Pada malam Jumat, tanggal 23 Rabiul Awal 1446 H atau bertepatan dengan 26 September 2024 M, Pondok Pesantren Lirboyo menggelar Majelis Sholawat Kubro yang ke-5 –pada tahun itu, di Aula Al-Muktamar, Mojoroto, Kota Kediri. Acara dimulai pukul 19:30 WIB dan dihadiri ribuan santri dan pengurus Pondok Lirboyo. Dalam kesempatan tersebut, KH. Athoillah S. A. menyampaikan mauidzoh hasanah yang menggugah hati, tentang kasih sayang luar biasa Rasulullah ﷺ terhadap umatnya—bahkan sampai tidak mau masuk surga sebelum seluruh umatnya selamat.
“Kanjeng Nabi niku mboten kerso mlebet suwargo. Nek dereng umate kabeh niku mentas sangking neroko. Nek umate kabeh melbu suwargo, baru Kanjeng Nabi kerso mlebet suwargo.”
Artinya: “Kanjeng Nabi itu tidak mau masuk surga jika seluruh umatnya belum keluar dari neraka. Ketika semua umatnya masuk surga, barulah beliau mau masuk surga.”
Baca juga: Agus Ibrahim A. Hafidz; Sholawat sebagai Nutrisi Ilmu
Padahal, sejatinya Kanjeng Nabi adalah orang yang paling awal masuk surga. Namun, beliau tidak mau masuk sebelum memastikan seluruh umatnya selamat. Karena kasih sayang beliau, beliau sangat sibuk mengurusi umatnya terlebih dahulu.
Kisah Kasih Sayang Nabi; Suara dari Neraka yang Memanggil Nabi
Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa Kanjeng Nabi mendengar suara dari dalam neraka yang berteriak memanggilnya. Nabi yakin bahwa suara itu pasti berasal dari salah satu umatnya. Maka beliau mencarinya, bahkan meminta bantuan malaikat Malik untuk menemukannya.
Ketika akhirnya ditemukan, sosok tersebut sudah tidak berbentuk manusia lagi karena terlalu lama berada dalam neraka.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Makna Waktu dan Keberkahan Umur
“Coro kulo mbayangne niki ngeten, —banyangan kulo mawon. Coro njenengan mbakar telo kaspe, niku lak kenemenen malih koyo kayu gosong ngoten to?”
Artinya: “Kalau saya membayangkan itu seperti ini — bayangan saya saja. Ketika kalian membakar singkong terlalu lama, maka akan berubah menjadi seperti kayu gosong, kan?”
Walaupun sudah separah itu kondisinya, Kanjeng Nabi tetap mencarinya dan menganggapnya sebagai umat beliau. Tidak ditinggal begitu saja. Sungguh sangat luar biasa kasih sayang beliau.
Doa Syaikh Hasan Al-Bashri
Mendengar kisah ini, Syaikh Hasan Al-Bashri, seorang tabi’in, berdoa dengan sangat sederhana:
“Ya Allah, semoga saya termasuk golongan dari orang ini.”
Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Tahun Hijriah atau Tahun Hijrah
Kenapa demikian? Karena orang itu termasuk golongan yang beruntung. Walaupun sangat lama disiksa di neraka, akhirnya dia bisa keluar berkat syafaat dan kasih sayang Nabi.
Di akhirat, waktu berlaku selamanya. Maka, betapa sialnya orang yang tidak bisa keluar dari neraka.
Doa Syaikh Hasan Al-Bashri sangat sederhana: ia hanya ingin termasuk orang yang bisa keluar dari neraka. Itu sudah cukup menjadi keberuntungan besar.
Doa Kita
Berbeda dengan kita—yang shalatnya tidak jelas, bacaannya pun amburadul—tapi berdoa seperti ini:
“Ya Allah, adkhilna jannah bi ghoiri hisab.”
(“Ya Allah, masukkan kami ke surga tanpa hisab.”)
Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi; Ilmu dan Amal
Padahal seharusnya kita malu. Shalat saja belum benar, tapi permintaan setinggi langit.
Seprti yang telah Rabiah Al-Dawiyah katakan:
“Ibadah kita saja perlu kita istighfari.”
Karena kualitas ibadah kita sangat buruk. Tidak pantas dibanggakan, bahkan perlu dimintakan ampun.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
