Tag Archives: KH. M. Anwar Manshur

Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Kalian mondok di pesantren itu sudah sangat enak, karena di pesantren kalian tak ada ganguan, tak ada yang mempengaruhi dari sana-sini, kalian bisa memperdalami syariat agama Islam ala Ahli Sunnah Waljamaah. Makanya kalian harus bersyukur kepada Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh belajarnya.

Alhamdulillah kita semua oleh Allah Swt. diberikan keinginan untuk mondok di pesantren, itu adalah suatu nikmat yang sangat luar biasa. Banyak yang rumahnya di samping pondok akan tetapi mereka tidak ingin mondok, sedangkan yang rumahnya jauh dari pondok tetapi berangkat mondok. Makanya kita harus bersyukur, cara syukur kita adalah dengan mencurahkan semua tenaga kita untuk mendalami ajaran syariat Islam.

Kalian semua disini adalah utusan dari daerah kalian masing-masing, walaupun keberangkatan kalian semua tidak diberangkatkan oleh masyarakat, tetapi keberangkatan kalian kepondok pesantren adalah sebagai utusan delegasi dari masyarakat kalian, untuk mendalami syariat Islam yang akhirnya kita nanti kembali dan menyampaikannya kepada masyarakat.

Makanya kalian semua di pesantren yang mempeng, hasil kalian di pesantren itu ditunggu oleh masyarakat kalian, apa yang belum kalian bisa, kalian pelajari. Soalnya belajar di pesantren itu paling mudah, banyak kaka-kaka kelas kalian yang sudah bisa, kalian bisa belajar dan bertanya kepadanya.

Dan kita semua itu di tunggu masyarakat, jangan sampai kita mengecewakan masyarakat kita, kalian ditunggu-tunggu hasil belajarnya, sampai rumah kalian tidak bisa apa-apa, kan ini sangat mengecewakan masyarakat. Dan ini tugas kalian, kalian  berangkat ke  pesantren, kalian harus dalami semua syariat Islam di pesantren, dan ketika kalian pulang kalian ajarkan pada masyarakat kalian, makanya kalian semua harus yang sunguh-sungguh dalam belajar, apa yang belum kalian bisa kalian pelajari di pesantren.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 12 Desember 2019, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Ketika Habib Ali Al-Jufri dan Kiai Anwar Manshur Berbagi Berkah melalui Air Minum

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri menghadiri Jalsatul Ilm di kediaman Habib Umar Muthohhar di Cepoko, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/12). Selain menyampaikan dakwahnya melalui lisan, ia juga menunjukkan lakunya sebagai dakwah.

Menjelang akhir kegiatan tersebut, Habib Ali meminta KH Anwar Manshur untuk meminum air yang sudah tersaji di meja. Kiai Anwar menerima gelas air minum itu, lalu membuka tutupnya dan menyerahkan kepada Habib Ali. Namun sang Habib menolak dan dengan isyarah tangannya meminta Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu meminumnya.  

Kiai Anwar pun meminum air tersebut. Ketika hendak menutup lagi gelas tersebut, Habib Ali bergegas menjemputnya. Kiai Anwar pun menatap wajah habib kelahiran Jeddah, Arab Saudi itu dengan senyum sembari menyerahkannya. Lalu, Habib Ali meminum tiga kali air sisa yang diminum oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu.  

Belum sampai di meja ketika Habib Ali hendak meletakkan gelas tersebut, Kiai Anwar segera menyambut gelas tersebut yang masih menyisakan air di dalamnya. Ia pun kembali meminum air sisanya.  

Setelah diminum Kiai Anwar, gelas tersebut masih menyisakan beberapa mili air di dalamnya. Habib Soleh Al-Jufri tak mau kehilangan berkah tersebut dan langsung menyambutnya. Ia mengambil air dari gelas lainnya dan menyatukannya sehingga kembali banyak. Tentu saja ia meminumnya. Habib Soleh lalu meneruskan gelas tersebut kepada KH Najih Maimoen Zubair.  

Sebelumnya, Kiai Anwar Manshur menyambut kehadiran Habib Ali. Merasa Kiai Anwar tak membersamainya menuju tempat yang sudah disediakan di depan, Habib Ali kembali menuju Kiai Anwar dan menjemputnya untuk bersama mendampinginya di depan. Ia menggandeng kiai yang akrab disapa Mbah War oleh para santri-santrinya itu.  

Habib Ali melakukan rihlah dakwahnya ke Indonesia sejak akhir November 2019 lalu. Ia mengisi berbagai pengajian dan diskusi, mulai dari kampus seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Walisongo Semarang, Universitas Negeri Semarang. Habib berusia 48 tahun itu juga mengisi pengajian di majelis taklim dan pondok pesantren.

Sumber: www.nu.or.id

Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Keutamaan Birrul Walidain

Nanti para santri yang tak pulang liburan maulid bisa mengisi waktu liburanya dengan mengaji, dan para santri yang pulang ke rumahnya masing-masing harus melakukan birrul walidain. Apa yang di kerjakan oleh orang tua kalian di rumah, kalau kalian bisa mengerjakanya, maka kerjakanlahlah oleh kalian, jangan sampai kalian di rumah membuat hati orang tua kalian tersinggung.

Dimanapun kalian berada jagalah ahlakul karimah, lakukan pekerjaan yang membuat hati orang tua kalian senang. Kalian yang sebelum berangkat ke pesantren tidak pernah menggunakan bahasa yang halus ketika berbicara pada orang tua, maka ketika sudah pulang pesantren, kalian semua harus berbicara yang halus ketika berbicara dengan orang tua, tunjukan ajaran-ajaran yang diajarkan di pesantren, lalu mintalah doa pada orang tua kalian.

Orang yang hidupnya melaksanakan birrul walidain hidupnya akan penuh barokah. Maka dari itu janganlah pernah menyakiti hati orang tua kalian ketika dirumah. Mereka sudah mengurusi kalian dari kecil, maka jagalah selalu ahlakul karimah. Ketika kalian menjaga ahlak kalian dimanapun kalian berada, itu sama halnya kalian seperti berdakwah.Ketika masyarakat melihat kalian yang menjaga ahlakul karimah, mereka yang belum memondokan anaknya ke pesantren, jadi ingin memondokan anak-anaknya.

Dan yang terakhir jangan sampai kalian dirumah membuat resah masyarakat, jaga selalu nama baik pondok pesantren kita.()

*Disampaikan dalam acara pembekalan santri sebelum liburan maulid di Masjid Lawang Songo 03 Nov 2019 M.(TB)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pon. Pes Salafiy Terpadu Ar-Risalah

LirboyoNet, Kediri- Sabtu (02/11) Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah.

Acara yang dimulai pukul 20:00 itu berjalan lancar dan penuh khidmat. Dimulai dengan acara pembacaan tahlil yang di pimpin langsung oleh Romo KH. M. Anwar Manshur. Dalam acara tersebut tampak hadir Rois Am PBNU KH. Miftachul Akhyar, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH. Ma’ruf Zainuddin, KH. Ahmad Muwafiq, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Emil Elestianto Dardak, M.Sc.

“Perlu saya sampaikan Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri, sampai malam hari ini masih di beri pertolongan oleh Allah Swt, untuk selalu konsisten dengan Visi dan Misinya yaitu, mendidik anak bangsa menjadi anak yang bermanfaat bagi Agama, Bangsa dan Negara. Sesuai dengan hadits Rasulullah yaitu khoirunnas anfa’uhum linnas sekaligus membentuk pribadi akhlak yang mulia sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw.” Tutur Ibu Nyai Hj. Aina Ainaul Mardliyah Anwar, S.H.I. memberikan sambutan atas nama Pengasuh Ponpes Ar-Risalah.

Kemudian acara di lanjut dengan mauidzah hasanah yang dibawakan oleh Rois Am PBNU yaitu KH. Miftachul Akhyar dan KH. Ahmad  Muwafiq.

Selengkapnya: lihat dalam Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah ini diakhiri dengan bacaan doa yang dipimpin langsung oleh Romo KH. Abdulloh Kafaihi mahrus.()

Haul Hj. Ummi Kultsum binti KH. Mahrus ‘Aly

LirboyoNet, Kediri- Memperingati jasa dan perjuangan orang yang telah meninggal dunia bisa dilakukan dengan beragam cara. Mengadakan peringatan haul adalah salah satunya. Kata haul berasal dari bahasal Arab al-haul, berarti “tahun”, dimaknai di bumi nusantara sebagai peringatan tahunan kepergian orang yang tercinta. Acara yang telah mengakar di masyarakat ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali. Umumnya dilangsungkan tepat pada hari kepergian almarhum atau almarhumah.

Kamis malam Jumat kemarin (08/03), diperingatilah haul Hj. Ummi Kultsum. Beliau merupakan putri ketiga KH. Mahrus ‘Aly, penerus ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Marzuqi Dahlan. Beliau juga merupakan istri dari KH. M. Anwar Manshur. Ini merupakan haul beliau yang ke 21 tahun. Beliau wafat pada 21 Maret 1997 M, atau bertepatan dengan 18 Dzulqa’dah 1395 H.

Haul yang berjalan khidmat ini diadakan di ndalem KH. M. Anwar Manshur. Dihadiri oleh segenap dzurriyah  KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo, dan beberapa tamu undangan. Termasuk beberapa tokoh kiai dan ulama di sekitar Kota Kediri.

 “Niki nilingaken  kulo lan panjenengan sedoyo, anggenipun narbiyyah dateng poro putro monggo kito tambah-tambah. Kersane anak kito dados waladun shôlihun yad’û lahû naliko ba’danipun kito sampun sedo. Sebab sing diarep-arep nggih namung niku. Urip nduwe shodaqoh, gadah amal jariyah, nduwe ilmu diwulangaken, lan nduwe anak sing gelem ndungaaken wong tuo. Sing diarep-arep namung niku. Mulo mugi sedanten kito dipun paringi ingkang kados meniko.” (Sekedar mengingatkan untuk saya dan anda semua. Dalam mendidik anak kita tingkatkan. Supaya anak kita kelak menjadi anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia. Sebab yang diharapkan hanya itu. Hidup punya sedekah, punya amal jariyah, punya ilmu kemudian disebarkan, dan punya anak yang mau mendoakan orang tuanya. Semoga kita semua diberikan hal seperti itu.) Demikian dawuh KH. M. Anwar Manshur. ][