HomeAngkringMembela Jomblo di Malam Jumat

Membela Jomblo di Malam Jumat

0 6 likes 229 views share

Keunikan kata-kata dan guyonan gaya baru selalu timbul tenggelam bergantian di lingkungan masyarakat kita, bisa menambah gerr suasana cengkerama di tengah situasi hubungan sesama yang beberapa tahun belakangan banyak keretakan dan semakin melebar saja.

Semisal, setiap hari Kamis tiba sebagian masyarakat bercanda satu sama lain, terutama lagi pasangan pengantin baru, dengan ucapan, “Sudah hari Kamis lagi, sunah rasul,” “Jangan ganggu, malam ini sunah rasul,” “Malam Jumatan, sunah rasul,” dan banyak istilah lain dengan makna serupa.

Semua istilah itu kerap diartikan sebagai aktivitas hubungan suami-istri. Canda atau guyon semacam ini menjadi sangat lazim didengar seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang mempercepat peredaran pesan.

Canda sebenarnya tidak masalah dalam agama. Hanya saja, jika ingin tahu kedudukan hukum agama sebenarnya, kita perlu mendapat penjelasan ahli hukum Islam terkait hubungan sunah rasul, malam Jumat, dan hubungan intim suami-istri.

Untuk itu, ada baiknya kita memeriksa keterangan yang disampaikan syekh Wahbah az-Zuhaily dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh nya.

 

وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة

 

“Di dalam sunah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat. Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat.”

Syekh Wahbah Az-Zuhaily ini dengan jelas menyebutkan bahwa tidak ada anjuran istimewa dari rasulullah saw. terkai hubungan suami-istri secara khusus di malam Jumat. Kalau pun ada anjuran, itu datang dari segelintir ulama yang didasarkan pada hadits Rasulullah SAW dengan redaksi, “Siapa saja yang mandi di hari Jumat, maka…

Oleh sebagian ulama itu, teks ini ditafsirkan sebagai dasar kesunahan hubungan badan suami-istri malam Jumat. Tetapi sekali lagi kesunahan itu didasarkan pada tafsiran atau interpretasi individu, bukan anjuran Rasulullah secara verbal. Meski demikian, syekh Wahbah sendiri tidak menyangkal bahwa hubungan intim suami-istri juga mendapat pahala. Hanya saja tidak ada kesunahan melakukannya secara prioritas di malam Jumat. Artinya, hubungan intim itu boleh dilakukan di hari apa saja tanpa mengistimewakan hari atau waktu-waktu tertentu.

Kita mungkin pernah menemukan teks hadits berikut:

“Siapa saja yang mandi di hari Jumat, dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Teks ini banyak menjadi saduran di kutubussalaf, terutama ketika kita membaca bab tentang kesunnahan-kesunnahan mandi, yang di antaranya mandi Jumat. Sehingga menurut sebagian ulama terdapat anjuran yang tidak tersirat, berupa disunnahkannya berhubungan suami-istri di malam itu.

Penjelasan kedudukan hukum ini menjadi penting agar tidak ada reduksi atas sunah rasul yang begitu luas itu. Karena banyak anjuran lain yang baiknya dikerjakan di malam Jumat, seperti memperbanyak shalawat nabi, membaca surat Yasin, Al-Jumuah, Al-Kahfi, Al-Waqiah, istighfar, dan mendoakan orang-orang beriman yang telah wafat dan sebagainya.

Tulisan ini hanyalah sebagai penyegar, betapa khazanah keilmuan islam begitu luas. Banyak memang ulama yang menganjurkan hubungan suami-istri, lengkap dengan tendensi hadits shahih, dan lain-lain. Akan tetapi, khazanah islam juga tidak memungkiri adanya ulama yang menolak, dengan didasari penemuan-penemuan mereka akan dalil lain, seperti yang dilakukan syekh Wahbah Zuhaily ini. Wallahu a‘lam

Dikutip dari laman nu.or.id, dengan perubahan seperlunya.