Hati-hati Ketika Diri Merasa Ikhlas

ikhlas

Pengertian

Dalam kitab Tazkiyatun Nufus, ikhlas adalah melaksanakan ibadah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sifat ini juga dapat kita ungkapkan sebagai lupa kepada semua makhluk (ketika melakukan amal), dengan sebab sibuk memikirkan Sang Pencipta.

Perlu kita ketahui bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya amal saleh, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Telah Allah perintahkan juga dalam al-Quran:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

yang artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,” (QS. Al-Bayyinah:05).

Baca Juga: Hikmah Dibalik Kesulitan

Banyak pula hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan sifat ini, bahkan seorang hamba tidak akan merdeka dari godaan setan kecuali dengan ikhlas, karena sudah Allah telah berfirman dalam al-Quran:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغۡوِيَنَّهُمۡ اَجۡمَعِيۡنَۙ‏ (٨٢) اِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ الۡمُخۡلَصِيۡنَ‏ (٨٣)

“Iblis berkata, ‘Demi keagungan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. As-Shad :82-83)

Dengan demikian, selain menjadi syarat agar amal kita Allah terima, sifat ini memiliki peranan penting untuk menjauhkan manusia dari musuh nomor satunya.

Baca Juga: Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rajab

Belajar Ikhlas

Maka, yang perlu kita ketahui saat ini adalah; bagaimana caranya agar kita bisa ikhlas, bagaimana kita belajar untuk ikhlas?

Dalam kitab Tazkiyatun Nufus, sifat ini bisa kita peroleh dengan menghancurkan nafsu terlebih dahulu. Yakni dengan berhenti untuk tidak tamak pada dunia, dan selalu berfikir untuk akhirat.

Banyak manusia yang bekerja keras untuk amal yang sholih, dan menyangka bahwa dia sudah ikhlas, ternyata dalam melaksanakan amalnya dengan tanpa sadar terbuai dengan hal-hal lain, karena ternyata yang ia inginkan adalah ‘pandangan manusia’, bukan ‘pandangan Allah Swt.

Baca juga: Hukum Khataman Al-Qur’an Online

Kisah: Kesalahan dalam Memahami Ikhlas

Sedikit kisah dari sebagian ulama, bahwa pernah ada seseorang yang melaksanakan sholat dalam waktu yang cukup lama di shaf pertama. Suatu hari, ia mengakhirkan sholatnya dan menempati shaf yang kedua. Kemudian ia malu karena melaksanakan sholat di shaf kedua itu, karena ia merasa terbiasa terlihat oleh jamaah lain sholat berada di shaf awal.

Perasaan seperti ini bisa kita kategorikan tidak ikhlas, walaupun sangat samar dan tanpa kita sadari. Orang-orang yang lupa pada dirinya sendiri, dalam artian ia selalu merasa ikhlas, namun tanpa sadar dalam melakukan amal masih memprioritaskan penilaian orang lain. Di akhirat kelak, yang kita anggap sebagai kebaikan ini itu justru akan menjadi keburukan. Naudzubillah.

Baca Juga: Trik Pengawasan Orang Tua Pada Anak Di Era Digital Ala Ulama

Seperti dalam firman Allah Swt.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا . ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

yang artinya: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Semoga kita Allah jadikan dada kita lapang, sehingga kita sudah tidak memprioritaskan orang lain dalam segala amal kita serta allah jauhkan kita dari tipu daya setan.

Baca Juga: Hukum Memberikan Ucapan Selamat Natal

 Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

2 thoughts on “Hati-hati Ketika Diri Merasa Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses