Menjawab Adzan dari Speaker dan Televisi

Hukum Menjawab Adzan dari Speaker dan Televisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada permasalahan yang ingin saya tanyakan mengenai kesunahan menjawab adzan. Mengapa dibedakan antara adzan yang berasal dari speaker di masjid atau mushola dengan adzan yang berasal dari televisi, aplikasi atau rekaman? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdus Shomad, Pontianak)

____________________________

Ketika terdengar adzan, maka bagi orang yang mendengarnya disunnahkan untuk menjawabnya, meskipun terdengar lewat speaker atau pengeras suara. Karena adzan yang terdengar merupakan suara asli seorang muadzin yang dikeraskan dengan bantuan teknologi speaker.

Baca Juga Mengumandangkan Adzan di liang kubur.

Beda halnya ketika suara itu berasal dari suara rekaman, seperti adzan yang ada dalam aplikasi waktu shalat, televisi, radio, dan lain-lain. Maka tidak sunah menjawabnya. Sebagimana penjelasan Syekh Ismail Zain dalam fatwanya:

سُؤَالٌ هَلْ يُسَنُّ جَوَابُ الْأَذَانِ مِنْ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ إِذَا كَانَ الْمُؤَذِّنُ بَعِيْدًا عَنْهُ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ أَذَانَهُ إِلَّا بِوَاسِطَةِ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ أَوْ لَا، بَيِّنُوْا لَنَا ذَلِكَ؟ اَلْجَوَابُ نَعَمْ يُسَنُّ إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ الْمَذْكُوْرِ وَالْمُكَبِّرِ غَايَةَ مَا فِيْهِ أَنَّهُ يَقْوِي الصَّوْتَ وَيُبْلِغُهُ اِلَى مدِي بَعِيْدٍ، هَذَا اِذَا كَانَ الْأَذَانُ مَنْقُوْلًا بِوَاسِطَةِ الْمُكَبِّرِ عَنْ مُؤَذِّنٍ يُؤَذِّنُ بِالْفَعْلِ، أَمَّا إِذَا كَانَ الْأَذَانُ فِي الشَّرِيْطِ الْمُسَجَّلِ فَلَا تُسَنُّ إِجَابَتُهُ لِأَّنَهُ حَاكٍ

Soal: Disunnahkan ataukah tidak menjawab adzan dari pengeras suara (speaker) ketika keberadaan muadzin jauh darinya, sekiranya adzan tersebut tak terdengar kecuali dengan perantara pengeras suara. Jelaskan itu pada kami? Jawab: Ya, Disunnahkan menjawab adzan tersebut. Adapun pengeras suara (speaker) hanya mengeraskan dan menyampaikan suara pada jarak jauh. Kesunahan ini berlaku apabila adzan bersumber dari muadzin yang adzan secara nyata. Apabila adzan bersumber dari kaset rekaman maka tidak sunah menjawabnya, karena itu sebatas memutar rekaman.” (Qurroh Al-‘Ain bi Fatawa Ismail Zain, hal. 52)

Baca Juga Menjawab Adzan Dari Aplikasi.

Hukum di atas juga berlaku pada setiap kesunahan yang didasari atas pendengaran, seperti kesunahan mengucapkan amin ketika mendengar doa atau kesunahan sujud sahwi ketika mendengar bacaan ayat Sajdah. Karena kesunahan-kesunahan itu didasari oleh terdengarnya sesuatu secara nyata, bukan berupa rekaman yang mana suaranya direkam di waktu lampau dan diputar berulang-ulang di waktu mendatang. waAllahu a’lam. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.