Imam An-Nawawi: Kisah Hidup dan Karya Abadi
Imam An-Nawawi, yang memiliki nama lengkap Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizzam Al-Khizami An-Nawawi, mendapatkan julukan “Muhyiddin” karena perjuangannya dalam menjernihkan dan memperjuangkan madzhab Syafi’i. Nama “An-Nawawi” sendiri diambil dari desa asalnya, Nawa, tempat ia lahir pada pertengahan Muharram 631 H (1233 M).
Sejak kecil, Imam An-Nawawi menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap Al-Qur’an, berbeda dengan anak-anak seusianya. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an di bawah bimbingan ayahnya. Ketekunannya dalam mempelajari Al-Qur’an menjadi fondasi utama perjalanan ilmunya.
Pada usia tujuh tahun, ia mengalami pengalaman spiritual yang berkesan. Saat tertidur di pangkuan ayahnya, ia tiba-tiba terbangun dan melihat cahaya terang yang memenuhi ruangan, meskipun hanya dia yang dapat menyaksikannya. Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Ramadhan, yang mana malam ini merupakan malam Lailatul Qadr. Momen tersebut menambah semangatnya dalam menuntut ilmu.
Baca Juga: Hati-hati Ketika Diri Merasa Ikhlas
Ketika menginjak usia 19 tahun, Imam An-Nawawi mulai mondok di Ar-Ruwahiyyah selama dua tahun. Ia kemudian menunaikan haji bersama ayahnya dan melanjutkan perjalanannya untuk menimba ilmu ke berbagai tempat. Meski tidak pernah belajar di luar negeri, kecintaannya pada ilmu membuatnya memanfaatkan setiap kesempatan, seperti saat belajar dari Imam Ibnu Malik di Damaskus.
Guru dan Perjalanan Ilmu Imam Nawawi
Imam An-Nawawi belajar dari banyak ulama terkenal pada masanya, seperti Syech Jamaluddin bin Abdul Kahfi, Syech Abi Ibrahim Ishaq bin Ahmad, dan Syech Syihabuddin Abu Syamah. Dalam proses belajarnya, ia menjalani gaya hidup yang sederhana dan penuh tirakat. Ia jarang tidur, makan hanya secukupnya, dan menjauhi makanan yang dapat membuatnya mengantuk. Seluruh waktunya didedikasikan untuk belajar dan menghafal berbagai kitab.
Dalam sehari semalam, Imam An-Nawawi mempelajari hingga 12 disiplin ilmu, termasuk hadis, fikih, lughah, ushul fikih, balaghoh, mantiq, shorof, sejarah, ushuluddin, qawaid fikih, tafsir, dan kedokteran. Namun, ia merasa studi kedokteran mengganggu fokusnya pada ilmu agama. Akhirnya, ia menjual kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina untuk menghentikan studi tersebut.
Baca Juga: Bulan Rajab: Makna dan Sejarah di Balik Nama Bulan Suci
Karya dan Kepemimpinan Imam Nawawi
Setelah menyelesaikan studinya, Imam An-Nawawi banyak orang mempercayai untuk memimpin lembaga pendidikan Darul Hadis oleh gurunya, Syekh Syihabuddin Abu Syamah. Di sela-sela aktivitasnya, ia menargetkan menulis delapan halaman setiap hari. Hasilnya, lebih dari 100 karya ilmiah lahir dari tangannya, termasuk kitab-kitab masyhur seperti Riyadus Shalihin, Al-Adzkar, Ar-Raudhah, dan Minhaj at-Thalibin. Karya-karyanya menjadi rujukan utama dalam madzhab Syafi’i hingga saat ini.
Akhir Hayat
Imam An-Nawawi menjalani hidup yang penuh kesungguhan meski usianya tidak panjang. Pada Sabtu, 20 Rajab 676 H (1277 M), ia jatuh sakit dan wafat empat hari kemudian pada Rabu, 24 Rajab, di usia 45 tahun. Meski singkat, hidupnya dipenuhi amal dan karya yang melebihi masa hidupnya. Para ulama memandang sakitnya sebagai nikmat dan pengingat akan kehidupan yang fana.
Warisan ilmu Imam An-Nawawi terus hidup melalui murid-muridnya, seperti Al-Hafidz Yusuf bin Abdul Malik Al-Halbi dan Imam Ibnu Ath-Thur, serta karya-karya yang tak lekang oleh waktu. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk meneladani ketekunan, kesederhanaan, dan pengabdian dalam menuntut ilmu.
Sumber: Al-Minhaj us-Sawi, Mukadimah Riyadussholihin.
Baca juga: SYARAT AKAD NIKAH MENGGUNAKAN BAHASA SELAIN ARAB
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
