Pengkafiran Merusak Akidah dan Persatuan

    Oleh: Darul Azka

    Sebuah bencana besar mengancam eksistensi kehidupan muslimin di muka bumi. Radikalisme dan ekstrimisme diusung oleh kelompok-kelompok garis keras dengan dalih membela agama Islam. Pengkafiran terjadi di mana-mana memengaruhi mental umat Islam menjadi semakin ‘berangasan’ dan seolah-olah tidak ada jalan lain selain paksaan dan kekerasan. Mungkin inilah akibatnya ketika agama diubah menjadi ideologi.

    Hal ini mengaburkan penilaian benar dan salah di tengah-tengah umat. Banyak sudah umat muslim semakin tidak mengerti dan memahami persoalan-persoalan prinsip terkait dengan bagaimana menetapkan parameter penilai kekafiran seorang muslim, hingga divonis benar-benar sudah keluar dari lingkaran agama Islam. Yang lazim kita saksikan, mereka terburu-buru menilai ‘kafir’ terhadap golongan lain yang tidak seideologi dan sejalan dengan perjuangan mereka. Hingga mungkin di muka bumi ini hanya segelintir umat Islam yang tersisa yang luput dari pengkafiran mereka.

    Bisa jadi mungkin mereka memiliki tujuan terpuji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun secara tidak sadar mereka telah mengaburkan sesuatu yang esensial dalam pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar, yakni sikap santun, nesehat baik (mau’idzah hasanah), dan kearifan beradu argumentasi (mujadalah bi al lati hiya ahsan). Allah berfirman:

    ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…الآية النحل ١٢٥

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

    Sungguh ironis, manakala seorang muslim mengajak saudara seagamanya yang tekun beribadah, konsisten menjalankan fardlu, menjauhi larangan, memiliki etos dakwah, banyak hadir di masjid dan giat berjuang dalam dunia pendidikan, dan ajakan tersebut ditolak karena perbedaan pandangan dalam konteks masalah khilafiyah, kemudian dengan semena-mena dia menjatuhkan vonis kafir terhadap saudara seagamanya. Hal seperti inilah yang justru membahayakan dan merusak agama Islam dari dalam.

    Al Imam as Sayyid Ahmad al Haddad mengatakan, “Ulama telah menyepakati larangan mengkafirkan Ahli Kiblat, kecuali atas mereka yang mengingkari Allah SWT., melakukan kemusyrikan yang jelas tanpa bisa di-ta’wil, mengingkari kenabian dan persoalan agama yang lazim difahami, atau mengingkari sesuatu yang mutawatir (informasi otoritatif) dan disepakati secara dlaruri (mesti)”. Contoh persoalan agama yang lazim dipahami sebagaimana tauhid, kenabian, akhir risalah bagi Nabi Muhammad SAW., bangkit di hari akhir, perhitungan dan pembalasan amal, serta surga dan neraka, Semua ini mengakibatkan hukum kafir bagi siapapun yang mengingkari, dan tidak ada toleransi bagi yang tidak mengetahuinya, kecuali mereka yang baru masuk Islam hingga mendapatkan pendidikan akidah yang memadai. Mutawatir adalah informasi (khabar) yang diriwayatkan segolongan pe-rawi dari golongan di atasnya, dimana kredibilitas mereka menjadi jaminan terbebas dari kebohongan kolektif.

    Mutawatir memiliki beberapa klasifikasi. Pertama, mutawatir secara sanad, sebagaimana hadis:

    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَالْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa membohongi dengan sengaja, maka akan ia ambil bagian tempatnya di neraka.”

    Kedua, mutawatir secara strata (thabaqat), sebagaimana ke-mutawatir-an Alquran. Dalam hal ini tingkat ke-mutawatir-annya sudah meluas di tengah umat, mulai dari bangsa timur sampai barat, dirasah, serta hafalannya. Alquran telah diajarkan dari umat ke umat dari tingkat ke tingkat yang lain, sehingga tidak lagi membutuhkan sanad.

    Ketiga, mutawatir secara pengamalan dari generasi ke generasi, sebagaimana mutawatir-nya sebuah amaliyah semenjak masa Nabi hingga masa saat ini. Keempat, mutawatir secara pemahaman, sebagaimana mutawatir-nya mukjizat, meskipun sebagian berdasarkan dalil ahad (informasi non otoritatif), namun secara umum hal tersebut dinilai mutawatir atas dasar pemahaman setiap muslim.

    Memvonis seorang muslim dalam konteks selain yang tersebut di atas, jelas membahayakan akidah. Dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan:

    إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

    “Ketika seseorang mengatakan kepada saudaranya (yang muslim), ‘Hai Kafir,’ maka dengan ucapan itu dosanya akan kembali kepada salah satunya.”

    Dan vonis kafir tidak diperkenankan keluar selain dari mereka yang memahami pintu-pintu masuk (madakhil) dan keluar (makharij) dari hukum kafir, serta mampu memilah garis pembeda (al Hudud al Fashilah) antara kekafiran dan keimanan melalui pedoman syariat. Setiap individu dilarang keras masuk dalam wilayah ini dan melakukan pengkafiran membabibuta hanya dengan bermodalkan persangkaan dan dugaan, tanpa kemantapan dan ilmu yang memadai. Karena apabila ‘kran pengkafiran’ semacam ini dibuka, akan terjadi gelombang pengkafiran besar-besaran dan serba tidak jelas, hingga tidak tersisa lagi sosok muslim sejati di muka bumi kecuali hanya segelintir orang saja.

    Termasuk bagian yang dilarang agama adalah mengkafirkan seseorang dikarenakan perbuatan maksiatnya, padahal di sisi lain dia tergolong beriman dan mengikrarkan syahadat. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dari Anas disebutkan:

    ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ: الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ لَا تُكَفِّرْهُ بِذَنْبٍ، وَلَا تُخْرِجْهُ مِنَ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ، وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ، لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ، وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ

    “Tiga perkara dari pokok keimanan, (pertama) menjaga orang yang telah mengucapkan ‘laa ilaha illallah’, kami tidak akan mengkafirkannya sebab dosa, dan tidak kami keluarkan dari Islam sebab perbuatan maksiat. (Yang kedua) Meyakini bahwa jihad adalah berlangsung hukumnya semenjak Allah mengutusku sampai nanti akhir umatku memerangi Dajjal, dan (hukum fardlunya) tidak akan batal sebab kezaliman pemerintah atau adilnya mereka. Dan (yang ketiga) beriman pada takdir-takdir.”

    Imam Haramain mengatakan: “Seandainya saja ada seseorang memintaku mengungkapkan pemilahan antara kriteria persoalan yang mengakibatkan kekafiran dan yang tidak, pastilah aku akan menjawab bahwa hal itu adalah harapan yang sulit terwujud. Karena persoalan ini sangat rumit dan harus digali dari dasar-dasar tauhid. Mereka yang belum mencapai puncak hakikat, tidak akan pernah mendapatkan dalil yang mantap.”

    Sudah sepantasnya semua pihak merenungkan kembali semua persoalan di atas. Harus disadari bahwa pengkafiran bukan barang dagangan yang bisa dijual murah dan diteriakkan di sembarang tempat. Bisa jadi Anda berteriak lantang ‘kafir’, namun justru hakikatnya Andalah orang pertama yang dicatat sebagai ‘pendusta’ oleh Allah SWT. Na’udzu billah min dzalik

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.