KH. AHS. Zamzami Mahrus: Ilmu dan Barokah

Pembukaan Aktifitas Lajnah Bahtsul Masail

Dalam acara Pembukaan Aktivitas Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH. AHS Zamzami Mahrus menyampaikan wejangan yang sarat makna bagi para santri tentang hakikat belajar di pesantren. Beliau menekankan bahwa yang utama dicari di pesantren bukan sekadar pengetahuan, melainkan ilmu dan barokah. Keduanya hanya bisa diraih dengan adab, kesungguhan, dan doa.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur : Keutamaan Birrul Walidain

Empat Jalan Meraih Ilmu dan Barokah

Menurut beliau, terdapat empat hal pokok yang harus dijalani oleh setiap santri agar memperoleh ilmu yang bermanfaat sekaligus barokah:

  1. Bersungguh-sungguh (mempeng).
    Santri sering kali mengalami kesulitan dalam memahami dan menghafal pelajaran. Namun, kesulitan bukan alasan untuk putus asa. Justru dengan kesungguhan dalam kesulitan, barokah ilmu dapat santri raih. Beliau mencontohkan Mbah Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo, yang saat mondok mengalami kesusahan luar biasa, namun justru itulah yang membuat ilmu beliau penuh keberkahan.
  2. Menghormati guru.
    Santri dituntut untuk selalu husnudzan (berprasangka baik) kepada guru, bahkan ketika sang guru melakukan kekhilafan. Sebab, kesalahan adalah hal yang manusiawi, sedangkan adab santri kepada guru adalah pondasi utama keberhasilan menuntut ilmu.
  3. Memuliakan orang tua.
    Seorang santri wajib berbicara dengan santun kepada orang tua, membantu mereka saat di rumah, serta menjaga akhlak mulia dalam berbakti.
  4. Mendoakan.
    Setelah melakukan ikhtiar lahiriah, santri juga wajib mengiringinya dengan doa, baik untuk diri sendiri, guru, maupun orang tua.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syukur atas Kelahiran Nabi

Empat Hal yang Mengangkat Derajat Luhur

Lebih lanjut, KH. Zamzami menjelaskan ada empat hal yang menjadikan seorang hamba yang hina (budak) dapat mulia bagaikan seorang pemimpin (sayid):

  1. Ilmu.
    Ilmu menjadi pembeda utama yang mengangkat derajat manusia.
  2. Amanah.
    Ketika diberi tanggung jawab, maka seorang santri harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, termasuk amanah dalam bermusyawarah.
  3. Kejujuran.
    Kejujuran merupakan kunci derajat seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
    إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
    “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang jujur akan tercatat sebagai orang jujur di sisi Allah. Sesungguhnya kebohongan menunjukkan kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka. Seseorang yang terus-menerus berdusta akan tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim)
  4. Akhlaqul Karimah.
    Sebanyak apa pun ilmu yang kita miliki, ketika tanpa etika dan akhlak mulia, maka ilmu tersebut akan kehilangan nilainya.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Perintah Rasulullah untuk Para Pelajar

Penutup: Shalat Jamaah sebagai Asbabul Futuh

Di akhir dawuhnya, KH. Zamzami berpesan agar para santri jangan melupakan shalat berjamaah. Karena shalat berjamaah termasuk asbabul futuh, yakni kunci keberkahan dan jalan terbukanya pintu kemudahan serta kesuksesan seorang hamba.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses