All posts by Niqo Maimun Mahera

Takdir Allah yang terbaik

ولدتك امك يا ابن آدم باكيا * والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد لنفسك ان تكون اذا بكوا * في يوم موتك ضاحكا مسرورا

artinya: Hai Anak Adam kau terlahir dari rahim Ibumu dalam keadaan menangis, sedangkan orang disekitarmu riang gembira akan kelahiranmu. Maka bersungguh-sungguhlah untuk dirimu sendiri sebagai bekal diharimu mati nanti kau pergi dalam keadaan tersenyum bahagia, sedangkan orang disekitarmu menangisi kepergianmu.

Itu adalah nasihat syair karya orang-orang terdahulu, artinya adalah ketika kita bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup untuk kesuksesan di hari esok kita akan meninggal dengan bahagia.

Baca juga; Orang-orang sukses

Orang yang baik itu pasti meninggal dengan bahagia. Kebahagiaan itu bisa terlihat dengan memandang orang-orang di sekitarnya, ketika orang di sekitarnya banyak yang bersedih, itu sudah menggambarkan bahwa orang tersebut sangat berharga, sehingga orang yang meninggal tersebut sangat disayangkan oleh orang sekitarnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran Innalladzina qolu robbunallah tsummastaqomu tatanazzalu ‘alaikumul malaikatu alla takhofu wala tahzanu wa absiru bil jannati kuntum tu’adun. Yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan Kami adalah Allah, kemudian mereka konsisten, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.”

InsyaAllah KH. Maftuh Basthul Birri termasuk kategori seseorang yang ada dalam ayat tersebut. Dan kita semua mendapatkan keberkahan beliau.

Jika kita ingin berkehendak tentu ingin Kiai Maftuh tidak wafat saja. Tetap menemani kita. Tetapi meski kita memiliki kehendak, Allah juga memiliki kehendak yang terbaik. Dan tugas kita adalah selalu yakin bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik.

*Disampaikan dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 40 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri oleh KH. Anwar Iskandar

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Orang-orang sukses

KH. Maftuh Basthul Birri adalah salah satu kiai yang sukses karena memiliki kader, yakni santri-santri beliau. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Anak-anak yang sholih ini bisa juga diartikan sebagai murid, ketika seorang murid ditinggalkan oleh gurunya, pasti akan mendoakan gurunya, dan insyaAllah murid kiai maftuh banyak yang akan meneruskan perjuangan beliau.

Baca juga: 33 Tahun Mondok ‘Hanya’ Dapat 8 Ilmu?

Orang sukses juga harus bersungguh-sungguh, orang sukses juga harus mampu melawan hawa nafsu, ketika dua hal itu terpenuhi maka Allah akan memberikan kemudahan dan kesuksesan terhadap seseorang.

Orang sukses juga bisa dilihat dari proses dia menuju suksesnya, artinya banyak sekali orang melihat orang lain suksesnya saja, tidak melihat bagaimana proses orang tersebut menuju sukses. Ketika orang sudah sukses kita sejatinya juga harus tahu bagaimana orang itu sukses.

*Disampaikan dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 40 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri

Baca juga: KH. Masdain: Kelucuan Mbah Mahrus Aly

Berjabat Tangan Setelah Shalat

Sudah menjadi sebuah budaya ketika umat islam di nusantara melaksanakan ibadah shalat berjamaah di surau atau mushola, bahkan di masjid, mereka bersalaman satu sama lain. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimanakah berjabat tangan di zaman Rasulullah? Apakah hal itu di sunnahkan?

Dalam sebuah hadis disebutkan perihal berjabat tangan yakni:

عَنْ الْبَرَّاء قَالَ: قَلَ رَسُوْلُ اللّه : مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ اَنْ يَفْتَرِقَا — رواه احمد وابو داوود والترمذي وابن ماجه

Artinya: “Dari Al-Barra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dari dua orang muslim yang bertemu lalu saling bersalaman melainkan telah diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Jami’ as-Shaghir menyatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang berpredikat hadis hasan (bagus sanadnya).

Hadis di atas jika dibaca secara tekstual saja, tentu hanya menjelaskan tentang berjabat tangan secara umum saja, tidak terkhusus setelah atau sebelum shalat. Lalu bagaimana ketika bersalaman setelah shalat? Dalam sebuah hadis disebutkan:

قَالَ كَعْبُ بنُ مَالِكٍ : دَخَلْتُ المَسْجِدَ فَإِذَا بِرَسُولِ اللّه فَقَامَ إِلَى طَلْحَةَ بن عُبَيْد اللّه يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِى وَهَنَّأَنِى — رواه البخارى

Artinya: “Sahabat Ka’ab bin Malik berkata: ketika aku masuk masjid, saat itu Rasulullah SAW telah ada di masjid, lalu Tholhah ibn Ubaidillah bergegas berdiri menyambutku, hingga berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepadaku.” (HR. Bukhari)

Bersalaman setelah shalat tidak ada satu pun ulama yang mengharamkannya, mereka menganggapnya sunnah, ada sebagian yang menganggapnya bid’ah. Bid’ah pun masih dalam kategori hasanah atau paling tidak mubahah. Imam an-Nawawi memberikan perincian dalam masalah ini, apabila sebelum melakukan sholat belum bersalaman maka disunnahkan untuk bersalaman setelah sholat. Tetapi jika sudah bersalaman sebelumnya, maka hukumnya hanya diperbolehkan, dan tidak termasuk kesunahan.¹

(¹ Ali Jum’ah al-Bayan limaa Yusghilu al-Adzhan)

Sejarah Penulisan Kitab Shahih Bukhari

Kitab “Jami’ Shahih” atau yang lebih dikenal dengan kitab Shahih Bukhari, ditulis oleh Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari (w. 256 H.). Dalam menyelesaikan kitab monumental ini, al-Bukhari menjalani beberapa tahap: pengumpulan, penyusunan bab, dan seleksi riwayat.

“Aku menyempurnakan kitab Jami’ Shahih selama 16 tahun,” kenang al-Bukhari saat menceritakan bagaimana ia menyelesaikan kitabnya. “Aku menyusunnya dari 600 ribu hadis sahih yang kukumpulkan dari berbagai belahan dunia. Aku menjadikan hadis-hadis ini sebagai hujjah antara diriku dan Allah.”

Setelah usaha kerasnya mengumpulkan ratusan ribu hadis itu, ia lalu menyusunnya sedemikian rupa, hingga sempurna seperti yang kita pegang sekarang. Namun, sebelum kitab Shahih Bukhari ini benar-benar sempurna, ia menghaturkan kitabnya kepada ulama besar di zamannya, di antaranya kepada Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan Ali bin al-Madini. Tujuannya tak lain agar karyanya mendapat legitimasi dari manusia yang memang berkompeten di bidang hadis.

Kitab Shahih Bukhari ini ditulis ulang oleh ribuan santrinya. Namun, hanya enam riwayat yang bisa ditemukan hingga kini.

Pertama, riwayat Thahir bin Muhammad bin Makhlad. Riwayat ini tidak banyak diceritakan sejarah. Keberadaannya juga masih simpang siur.

Kedua, riwayat Ibrahim bin Ma’qil an-Nasafi. Riwayat ini sempat dikritik karena ada 300 hadis dari Shahih Bukhari yang tidak tercantum dalam catatan yang dibuatnya. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa an-Nasafi hanya mendapatkan riwayat Shahih Bukhari sebatas ijazah saja.

Ketiga, riwayat al-Husain bin Isma’il al-Mahamili. Al-Mahamili adalah salah satu murid terakhir al-Bukhori di kota Baghdad. RIwayat ini banyak diikuti oleh ulama lain. Sayangnya, riwayat ini hanya mencakup bagian akhir dari Shahih Bukhari.

Keempat, riwayat Hammad bin Syakir al-Warraq. Riwayat ini dinilai sebagai salah satu riwayat hadis Shahih Bukhari yang terlengkap, meskipun ada 200 hadis dari Shahih Bukhari yang tidak tercantum di dalamnya. Seperti halnya an-Nasafi, al-Warraq juga mendapatkan riwayat Shahih Bukhari hanya sebatas ijazah.

Kelima, riwayat Manshur bin Muhammad al-Bazdawi. Riwayat ini termasuk salah satu yang paling diikuti, karena ia adalah salah satu murid terakhir dari al-Bukhari. Di samping itu, ia memang meriwayat Shahih Bukhari secara sempurna. Namun, usianya yang terlalu muda saat meriwayatkan ratusan ribu hadis itu membuat beberapa pakar meragukan riwayatnya ini.

Terakhir, riwayat Muhammad bin Yusuf al-Firabri. riwayat inilah yang paling banyak dipakai ulama hadis hingga hari ini. Selain ia mencatatnya secara lengkap, ia juga mencatat Shahih Bukhari langsung dari sang imam sebanyak tiga kali, berturut-turut tahun 248 H. 254 H. dan 255 H..

Ada yang berpendapat bahwa al-Farabri mengambil langsung riwayatnya dari teks asli yang ditulis tangan oleh imam al-Bukhari. Tahun terakhir pencatatan al-Firabri terhadap kitab ini sangat dekat dengan tahun wafat al-Bukhari, yakni tahun 256 H.

Dari al-Firabri inilah, muncul empat periwayat handal yang nantinya akan menyempurnakan Shahih Bukhari, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Hammuwaih, Muhammad bin Makki al-Marwazi, Muhammad bin Ahmad al-Marwazi, dan Ibrahim bin Ahmad al-Mustamli. Yang disayangkan oleh banyak pakar, keempat perawi ini menyempurnakan Shahih Bukhari hanya berdasar pada kadar kefahaman mereka masing-masing.

Sebenarnya bukan tanpa pertimbangan yang jelas mengapa keempat perawi ini melakukan hal tersebut. Ada beberapa celah tarajim (penerjemahan), serta naskah dan sanad yang belum sempurna dari naskah Shahih Bukhari yang mereka terima dari al-Firabri. Celah ini yang membuat mereka menyempurnakan riwayat sesuai dengan penelitian masing-masing.

Inilah mengapa banyak teks kitab Shahih Bukhari yang berbeda-beda. Belum lagi, terdapat satu riwayat lain yang dinisbatkan dari jalur periwayatan al-Farabri, yakni riwayat Ismail bin Muhammad al-Kusyani.

Proses periwayatan hadis-hadis Shahih Bukhari telah berjalan dengan demikian kompleks. Terlepas dari perbedaan langkah penyempurnaan yang ditempuh oleh murid-muridnya, kitab ini tetap layak menyandang sebagai kitab induk hadis paling shahih yang pernah ada. Betapa pun demikian, apakah lantas ini menjadikan kitab Shahih Bukhari tidak bisa dikritik?

Kelihatannya tidak juga. Al-Bukhari beberapa kali memilih hadis sebagai buah ijtihadnya dalam jarh wa ta’dil, mana yang harus dipilih dan mana yang layak dibuang.  Tentunya hal ini membuat kitab Shahih Bukhari tetap membuka ruang diskusi dan kritik yang sangat besar, terutama di dalam lingkup ulama ahli hadis.

Penulis, M. Tholhah Al-Fayyadl, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, sekarang menempuh pendidikan di Unversitas Al-Azhar, Kairo.

Baca juga; Mesir, Induk Segala Bangsa

Mesir, Induk Segala Bangsa

Negeri Mesir, oleh banyak sejarawan Islam disebut-sebut sebagai Umm al-Bilad, induk dari segala bangsa. Disinyalir, statemen ini berangkat dari satu kisah yang terjadi di masa sangat lampau, di kehidupan Nabi Nuh as.

Nabi Nuh as. dikaruniai beberapa putra oleh Allah swt. antara lain; Sam, Ham, Yafits, dan Yahthun. Ia juga dikaruniai cucu yang banyak. Setiap harinya, Nabi Nuh as. selalu berdoa kepada Allah agar mereka diberi berkah yang melimpah.

Allah kemudian memberi wahyu padanya. Ada suatu malam di mana doa yang dipanjatkan pada malam itu pasti terkabul. Ketika malam itu tiba, nabi Nuh membangunkan keluarganya satu per satu.

Mulanya, nabi Nuh menyuruh Sam untuk bergegas membangunkan anak-anaknya. Dari sekian banyak anaknya, hanya Arfakhsyad yang benar-benar bangun dan menuruti perintah ayahnya. Sam kemudian mengajak satu-satunya anaknya yang menurut itu untuk duduk bersama sang kakek.

Nabi Nuh kemudian mulai memanjatkan doa, “Ya Robb, jadikanlah hidup Sam penuh berkah serta berikanlah pangkat kenabian dan para raja kepada keturunan Arfakhsyad.”  Nabi Nuh hanya mendoakan keturunannya yang menuruti perintahnya untuk bangun tidur dan memanjatkan doa bersama-sama di malam itu.

Selepas itu, giliran Ham yang dipanggil oleh nabi Nuh. Tetapi Ham menolak seruan ayahnya tersebut. Sayangnya, juga tidak ada seorang pun dari anak-anak Ham yang bangun dari tidurnya. Nabi Nuh pun berdoa agar keturunan Ham nantinya menjadi pesuruh bagi keturunan dari putra sulungnya, Sam.

Namun, sebelum doa selesai dipanjatkan, ada satu keturunan Ham yang terbangun. Ia mendengar doa sang buyut yang dipanjatkan atas keturunan Ham. Mishr bin Baishar, nama anak itu, tergugah hatinya untuk menghampiri nabi Nuh dan meminta doa kepadanya. “Wahai buyutku, sungguh aku memenuhi seruanmu meskipun ayahku, kakekku dan seluruh keluargaku enggan untuk memenuhi seruanmu. Aku mohon pintakan keberkahan untukku.”

Berbahagia lah hati nabi Nuh. Ia membelai lembut kepala Mishr, seraya berdoa, “Ya Robb, Mishr telah memenuhi seruanku, maka berkahilah keturunannya, tempatkanlah ia dan keturunannya di belahan bumi yang diberkahi, di belahan bumi yang nantinya menjadi Umm al-Bilad, induk dari segala bangsa dan menjadi tempat pertolongan bagi seluruh hambaMu. Jadikan sungainya sebagai sebaik-baik sungai yang mengalir di dunia. Jadikan sebaik-baik berkah bagi keturunannya, serta tundukkanlah seluruh negeri baginya dan bagi keturunannya. Jadikan seluruh bangsa merendah kepadanya dan kepada keturunannya. Berikanlah kekuatan kepada mereka untuk mengatur belahan bumi itu.”

Setelah doa yang panjang itu, nabi Nuh menyeru putranya Yafits untuk ikut berdoa bersamanya. Namun Yafits dan seluruh keluarganya menolak seruan itu. Maka nabi Nuh pun berdoa agar nantinya Yafits menurunkan satu bangsa manusia yang paling buruk.

Setelah mendapat sambutan yang tidak dikehendakinya, Nabi Nuh ganti menyeru putranya yang tersisa, Yahthun. Yahthun pun memenuhi seruan ayahnya. Nabi Nuh lalu mendoakannya agar hidup dengan limpahan keberkahan. Sayangnya, Yahthun tidak mempunyai keturunan.

Di kemudian hari, doa-doa yang dipanjatkan oleh nabi Nuh satu per satu terkabul. Sam, yang langsung bergegas ketika diperintah oleh sang ayah, hidupnya penuh kebahagiaan hingga ia wafat. Arfakhsyad, putranya, hidup penuh keberkahan. Keturunannya menjadi raja-raja dan nabi-nabi. Dari keturunan Sam inilah nantinya bangsa Arab, bangsa Persia, dan bangsa Romawi berasal.

Sementara Ham, yang enggan menuruti perintah sang ayah, hidup dengan penuh kesusahan. Saah satu putranya, Kan’an, diceritakan oleh Alquran enggan untuk masuk ke dalam perahu Nabi Nuh dan memilih berlari ke puncak gunung kala terjadi banjir bandang itu. Putra Ham yang lain, Aswad, menurunkan bangsa Sudan dan Etiopia. Sementara Kusy menurunkan bangsa India. Lalu Futh menurunkan bangsa Barbar. Dan Baishar menurunkan bangsa Koptik.

Mishr, putra Baishar, dan seluruh keluarganya memilih menetap dan mendirikan kerajaan di sebuah daerah yang di kemudian hari dikenal dengan tanah ‘Mesir’. Tanah inilah yang dijuluki dengan Umm al-Bilad, sesuai dengan doa Nabi Nuh. Kerajaan Mesir waktu itu membentang dari Aswan sampai Urbusy, dan dari Burqah sampai Ailah.

Baca juga : KH. Aqib Abu Bakar: Pesan Mbah Manab, Jangan Pernah Meremehkan Kitab Kecil

Di masa setelahnya, Mishr membagi kerajaan menjadi empat bagian bagi empat anaknya: Qifth, Asymun, Atrib dan Sha. Dari salah satu anaknya inilah ribuan tahun kemudian lahir seorang perempuan mulia bernama Hajar. Dia yang menikah dengan Ibrahim, yang juga keturunan nabi Nuh dari Sam.

Sementara itu, Yafits, putra nabi Nuh yang sama sekali tidak menuruti perintah sang ayah, hidup penuh dengan kesulitan. Keturunannya mempunyai watak yang sangat kasar. Nantinya, darinyalah lahir bangsa Turki, bangsa Italia dari kepulauan Sisilia, dan bangsa Ya’juj Ma’juj

*Abu Qashim Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakim bin A’yun al-Mishr, Futuh Mishr wa Akhbaruh.

Penulis, M. Tholhah.  Al-Fayyadl, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, sekarang menempuh pendidikan di Unversitas Al-Azhar, Kairo.

Baca juga; Santri Sebagai Cermin Pemimpin Negeri