Kehadiran massa santri yang luar biasa ini adalah untuk menghadiri perhelatan agung Istighotsah & Do’a Bersama Akhir Tahun 1447 H & Awal Tahun 1448 H. Acara yang diinisiasi oleh PCNU Kota Kediri bersama Pemerintah Kota Kediri ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota KH. Qowimuddin Thoha, serta jajaran ulama sepuh dan tokoh masyarakat Kediri.
Tak hanya Lirboyo, keberkahan acara ini juga dirajut oleh kehadiran santri dari Pondok Pesantren Maunah Sari, Al-Islah, As-Saidiyah, Al-Husna, dan Al-Huda. Adapun dari Pondok Pesantren Lirboyo, delegasi yang memadati lokasi adalah santri kelas III I’dadiyah, kelas 1 sampai 3 Aliyah, serta Mahasantri Ma’had Aly Semester I-V.
Membawa pesan spiritual yang mendalam, kolaborasi PCNU dan Pemkot Kediri kali ini mengusung tema “Bermunajat Untuk Menyongsong Masa Depan yang Gemilang”.
Baca juga: Di Lirboyo, Prof. Mahfud MD Jelaskan Pergulatan Intelektual di Balik Lahirnya Konstitusi Indonesia
Suasana Khusuk Pembacaan Istighotsah dan Doa Awal-Akhir Tahun
Acara yang sarat nilai spiritual ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustad Basyaruddin, M.Pd. Lantunan Surat al-Hasyr ayat 18-19 yang beliau bawakan menggetarkan sanubari, sekaligus menjadi alarm penting bagi setiap hadirin tentang esensi mempersiapkan bekal untuk hari esok.
Suasana kian khusyuk dan mendalam saat Rais Syuriah PCNU Kediri, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, memimpin pembacaan istighotsah. Ribuan santri dan warga kota yang hadir tampak menundukkan kepala, melafalkan zikir dengan penuh penghayatan, menciptakan kekhusukan tersendiri di pelataran Balai Kota.
Menjelang detik-detik akhir tahun, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memimpin pembacaan doa akhir tahun 1447 H. Tepat setelah doa pungkasan tersebut beliau bacakan, kumandang azan Maghrib menggema, menandai secara resmi masuknya Tahun Baru Islam 1448 H. Setelah melaksanakan jamaah salat Maghrib bersama, acara berlanjut dengan panjatan doa awal tahun yang kembali KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus pimpin.
Baca juga: Rapat Koordinasi dan Pengarahan Ketua Kamar Perkuat Pelayanan Santri di Pondok Pesantren Lirboyo
Sambutan PCNU Kediri oleh KH. Abu Bakar Abdul Jalil
Ketua PCNU Kota Kediri, KH. Abu Bakar Abdul Jalil (Gus Ab), dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada semua pihak—mulai dari pemerintah daerah hingga para pengusaha—yang telah menyukseskan acara ini. Beliau juga dengan rendah hati menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat luas.
“Bilamana malam hari ini mengganggu dan menghambat kegiatan para warga Kota Kediri, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” tutur Gus Ab.
Beliau menambahkan bahwa esensi utama dari agenda ini adalah refleksi diri. “Acara ini tentu terkandung maksud bermuhasabah. Maka di tahun baru ini, kita mencoba hijrah dari amaliyah yang kurang baik kepada amaliyah yang lebih baik.”
Baca juga: Pelaksanaan Kurban 1447 H di Lirboyo Berjalan Tertib dan Kondusif
Sambutan Walikota Kediri Vinanda Prameswati, SH, M.Kn.
Senada dengan hal tersebut, Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, SH, M.Kn., menekankan bahwa pergantian tahun laksana cermin kehidupan yang terus berjalan.
“Yang berganti bukan hanya angka tahun, tapi juga bertambahnya pengalaman, berkurangnya umur kita, dan bertambahnya amanah bagi kita semua,” ujar Wali Kota.
Vinanda Prameswati, SH, M.Kn. kemudian mengajak seluruh jemaah memanjatkan doa terbaik untuk tanah kelahiran. “Kita doakan Kota Kediri menjadi kota yang aman, yang tenteram, kotanya teduh, dan anak-anaknya berprestasi, serta kiai-kiainya selalu diberi kesehatan oleh Allah.”
Baca juga: Suasana Lebaran Idul Adha di Lirboyo: Gema Takbir, Salat, Kurban dan Hangatnya Sambangan Wali Santri
Mauidzotul Hasanah Oleh KH. Anwar Iskandar
Puncak wejangan spiritual sekaligus Mauidzatul Hasanah disampaikan oleh ulama sepuh, KH. Anwar Iskandar. Dalam dawuhnya, beliau membedah makna historis di balik bulan Muharram yang dalam kultur Jawa kerap kita sebut Bulan Suro. Beliau menjelaskan bahwa nama Suro berakar dari kata Asyura’ (tanggal 10), sebuah tanggal monumental yang sarat sejarah sejak zaman Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.
Kiai Anwar Iskandar juga mengulas kembali memori sejarah saat penetapan kalender Hijriah oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Meski ada usulan memulai tahun dari bulan kelahiran Nabi (Rabi’ul Awal) atau bulan turunnya perintah salat (Rajab), Sayyidina Umar memilih Muharram. Hal ini karena Muharram adalah bulan yang heroik, mengabadikan peristiwa hijrahnya kaum muslimin sebagai tonggak peradaban baru.
Lebih lanjut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengingatkan pentingnya menjaga Kediri sebagai pilar penyangga bangsa. “Kediri adalah bagian dari Indonesia. Kita bicara tentang Kediri berarti kita berbicara Indonesia, kita berbicara Indonesia berarti kita bicara tentang Kediri,” tegas beliau.
Perhelatan yang mempertemukan umara, ulama, dan puluhan ribu santri ini akhirnya ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Ahmad Sholeh Abdul Djalil, disusul dengan pelaksanaan salat Isya’ berjemaah yang mengakhiri malam pergantian tahun dengan penuh keberkahan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





