All posts by Niqo Maimun Mahera

Fadhilah Ilmu: Belajar dan Mengajar

Banyak ulama mengatakan: ketika seorang pelajar bisa mempersatukan akal, adab, dan mempunyai pemahaman yang baik, serta mempunyai Guru yang sabar, rendah hati, juga piawai dalam mengajar, niscaya sempurnalah nikmat diantara keduanya.

Disebutkan pula oleh ulama yang lain, dalam sebuah syair:

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلاَّ بِسِتَّةٍ × سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانِ

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ × وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Artinya: “Saudaraku, ilmu tak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan dengan detail. Cerdas, mempunyai kemauan, bersungguh-sungguh, dan mempunyai biaya, memilih guru, dan waktu yang lama.

Hasan Al-Bashri pernah berkata bahwa goresan pena seorang yang alim adalah tasbih, dan berisi pengetahuan. Melihat orang alim adalah ibadah, dan tinta yang digoreskan seperti darahnya orang yang mati syahid. Ketika orang yang alim tersebut dibangkitkan dari kuburnya, orang-orang akan melihat dirinya dikumpulkan bersama para Nabi.

Begitu mulianya orang yang ahli ilmu menurut Hasan Al-Bashri. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اتَّكَأَ عَلَى يَدِهِ عَالِمٌ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ،  مَنْ قَبَّلَ رَأْسَ عَالِمٍ كَتَبَ اللّٰه لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَة.

Artinya: “Barangsiapa yang menjadi sandaran orang Alim, Allah menulis (pahala) disetiap langkahnya  sama dengan memerdekakan budak. Barangsiapa mencium kepala orang Alim, Allah menulis disetiap rambutnya sebuah kebaikan.”

Belajar sejenak di waktu malam lebih baik dari pada mengisi malam dengan kegiatan lain، juga lebih baik dari berdzikir.

Abu Laits mengatakan “Seseorang yang duduk (di sebuah majlis) bersama orang Alim meski tidak dapat mengingat ilmu yang didapat darinya akan tetap mendapat 7 kemuliaan; anugerah yang diperoleh para pelajar, terjaga dari dosa, turunnya rahmat saat keluar dari rumahnya, saat rahmat diturunkan di perkumpulan tersebut ia juga mendapatkannya, dituliskan pahala ketaatan selama ia mendengarkan apa yang disampaikan, saat hatinya tidak dapat memahami  apa yang disampaikan, kegundahan hatinya akan menjadi lantaran menuju ridha Allah karena satu keterangan (dalam hadits qudsi) Allah mengatakan:

اَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ أَجْلِيْ

“Aku bersama orang-orang yang gundah hatinya karena-Ku.”, dan hatinya memunculkan keengganan melakukan perbuatan fasiq serta cenderung memikirkan ilmu.

Beliau (Abu Laits) juga mengatakan: “Orang yang bercengkrama bersama delapan golongan (dibawah ini) akan memiliki dampak tersendiri; bercengkrama bersama orang-orang kaya oleh Allah akan ditambah kecintaannya pada dunia, bercengkrama dengan orang-orang faqir dapat memunculkan rasa syukur kepada Allah, Berkumpul bersama para pemimpin dan penguasa membuat hati semakin sombong, berbaur dengan wanita bisa mengurangi keilmuan yang seharusnya didapat dan hanya akan memperbesar syahwat, bermain bersama anak-anak membuatnya lupa, bergaul dengan orang-orang fasiq hanya akan menambah keberanian untuk melakukan dosa serta menunda-nunda untuk bertaubat, berkumpul dengan orang-orang saleh akan menambah kecintaan pada keta’atan, berkumpul bersama Ulama dapat menambah pengetahuan dan pengalaman.

Baca juga: Doa dari Hadramaut

Doa dari Hadramaut

LirboyoNet, Hadramaut–Ahad malam Senin (16/02), tepatnya di Sakan Bahakim, Fuwwah Masakin, Mukalla, pelajar indonesia, khususnya alumni Pondok Pesantren Lirboyo yang ada di sana ikut membacakan doa dan tahlil dalam rangka memperingati tujuh hari wafatnya KH. A. Habibulloh Zaini.

Telah kita ketahui bahwa Kiai Habibulloh adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara dahar, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqh, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadluan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kiai-kiai yang lain.

Sikap tawadlu’ beliau terlihat pada saat momen dahar bersama kiai-kiai yang lain di ndalem Kiai Sahal Mahfudh. Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan dahar siang di Kajen, Kiai Habibulloh justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kiai-kiai lain yang berusia lebih lanjut. Tawadlu’ beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kiai Habibulloh, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab al-Hikam Kamis Legi yang diampu KH. M. Anwar Manshur tersebut.

Imam al-habib Ali Al-Habsyi dawuh:

فما من خلق في البرية محمود إلا وهو متلقى عن زين الوجود

“Semua akhlaq terpuji dalam diri makhluq pasti bersumber dari Nabi SAW. sang Perhiasan alam

semesta”

Para alumni pondok pesantren lirboyo di daerah lain juga melaksanakan tahlil untuk memperingati tujuh hari wafat beliau. Semoga Allah SWT selalu menyinari maqbaroh beliau, dan kita sebagai santrinya selalu mendapatkan berkah perjuangan beliau.

Baca Juga: Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

Penutupan FMPP XXXVI, Menag Fachrul Razi: Bangsa ini Merdeka, karena Peran Besar Pesantren

LirboyoNet, Kediri—Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menutup secara resmi acara FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) ke-XXXVI se-Jawa Madura pada kamis malam jumat (14/02).

Acara tersebut, dihadiri juga oleh segenap Masyayikh dan Dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Acara yang dimulai sehabis isya itu dibanjiri oleh segenap delegasi FMPP dan santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam kesempatan ini, Menag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menyampaikan sambutan beliau, bahwa “Saya di amanahi oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai menteri Republik Indonesia.”

“Jabatan ini cukup berat, namun saya berprinsip, sepanjang ada doa dan barokah dari para kiai,”

“Terutama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, insyaAllah Allah akan memudahkan tugas-tugas saya.”

Beliau juga menyampaikan, bahwa beliau merasakan ketenangan ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo ini.

“Bangsa ini dapat merdeka, karena peran besar Pesantren”,

“Negara dan pemerintah tidak pernah lupa atas jasa para syuhada’ bangsa dari kalangan Pesantren.”

“Indonesia dari dulu tidak pernah memisahkan antara identitas islam dan identitas kebangsaan,” kata beliau,

“Dan ujung tombak paling utama adalah Nahdlatul Ulama.” Pungkas beliau.

Para ulama kita adalah nasionalis sejati. Jauh sebelum kita merdeka, ulama dan pesantren sudah berkontribusi nyata, mengambil bagian, mengukir peradaban, serta mencerdaskan kehidupan bangsa lewat lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya.

Mereka tetap mempertahankan identitas ke-indonesia-an, menguatkan nasionalisme santri dalam situasi apapun juga.

Pada bulan September 2019 lalu, telah disahkan undang-undang tentang pesantren. Undang-undang ini terbit bukan untuk menyeragamkan pesantren, seperti sekolah, madrasah, atau mengatur pesantren agar mau mengikuti pemerintah. Undang-undang ini hadir dalam rangka menjaga khas pesantren.

Apa yang selama ini dilakukan oleh pesantren, berupa proses belajar-mengajar dengan segala khas-nya.

Baik segi metode, kurikulum dan lainnya tetap akan dipertahankan sebagai sebuah sistem pendidikan yang diakui sebagai sistem pendidikan nasional.

Kalau kita membaca sejarah, bisa akan tergambar dengan jelas bahwa pendidikan asli Indonesia adalah pendidikan pesantren.

Acara pungkas diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dan ditutup dengan doa yang dibawakan oleh KH. Zainuddin Jazuli.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Muhasabah Membuat Diri Berubah

Program Sosial Bank Indonesia kepada Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Sabtu (08/02) Dedikasi Untuk Negri melalui Program Sosial yang dibawakan oleh Bank Indonesia alhamdulillah terlaksana di Pondok Pesantren Lirboyo. Acara yang dimulai pagi hari, tepatnya pukul 08:57 itu dihadiri oleh segenap Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo yakni KH. A. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, Deputi Gubernur Bank Indonesia yakni Bapak Sugeng.

Juga dihadiri oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi JATIM, Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Syariah, Direktur DSDM, Direktur DKom, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Perwakilan BI Malang, Kepala Perwakilan BI Jember, Kepala Divisi Departemen Regional, juga segenap santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Menurut KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo tidak lain sangat membantu dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat kediri, dengan budaya konsumtif yang ada di Pondok (santri), disamping kebutuhan pokok yang sangat banyak.

“Di Kediri tidak dapat dipungkiri bahwa lirboyo termasuk menjadi tempat perputaran ekonomi terbesar, dengan jumlah santri yang mencapai dua puluh lima ribu bahkan bisa lebih.” Tutur beliau.

Deputi Gubernur Bank Indonesia juga memberikan semangat kepada para santri dalam sambutannya, agar kelak para santri tidak hanya pintar dalam masalah agama saja, juga pintar dalam masalah ekonomi.

“Santri itu di masa depan harus punya kombinasi ilmu, selain harus belajar ilmu fiqh, juga harus belajar ilmu sugih (kaya),” tutur Bapak Sugeng.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Nurul Huda Ahmad setelah pemberian cinderamata dari Pondok Pesantren Lirboyo kepada Bank Indonesia, begitu pula sebaliknya.[]

Baca Juga : Khutbah Jumat: Pentingnya Kolaborasi Ilmu, Amal, dan Niat

Ngaji Tasawuf bersama Dr. KH. Luqman Hakim

LirboyoNet, Kediri – Senin (27/01) Mahasantri Ma’had Aly Pondok Pesantren Lirboyo berbondong-bondong memasuki Aula al-Muktamar di pagi hari, untuk mengikuti kuliah umum dengan tema Tasawuf Kebangsaan. Dalam kesempatan kuliah kali ini, pakar tasawuf Dr. KH. M. Luqman Hakim menjadi narasumber.

Acara yang dimulai pukul 10:00 Wib itu berjalan seirama dengan rencana. KH. An’im Falahuddin Mahrus menegaskan dalam sambutan beliau bahwa, “Kami pernah ikut ngaji dengan beliau di Kalibata,mengaji hikam. Jadi, anggota DPR disuruh ngaji tasawuf.”

Menurut KH. An’im Falahuddin Mahrus bukan sesuatu yang bertentangan antara perjuangan dan tasawuf.  Antara perjuangan dengan siyasah. “Bahkan definisi siyasah yang mencetuskan adalah ulama tasawuf. Al-Ghazali sebagai contoh.”

Narasumber menyampaikan dengan lugas bagaimana menerapkan konsep tasawuf dalam berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah, “Tasawuf di dalam berbangsa, seperti ruh. Bangsa sebagai jasad, danruhnya adalah adab dan akhlak.” Tutur beliau,

“Bagaimana membangun spirit roh budaya dalam bangsa? Itu tugas tasawuf. Dalam kehihdupan berbangsa, ada rumah besar bernama Indonesia, yang pilar-pilarnya adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD ’45. Dan tugas tasawuf adalah membangun jiwa siapapun yang menghuni rumah besar itu. Tuan rumahnya sebenarnya adalah para pengajar nilai-nilai tasawuf, yakni ulama-ulama kita.”

Acara selesai pukul 13:00 Wib, ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus.[]

Simak Selengkapnya di Youtube Pondok Pesantren Lirboyo: Tasawuf Kebangsaan | Kuliah Umum