KH. Athoillah: Rahasia Puasa Rasulullah

Kasih sayang dan puasa ala rasulullah

Kediri – Kamis malam Jumat, 23 Rabiul Awal 1446 H / 26 September 2024 M, Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo kembali dipenuhi lautan santri dalam gelaran Majelis Sholawat Kubro ke-5. Ribuan santri tampak khidmat mengikuti acara yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB, dengan puncak tausiyah disampaikan oleh KH. Athoillah S.A. yang membahas ibadah puasa.

Dalam mau‘idzah hasanahnya, KH. Athoillah mengingatkan pentingnya kerendahan hati dalam beribadah. “Padahal seharusnya kita malu. Shalat saja belum benar, tetapi permintaan kita setinggi langit,” karena terkadang doa kita sangat tinggi tetapi tanpa kita barengi dengan membenahi ibadah kita.

Baca juga: KH. Athoillah S. A.: Kasih Sayang Rasulullah yang Luar Biasa

Beliau menukil perkataan Rabi‘ah al-‘Adawiyah, beliau menegaskan bahwa ibadah kita sejatinya perlu diistighfari karena kualitasnya masih jauh dari sempurna.

Lebih jauh, KH. Athoillah menekankan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar. Jika hanya itu, hewan pun mampu melakukannya. Beliau mencontohkan orang yang berpuasa, tetapi malam harinya begadang, lalu tidur sejak subuh hingga sore. “Puasanya kucing justru lebih baik daripada puasa semacam ini,” ungkap beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa sering kali manusia hanya memindahkan waktu makan. Jika biasanya siang hari, saat puasa waktunya bergeser ke malam: berbuka dengan aneka hidangan, makan lagi setelah tarawih, lalu makan lagi saat sahur.

Baca juga: Agus Melvin: Pembiasaan Diri dan Ilmu Sebagai Penyelamat dari Tipu Daya

Rahasia Puasa Rasulullah dan Sahabat

Rasulullah ﷺ bersabda:

صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah, niscaya kalian sehat.”

KH. Athoillah menjelaskan bahwa sabda Nabi ini benar adanya, tetapi cara puasa kitalah yang sering keliru. Nabi Muhammad ﷺ mencontohkan berbuka dengan sederhana, hanya air dan kurma, bukan dengan pesta makanan. Dari pola sederhana inilah para sahabat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sehat, bahkan mampu menghadapi sepuluh musuh sekaligus dalam peperangan.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Syukur Kemerdekaan yang Sesuai Syariat

Ketika ditanya apa rahasia sehat ala sahabat, sahabat menjawab: “Tidak makan sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang.” Menurut beliau, tanda lapar yang sesungguhnya adalah ketika makanan apa pun terasa nikmat, bukan dengan mencari-cari hidangan tertentu.

Pembagian Makan, Minum, dan Bernafas

KH. Athoillah mengutip keterangan dari kitab Salalim tentang kapasitas perut manusia: enam jengkal untuk makanan, enam jengkal untuk minuman, dan enam jengkal untuk pernapasan. Jika seseorang makan terlalu kenyang, lalu minum, maka napasnya akan tersengal karena ruang untuk bernapas menjadi sempit.

Baca juga: Santri Kelas II Tsanawiyah MHM Antusias Ikuti Istighotsah Peringatan HUT RI ke-80

Pesan-pesan KH. Athoillah malam itu menjadi pengingat mendalam bahwa ibadah, khususnya puasa, bukan sekadar rutinitas menahan lapar, melainkan sarana membentuk jiwa yang ikhlas, tubuh yang sehat, dan hati yang selalu dekat dengan Allah SWT.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses