Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus
Di antara makhluk Allah Swt., malaikat merupakan hamba yang kita kenal dengan ketaatan dan kesuciannya. Mereka tidak pernah berbuat maksiat, tidak memiliki dosa, serta senantiasa melaksanakan ibadah dan perintah Allah tanpa sedikit pun membangkang. Karena itu, doa para malaikat memiliki kedudukan yang agung dan mustajab di sisi Allah Swt.
“Doa malaikat adalah mandi (mustajab), sebab malaikat tidak pernah berbuat maksiat, tidak berdosa, sebab malaikat tidak punya hawa nafsu, tidak punya syahwat. Dan malaikat tidak bisa dijangkau oleh iblis, oleh setan. Sehingga malaikat itu tentu tidak melakukan kemaksiatan, ibadah kepada Allah.”
Siapakah Afdhalul Khalqi?
Namun, sebagaimana dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kemaksuman malaikat bukanlah alasan untuk menempatkan mereka sebagai makhluk paling utama di sisi Allah. Beliau menjelaskan bahwa meskipun malaikat tidak pernah bermaksiat dan selalu beribadah, afdhalul khalqi (makhluk yang paling utama) tetaplah Nabi Muhammad Saw., dan setelah beliau adalah manusia-manusia yang bertakwa kepada Allah Swt.
Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh
“Namun yang demikian, walaupun malaikat itu maksum, tidak berbuat maksiat, tidak berdosa, namun bukan berarti afdhalul khalqi itu malaikat Jibril, tidak ya. Namun tetap afdhalul khalqi itu Kanjeng Nabi, tetap manusia yang bertakwa kepada Allah, itu masih lebih baik daripada malaikat ya.”
Perbedaan Ibadah Manusia dan Malaikat
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga memberikan gambaran bahwa ada malaikat yang senantiasa berada dalam keadaan sujud, ada yang terus-menerus ruku’, dan ada pula yang selalu bertasbih kepada Allah. Mereka beribadah secara terus-menerus tanpa jeda. Akan tetapi, keadaan tersebut dapat kita maklumi karena mereka tidak memiliki syahwat dan hawa nafsu yang menghalangi ketaatan.
“Dengan arti, kalau malaikat itu ibadahnya hanya satu sisi saja, misalkan sujud hanya sujud saja, ruku’ hanya ruku’ saja. Walaupun malaikat melakukan demikian, bisa dimaklumi sebab malaikat tidak punya syahwat, tidak punya hawa nafsu. Dan malaikat tidak terjangkau oleh godaan-godaan setan.”
Baca juga: Iman Lemah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik
Berbeda dengan manusia. Kehidupan manusia di dunia dipenuhi berbagai ujian. Dalam dirinya terdapat hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan duniawi. Ada syahwat yang sering kali menyeret kepada kemaksiatan. Di samping itu, ada pula godaan iblis dan setan yang terus berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Karena itu, beliau menegaskan bahwa ibadah manusia di dunia merupakan suatu keajaiban. Bukan semata-mata hasil kekuatan dirinya sendiri, melainkan karena hidayah dan taufik yang Allah berikan kepadanya. Tanpa pertolongan Allah, sangat sulit bagi seseorang untuk mampu melawan hawa nafsu dan berbagai godaan yang mengelilinginya.
Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri
“Namun kalau manusia hidup di dunia, ada hawa nafsu, ada syahwat, ada iblis, ada setan. Sehingga ibadah di dunia itu merupakan suatu keajaiban, itu merupakan hidayah dari Allah, taufik dari Allah Swt.”
Penutup
Maka dari sini dapat kita pahami bahwa manusia dapat meraih derajat yang sangat tinggi di sisi Allah Swt., bahkan melebihi para malaikat, apabila ia mampu menundukkan hawa nafsunya dan istiqamah dalam ketaatan. Sebab, kemuliaan manusia bukan terletak pada asal penciptaannya, melainkan pada perjuangannya dalam melawan syahwat, godaan setan, dan berbagai ujian kehidupan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo




