Tag Archives: radikalisme

Kunjungan Dosen UIN Malang ke Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Sabtu 31 Agustus 2019 M. Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu dari Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim Malang dalam rangka penelitian bertajuk Rekonstruksi Pemaknaan Mati Syahid Di Era Modern. Pondok Pesantren Lirboyo merupakan pondok keenam yang telah disambangi mereka setelah beberapa pondok pesantren yang berada di Jawa dan Luar Jawa.

Rombongan berjumlah tiga orang Dosen S2 ini diketuai oleh Raden Cecep Lukman Yasin, P.hD terlihat sangat menikmati diskusi ilmiah mengenai tema radikalisme bersama para Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.

Acara yang bertempat di ruang rektorat Ma’had Aly Lirboyo itu dimulai Pukul 11.30 WIB., terlihat khidmat dan penuh antusias dari para peserta diskusi.

Beberapa kesimpulan tentang diskusi tersebut di antara lain bahwa pelaku bom bunuh diri yang beberapa kali terjadi di Indonesia sama sekali tidak bisa dikatakan mati syahid.

Ada dua alasan mendasar dari hal tersebut.

Pertama, objek bom bunuh diri mayoritas beragama Islam.

Kedua, andaikan semua korban adalah non-Muslim, pelaku bom bunuh diri tetap tidak bisa dikatakan syahid sebab kita tidak dalam konteks memerangi terhadap mereka, karena mereka juga dilindungi di Indonesia.

Pembahasan diskusi lainya yaitu tentang wacana penyusunan kurikulum anti radikalisme. Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo ikut memberi masukan kepada para dosen UIN Maliki Malang. Para dosen pun tampak terlihat sangat puas dan terkejut dengan keluasan wawasan para santri salaf, yang mana selama ini kurang dipandang dan diperhitungkan.

Bahkan Pak Cecep sampai mengatakan bahwa kemampuan para Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo semester tujuh sudah setara dengan lulusan S-2.

Acara tersebut berakhir tepat Pukul 15.30 WIB., diakhiri dengan foto bersama dan para rombongan tersebut pamit untuk meneruskan tugas observasi ke tempat lain.()

Islam Keras atau Islam Tegas?

Tidak dapat dipungkiri, agama Islam adalah agama yang universal. Pranata hukumnya masuk dan meliputi semua aspek kehidupan manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Semua tatanan hidup tersebut tidak pernah terlepas dari sentuhan hukum‐hukum Islam yang mengaturnya. Dan pada gilirannya Islam akan membawa kedamaian dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.

Implementasi hukum Islam yang kompleks akan memantapkan Islam sebagai satu‐satunya sistem hidup yang berasal dari Allah Swt. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana umat dapat memahami maksud sebenarnya dari firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw sebagai tuntunan yang harus diikuti dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Sementara perbedaan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan dalam beberapa persoalan hingga saat ini pun tidak dapat dihindari, termasuk diantaranya adalah dalam hal interaksi dan dakwah terhadap non muslim.

Kelompok Islam Radikal yang berhaluan keras memahami bahwa non muslim sebagai musuh utama yang harus diperlakukan secara kasar, keras, dan terus diwaspadai.  Kelompok tersebut mengambil pemahaman dari firman Allah Swt:

مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang‐orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka,” (QS. Al-Fath: 29).

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).

Dari ayat-ayat tersebut, mereka mengambil pemahaman bahwa sebaik‐baiknya orang kafir tetaplah berstatus musuh. Karena orang kafir selamanya tidak akan rela jika Islam maju dan jaya. Maka dari itu, bersikap dan menentang secara keras terhadap seluruh tindakan non muslim menjadi sebuah keharusan.

Berbeda dengan kelompok Islam Radikal, sebagian besar mayoritas umat Islam justru berkata sebaliknya. Dengan artian, kelompok Islam mayoritas lebih memilih jalan damai dan bersikap santun. Sikap toleransi dan mengedepankan keramahan terhadap non muslim merupakan pilihan yang paling tepat dalam konteks zaman sekarang, terlebih di negara yang mendukung asas demokrasi dan persatuan seperti Indonesia. Beberapa dalil yang menjadi pijakan dasar dalam sikap ini adalah firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Hubungan dengan Non Muslim

Apabila dilihat dari sisi keterkaitannya secara umum, hubungan antara muslim dan non muslim dapat dibagi ke dalam dua keadaan, yaitu:

Pertama, posisi umat muslim yang saling berhadapan atau bermusuhan dengan non muslim sampai kedua belah pihak dapat mencapai kata sepakat untuk hidup berdampingan secara damai. Kedua, umat muslim yang hidup berdampingan secara damai bersama non muslim hingga terjadi hal‐hal yang dapat merusak hubungan kedua belah pihak menjadi saling berhadapan atau bermusuhan.

Dari berbagai referensi literatur tafsir maupun fiqih klasik, dijelaskan bahwa hubungan antara muslim dan non muslim pada keadaan yang pertama terwujud ketika golongan non muslim tidak mempunyai iktikad untuk bersedia hidup berdampingan secara damai dengan orang Islam. Adapun dalam pola hubungan ini, menuntut kepada orang Islam untuk melakukan perlawanan (asyidda’) terhadap mereka.

Bentuk perlawanan itu pun menjadi tuntutan sebatas mencapai kata sepakat untuk hidup berdampingan secara damai dari pihak non muslim. Karena pada dasarnya, sikap perlawanan keras seperti ini bukan menjadi tujuan utama, akan tetapi sebatas solusi terakhir yang menjadi perantara untuk hidup saling berdampingan dalam suasana kedamaian.

Maka dari sinilah muncul konsep Jihad, yang mana dalam Islam jihad dipahami sebagai himayah ad-da’wah (pelindung dakwah). Dengan artian, jihad merupakan usaha untuk mempertahankan atau membela diri manakala kebebasan dakwah (agama) dirintangi menggunakan kekuatan bersenjata. Dengan kata lain, watak jihad dalam Islam bukanlah bersifat ofensif yang berupa penyerangan untuk melakukan ekspansi dan kekuasaan semata. Di Dalam Al-Qur’an dikatakan:

أَلاَ تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّواْ بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَؤُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤُمِنِينَ

“Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memerangimu,” (QS. At-Taubah: 13).

Adapun hubungan umat muslim dan non muslim dalam keadaan pola yang kedua sudah sangat jelas, yaitu umat muslim harus turut menghormati, melindungi, dan menjaga golongan non muslim. Namun dengan catatan, umat muslim tetap mengingkari dalam hai hati atas kekufuran yang ada pada diri non muslim, sehingga hal itu tidak akan menimbulkan rasa keagungan dan penghormatan berlebih dalam diri umat muslim terhadap kekufuran mereka. Mencermati potret kehidupan non muslim di Indonesia yang bersedia untuk hidup rukun, damai, dan berdampingan dengan orang islam, maka pola hubungan di antara keduanya dapat dipastikan bersesuaian dengan pola hubungan yang kedua ini.

Adapun pengaplikasian ayat 120 dalam surah Al‐Baqarah sebenarnya tidak menafikan sikap sebagaimana di atas, sepanjang mereka tidak melakukan tindakan‐tindakan nyata yang dapat dinilai merusak kehormatan dan menentang secara terang‐terangan terhadap ajaran Islam. Pandangan seperti ini sekaligus menegaskan bahwa asas dasar dari hubungan antara muslim dan non muslim bukanlah hubungan konflik atau perang (hirabah), melainkan hubungan saling memberikan keselamatan (musalamah).

Pada akhirnya, kedua ayat yang menjadi landasan pemahaman golongan Islam Radikal tidak kontradiktif dengan dalil-dalil yang menjadi pijakan sikap Islam yang rahamatan lil ‘alamin. Hanya saja, konteks pengaplikasian beberapa ayat tersevbut memiliki cakupan dan wilayah hukum yang berbeda. Kapan Islam harus bersikap tegas, kapan Islam harus bertindak keras. Sekian, waAllahu a’lam bisshawab[]

Referensi:

Takmilatul Majmu’, Juz 24, hal. 159
Al Mausu’ah al Fiqhiyyah, Juz, 14 hal. 223
Anwarul Buruq Fi Anwaril Furuq, Juz 3 hal. 14
TafsirAyatil Ahkam, Juz 1 hal. 178
Fathul Bari li Ibni Hajar, Juz 6 hal. 302
Rouhul Ma’ani, Juz 2 hal. 116
Ihya Ulumiddin, Juz 3 hal. 55
Tafsir Bahrul Madid, hal. 227
Tafsir Ar‐Rozi, Juz 16 hal. 172
Mafatihul Ghoib, Juz 9 hal. 407
At Tahrir wa Tanwir, Juz 26 hal. 171

 

 

Kalimat Terbaik: Wallahu A’lam

Ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat kemarin, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf memberikan kesempatan kepada para hadirin untuk berdialog. Ada dua pertanyaan yang mengemuka. Pertama, sebagai santri putri, adakah cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menghadapi era modernitas seperti sekarang ini?

Bagi santri, ujar beliau, yang paling mungkin dan paling baik dilakukan adalah manut guru. Ikut apa yang dikatakan guru. “Karena guru tidak mungkin menyesatkan kita. Guru adalah pemandu kita kepada jalan yang diridlai Allah,” jelas beliau. Dengan zaman yang keruh semacam ini, bimbingan dari guru sangatlah diperlukan. Ketika tidak ada bimbingan yang diperoleh dari para sesepuh, baik sepuh secara intelektual maupun spiritual, peluang untuk tersesat lebih nyata.

Beruntung bagi para santri, mereka dari hari ke hari selalu mendapatkan tuntunan dari para guru. Apalagi, mereka sangat dekat dengan orang-orang mulia, seperti masyayikh dan dzuriyah pengasuh pondok pesantren. Karenanya, akan aneh bila ada santri yang ikut tersesat dan tidak tahu arah jalan.

Kedua, sang habib ditanya bagaimana membentengi diri dari isu radikalisme yang kian hari kian gencar. Utamanya, para santri yang sudah di rumah kini bingung dengan ramainya media sosial yang memberitakan fakta-fakta palsu, seakan-akan mengadu domba umat Islam.

“Ya, ga usah baca medsos,” canda Habib Syekh yang kali ini datang bersama anggota keluarganya itu. “Maksudnya,” lanjut beliau, “kita harus memilah-milah informasi. Kalau ada berita negatif, jangan ikut-ikutan. Pokoknya, jangan ikut-ikutan dengan isu-isu itu.” Banyak media sosial sekarang yang memberitakan macam-macam. Mulai berita negatif dari satu pihak, hingga berita yang sampai membuat umat Islam gerah karena terkesan menghadapkan satu tokoh Islam dengan tokoh Islam lain.

“Kalau sudah begitu, tidak usah susah-susah. ‘Kamu ikut siapa?’ ‘Kamu bela yai siapa?’ Kalian tidak usah ikut-ikutan seperti itu (polarisasi, mengotak-kotakkan umat, -red). Cukup bilang, ‘wallahu a’lam’. Sudah, selamat itu sampean.”

“Katakan saja ‘Itu guru saya. Yang lain juga guru saya. Semua guru saya.’ Lah terus siapa yang benar? Tinggal dijawab ‘Wallahu a’lam.'”][

Guyuran Satu Miliar Nariyah untuk Bangsa

LirboyoNet, Kediri—Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah serempak di seantero Nusantara pada Jumat malam (21/10/16) bukanlah even yang asal muncul, asal rame, atau hanya sebuah cara untuk bergegap gempita. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sekarang adalah bangsa yang penuh tantangan. Banyak gangguan dan permasalahan berat yang musti diselesaikan dengan segera.

Ketua Tanfidziyah PBNU ini menyimpulkan, setidaknya, ada tiga masalah besar yang sedang menjangkit bangsa Indonesia. Pertama, wabah ekstrimisme dan radikalisme telah demikian menjamur di tengah masyarakat. Indonesia aman, menurut siapa? Meski tak seekstrim yang terjadi di Irak-Suriah, bom bunuh diri masih saja ditemukan kasusnya. Di satu daerah, pelakunya bahkan masih usia belasan tahun. Menurutnya, ini bukan masalah yang main-main, dan harus dituntaskan secepatnya. Rasulullah saw. saat mengelola pemerintahannya, pernah mengalami masalah yang sama. Dalam menyikapi kemunculan para ekstrimis (murjifûn), Rasulullah saw. tak segan-segan mengusir mereka keluar dari Madinah. Merekalah pengganggu stabilitas dan keamanan, bukan saja kepada pemerintah-negara, tapi juga sampai kepada aspek-aspek sempit dalam masyarakat.

Kedua, kemiskinan yang diderita masyarakat tak berkesudahan. Dengan mengutip beberapa data valid, terungkap bahwa kesenjangan antara masyarakat bawah dan atas sangat tinggi. Lebih dari lima puluh persen kekayaan Indonesia dikuasai segelintir orang. Dan sepertinya, masyarakat masih merasa nyaman dengan fakta ini. Padahal, Abu Hasan as-Syadzili, seorang ulama besar, tak pernah menghendaki kemiskinan. Ia telah dikenal sejarah sebagai ulama yang sangat royal. Pakaiannya, parfumnya, kehidupannya, jauh dari kesan kumuh dan miskin. Tentu saja ini mengundang rasa heran sebagaian muridnya. Bagaimana bisa, seorang ulama dengan segala keilmuan agamanya, ternyata tak lepas dari gemerlap dunia? Dengan tenang as-Syadzili mengurai jawabannya, “Pakaianku yang bagus ini seakan berbicara, ‘anâ al-ghaniy, falâ tarhamûnî (‘Aku seorang alim nan hartawan, jangan kasihani diriku!)’. Sementara pakaian lusuh akan memberi kesan, ‘anâ al-faqîr, fatarhamûnî (Aku miskin, maka kasihani diriku).”

Ketiga, korban keganasan narkoba sudah meraja di segala lini. Lebih-lebih, yang menjadi korban paling riskan adalah para remaja. Beruntungnya, Indonesia masih dibentengi oleh pesantren. Kiai dan pesantrennya adalah pertahanan ampuh (fî amnin wa amânin) bagi serangan narkoba. Keduanya bagaikan Asiyah (istri Firaun) yang gigih merawat Musa. Musa yang kemudian menjadi remaja terbuka matanya: ternyata yang mengelilinginya selama ini adalah budaya-budaya buruk: mabuk-mabukan; pelacuran; dan segala hal buruk lain. Namun kenapa Musa kecil samasekali tak terpengaruh budaya itu? Begitulah cara pesantren melindungi santri-santrinya.

Maka diperlukan kekuatan besar untuk melepaskan diri dari berbagai masalah ini. Pembacaan Sholawat Nariyah menjadi salah satu pilihannya. Mengapa? KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang juga Rais Syuriah PWNU Jawa Timur menegaskan, telah banyak teks sejarah yang memberikan pencerahan bahwa Sholawat Nariyah memiliki faedah-faedah agung. Harapannya, tentu dengan sholawat ini, bangsa akan dibantu oleh satu daya yang super, yang mampu mewujudkan segala kehendak bangsa dan menepikan hal-hal yang tak diinginkan dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah yang juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan, ini dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo. Para santri dan hadirin dengan khidmat mengikuti bacaan yang dilantunkan oleh beliau. Sebelumnya, acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Beberapa tokoh turut hadir di dalam acara. Diantaranya, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Rektor Universitas NU Surabaya, H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, Lilik Muhibbah, Wakil Walikota Kediri, aparat pemerintahan, pengurus PCNU, KH. A. Habibulloh Zaini, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah Ponpes Lirboyo.][

Mengurai Radikalisme Agama

Judul Asli : Mengurai Radikalisme Agama dengan Mengaplikasikan Keaswajaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam waktu yang singkat dan keterbatasan penulis, tidak mudah untuk mengurai radikalisme agama secara tuntas dan komprehensif. Namun demikian, setidaknya tulisan berikut cukup untuk pengantar mengenali radikalisme agama.  Yang dengan memahaminya kita akan mampu melihat  radikalisme agama, sehingga kita bisa menghindari dan membendungnya.

Sekilas Tentang Agama Islam

Islam adalah agama kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Bukti paling konkrit mengenai hal ini adalah, bahwa Allah Swt menamakan agama ini dengan sebutan Islam. Secara literal, kata Islam diambil dari bahasa arab yang berasal dari akar kata salima yaslamu salaman, sebuah kata-kata indah yang menunjukkan arti kedamaian, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan perlindungan. Jika kita merenungkan dengan mendalam makna-makna tersebut, kita akan mendapati bahwa semua prinsip dasar dalam agama Islam (sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril ) yaitu, Islam, iman dan ihsan semuanya merupakan manifestasi dari makna tersebut.

Islam. Suatu ketika Nabi Saw ditanya, “Siapakah muslim sejati?”  Beliau menjawab, “Al-muslimu man salima an-nasu min lisanihi wa yadihi (seorang  dikatakan muslim sejati  jika ucapan dan perbuatanya tidak merugikan orang lain)”.

Iman. Secara literal kata iman berasal dari akar kata amina ya’manu amnan yang menunjukkan arti kedamaian dan perlindungan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Al-mu’minu man aminahu an-nasu ala dima’ihim wa amwalihim (mukmin sejati adalah seseorang yang orang lain merasa nyawa dan hartanya aman darinya)”.

Ihsan. Kata ihsan berasal dari trilateral (tsulasi mujarrod) berupa hasuna yahsunu husnan yang berarti kebaikan, kebajikan dan keindahan. Dari kata inilah Nabi Saw mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan bersosial dan bermasyarakat, sebagaimana hadis beliau, “Ittaqillah haitsu ma kuntum wa atbi’issayyi’ata al-hasanata wa khaliqi an-nas bi khuluqin hasanin (bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, hapus perbuatan jelek dengan kebaikan, dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik/ akhlaq yang baik”.

Islam adalah agama yang moderat, dalam hal akidah meyakini Tuhan hanya ada satu, tidak anti Tuhan juga tidak meyakini Tuhan banyak. Dalam berbagai persoalan juga demikian, sebagaimana Firman Allah Swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. QS. Al-Baqoroh: 143

 وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. QS. Al-Isro`: 143

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا 

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. Qs. Al-Isro`: 110

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qoshosh: 77

Ayat –Ayat di atas menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu moderat. Orang tidak boleh berlebihan dalam mengalokasikan harta, atau boros, di saat yang sama tidak boleh kikir. Waktu salat tidak boleh terlalu keras, agar tidak mengganggu, juga tidak boleh pelan, sehingga tak terdengar. Sehingga kita bisa menilai, jika ada yang berlebih-lebihan, seperti salat dengan suara dengan speaker yang sangat keras dan mengganggu, meski dengan alasan syiar Islam, meramaikan masjid, atau alasan lain atas nama agama, hal tersebut bukan ajaran Islam.

Apa itu radikal?

Kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”  yang bermakna akar. Secara bahasa, radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian sistem di masyarakat dengan cara kekerasan atau drastis.

Sebenarnya, keinginan adanya perubahan  masih dianggap wajar dan positif jika disalurkan melalui jalur perubahan yang benar, dan terutama tidak beresiko terjadi pertumpahan darah dan tidak merusk stabilitas politik dan keamanan, namun jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah tentunya hal ini tidak dibenarkan. Dr. Said Ramadlan al-Buthi dalam kitabnya al-Islam Maldzu Kulli al-Mujtama’at al-Insaniyat manyatakan, “Kita perlu bertanya, apakah subtansi Islam sesuai dengan sistem revolusi (mewujudkan perubahan dengan kekerasan)?” Pertanyaan tersebut langsung kami jawab, masyarakat Islami tidak mungkin bisa berdiri kokoh jika mengandalkan kekerasan dan pertumpahan darah, karena masyarakat Islami sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terwujud dengan cara seperti itu.

Sebuah tindakan radikal, sebenarnya bisa terjadi dalam setiap aspek kehidupan, baik agama, politik maupun yang lain, tidak hanya terfokus pada satu agama tertentu, seperti kasus teror pada kaum muslim  di Palestina, Pakistan, Irlandia, Bosnia, Chechnya, Pattani, Khasmir dan Rohingya yang dilakukan oleh ekstrimis Hindu, Buddha, Yahudi dan Katolik. Namun pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001 lalu, radikalisme seperti mengalami penyempitan makna dan hanya digunakan sebuah istilah untuk suatu tindak kekerasan atas nama agama, dan jika lebih kita sempitkan lagi, agama Islam. Dan inilah fokus pembahasan kita.

Radikalisme dalam sikap keagamaan bisa ditandai dengan hal berikut:

  • Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
  • Bersikap revolusioner, cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.
  • Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang konservatif dan tekstual.
  • Kelompok radikal selalu merasa sebagai pihak yang memahami ajaran Tuhan. Karenanya mereka suka menganggap kelompok selain mereka adalah sesat

Benih-benih radikalisme dalam Islam sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama Hijriyyah, benih ini ditunjukkan dengan sikap intoleran dan eksklusif oleh kaum Khawarij. Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Sayyidina Ali Ra. Munculnya gerakan ini berawal dari perang Shiffin yang terjadi antara kelompok Sayyidina Ali Ra dan Mu’awiyyah Ra, ketika perang berlangsung dan kelompok Sayyidina Ali Ra hampir memenangkan peperangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan, dan Sayyidina Ali Ra menerima tawaran tersebut. Kesediaan Sayyidina Ali Ra untuk berunding menyebabkan kurang lebih 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini sangat menolak perundingan yang dilakukan Sayyidina Ali. Bagi mereka permusuhan hanya bisa diselesaikan dengan hukum Tuhan, bukan dengan perundingan, sehingga muncul jargon mereka la hukma illa lillah. Karena kelompok Sayyidina Ali bersedia menyelesaikan persoalan dengan perundingan, maka mereka dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal ini yang menyebabkan Khawarij melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat Islam yang tidak sependapat, bahkan salah satu anggota mereka Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali Ra.

Faktor Munculnya Radikalisme Islam

Banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya ideologi ini, butuh pengkajian lebih serius untuk mengidentifikasinya, karena memang hampir semua penyebabnya  tidak tunggal dan butuh terhadap hal-hal atau kepentingan yang lain untuk menjadi faktor tindakan  radikal.

  1. Faktor Keagamaan

Tidak semua kesalahan dalam memahami agama dapat mengantarkan pada tindakan radikal, tentu kesalahan dalam memahami rukun-rukun sholat dan wudlu’ tidak akan menyebabkan radikalisme, namun dalam beberapa persoalan keagamaan, kesalahan dalam memahaminya akan berakibat fatal. Diantaranya sebagai berikut:

  • Takfir

Sikap serampangan dalam mengkafirkan tentu ujung-ujungnya akan menganggap nyawa dan harta seseorang yang dianggap kafir halal. Beberapa kelompok radikal membenarkan  aksi terornya  karena menganggap bahwa setiap negara yang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak mendukung mereka dalam upaya mendirikan khilafah atau bahkan tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, sehingga layak menjadi sasaran jihad. Tentu sikap seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik Ahlusunnah wal Jama’ah. Imam ahlusunnah wal jama’ah, imam Asy’ari menjelang akhir hayatnya berkata pada murid-murid beliau, “Bersaksilah untukku, bahwa aku tidak mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblat (mereka yang shalatnya menghadap qiblat), sebab mereka semua (pada hakikatnya) menunjuk pada Tuhan yang satu”.

  • Jihad dan Hubungan dengan Non Muslim

Mengartikan jihad hanya sebagai bentuk perang fisik saja memang salah, namun harus kita akui bahwa memang salah satu aplikasi jihad berupa perang fisik melawan non muslim. Akan tetapi inti letak kesalahan dalam memahaminya adalah mengenai manathul hukmi (alasan munculnya hukum) dalam jihad. Dalam sebuah kaidah dinyatakan “wujudnya sebuah hukum tergantung wujudnya illat”. Dalam persoalan ini, hukum wajib berjihad tentu jika wujud illatnya. Banyak kelompok radikal yang mengklaim  bahwa alasan/illat dalam jihad adalah bentuk kekufuran seseorang. Ini tidak sesuai dengan firman Allah swt ‏:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8 

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dari peperangan, serta menolak penganiyaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi yang pertama harus digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum  beriman adalah tidak menyukai perang.  Ini ditegaskan oleh Alquran ketika berbicara tentang kewajiban berperang demi tegaknya keadilan perdamaian. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 165

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiyaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi, maka semua yang tidak terlibat harus dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkunagan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan, ketika penindasan sudah tidak dijumpai. Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ 

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah Swt. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqoroh: 193 

  • Kesadaran Pluralitas

Kesadaran bahwa kita hidup bersama-sama dengan berbagai macam aliran dan agama, juga ikut ambil bagian munculnya agama. Sebab jika tidak menyadari demikian, niscaya akan memaksa orang lain untuk mengikutinya, bahkan dengan cacian dan celaan. Hal inilah yang menjadi akar munculnya radikalisme. Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak ada paksaan dan larangan pada agama lain:

 لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Bagisiapapun yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 256 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” QS. Yunus. 99 

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah Swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. QS. Al-An’am: 108 

Larangan memaki tuhan-tuhan dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama guna memelihara kesucian agama-agama dan guna menciptakan rasa aman, serta hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apapun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki  dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Makian juga dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki. Sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

  1. Faktor Sosial-Politik

Berabad-abad lamanya Islam mengalami masa keemasan, kemajuan teknologi, militer dan kebudayaan serta luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa lalu, kini hanya tinggal sejarah saja. Dimulai sejak abad pertengahan, kebangkitan eropa-amerika mulai terasa, ditandai dengan kebangkitan renaisans, mereka mengembangkan teknologi-teknologi yang memudahkan mereka menuju kehidupan yang lebih maju, hingga akhirnya kekuatan militer luar biasa yang mereka miliki satu-persatu mulai mengekspansi wilayah Islam, sejak runtuhnya khilafah terakhir umat Islam, dinasti Ottoman, hampir semua negara Timur Tengah yang menjadi pusat sentral umat Islam dan negara-negara berpenduduk muslim di Asia dijajah oleh barat. Meski setelah negara -negara berpenduduk Islam sudah mulai merdeka, penjajahan  barat dalam waktu lama menyebabkan kebudayaan dan pemikiran mereka mulai mempengaruhi umat Islam, banyak anak-anak muda umat Islam menimba ilmu dari mereka. Namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat muslim yang masih memperjuangkan kebudayaan mereka dan sangat menolak dengan hal-hal berbau barat. Tidak terima umat Islam dianggap kalah dan tidak ‘sudi’ mengakui superioritas barat, mereka menggunakan segala cara termasuk kekerasan dalam perjuangannya. Mereka menganggap bahwa realitas dunia saat ini adalah realitas konflik. Mulai dari memperjuangkan pendirian khilafah baru, jihad sporadis, dan aksi-aksi radikal lain. Hingga pada puncaknya mereka mengkafirkan saudara seimannya yang tidak sependapat.

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa kebersamaan dan berpedaan adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Mungkin bagi kita, mereka berada di pihak yang salah atau bahkan sesat. Namun, keyakinan kebenaran kita, jangan sampai memicu tindak kekerasan. Cukup sudah sejarah kelam kita jadikan pelajaran. Membangun bangsa dengan persatuan yang kuat, kita jadikan cita-cita bersama. Allah Swt berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imron: 105

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

“Sekiranya Allah Swt menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. QS. Al-Maidah: 48

Sekian. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Muhamammad Hamim HR.