Pada Kamis malam Jumat, 29 Rabiul Akhir 1446 H atau bertepatan dengan 31 Oktober 2024 M, Majelis Sholawat Kubro diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Bertempat di Aula Al-Muktamar, acara dimulai pukul 19.30 WIB dan dihadiri para santri serta para pengajar dan pengurus Pondok Lirboyo. Mau‘izhah hasanah yang Agus H. Melvin Zaynul Asyiqin Imam sampaikan adalah pembiasaan diri dan ilmu sebagai penyelamat dari tipu daya maksiat.
Terbentuknya Kebiasaan
Beliau mengawali nasihatnya dengan kutipan:
Baca Juga: KH. An’im Falahuddin; Waktu Adalah Kunci Sukses
ٱلْمَرْءُ عَلَى مَا يُعْتَادُ بِهِ
“Seseorang akan bertindak sesuai dengan apa yang biasa ia lakukan.”
Melalui dawuh ini, beliau menegaskan pentingnya membiasakan diri dalam kebaikan. Ketika tubuh dan pikiran sudah memiliki kebiasaan melakukan sesuatu, maka hal itu akan terasa ringan dan mudah. Beliau memberikan contoh sederhana: seorang penabuh rebana yang sudah terbiasa tidak akan merasa lelah meski menabuh berjam-jam, sedangkan bagi yang belum terbiasa, lima menit saja sudah membuat tangan panas.
Baca juga: KH. Athoillah S. A.; Kasih Sayang Rasulullah yang Luar Biasa
Contoh lain: seseorang yang setiap hari naik ke lantai empat tidak akan merasa berat seperti orang yang belum terbiasa. Begitu pula dengan otak, jika terbiasa kita gunakan untuk berpikir (memikirkan ilmu), maka akan menjadi encer dan cerdas. Namun jika tidak kita latih untuk berpikir, otak akan menjadi tumpul.
Beliau kemudian melempar pertanyaan retoris kepada para santri:
“Kira-kira, wong sing paling akeh, paling nemen mikire kuwi sopo?”
Lalu beliau menjawab:
“Orang yang paling banyak pikirannya itu adalah orang yang paling banyak utangnya.”
Baca juga: Agus Ibrahim A. Hafidz; Sholawat sebagai Nutrisi Ilmu
Penjelasan ini beliau sampaikan dengan lucu namun bermakna. Beliau melanjutkan:
“Orang yang punya utang tiga juta itu pikirannya lebih berat daripada yang hanya punya utang tiga ratus ribu. Yang tiga ratus ribu lebih berat pikirannya daripada yang utangnya cuma telung puluh ewu. Dan begitu seterusnya.”
Kisah Syaikh Abdul Qodir dengan Iblis
Setelah mencairkan suasana, beliau melanjutkan dengan sebuah kisah penting tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang pernah digoda oleh iblis. Pada suatu malam ketika beliau sedang berkhalwat, muncul cahaya yang sangat terang dan terdengar suara yang berkata:
“Wahai Abdul Qadir, sekarang Aku telah menghalalkan untukmu apa yang telah Aku haramkan.”
Beliau menggambarkan kepada para santri, jika hal ini terjadi kepada kita—tiba-tiba muncul cahaya dan suara seperti itu—mungkin saja kita tergoda, bahkan langsung mengambil makanan di warung tanpa membayar dengan dalih sudah Allah halalkan.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Makna Waktu dan Keberkahan Umur
Namun Syaikh Abdul Qadir langsung menegur:
“Enyahlah, wahai yang dilaknat!”
Cahaya tersebut pun padam dan terdengar suara yang berkata:
“He Abdul Qadir! Dengan cara ini aku telah menyesatkan seribu kekasih Allah. Tapi engkau, karena ilmu dan kedudukanmu, tahu bahwa aku ini bukan Tuhan, melainkan aku adalah iblis.”
Ilmu Sebagai Penyelamat
Ketika muridnya bertanya kepada, bagaimana beliau bisa mengetahui bahwa itu adalah iblis, bukan Tuhan, beliau menjawab:
“Karena iblis berkata: ‘Aku telah menghalalkan untukmu apa yang telah Aku haramkan.’ Padahal Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an: (قَدْ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ) – ‘Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.’ Maka tidak mungkin Tuhan mengubah aturan yang sudah sempurna.”
Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Tahun Hijriah atau Tahun Hijrah
Para santri dari Syaikh Abdul Qodir pun menyimpulkan, Syaikh Abdul Qadir selamat dari tipu daya iblis karena ilmu. Maka, ilmu menjadi penjaga utama dalam kehidupan seorang hamba. Dengannya, manusia mampu membedakan kebenaran dari kebatilan, mengenali tipuan setan, dan bertahan dalam ketaatan.
Pesan yang dapat kita petik dari dawuh beliau malam itu sangat jelas: biasakan diri dalam kebaikan, latih akal dengan berpikir, dan teguhkan diri dengan ilmu. Karena pembiasaan membentuk karakter, dan ilmu menyelamatkan dari kesesatan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
