Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Syukur menjadi Pelajar

Di tengah arus zaman yang penuh dengan tantangan, para santri memiliki posisi yang sangat penting. Tidak hanya sebagai penuntut ilmu, tetapi juga sebagai pewaris perjuangan para ulama. Dalam sebuah kesempatan, KH. M. Anwar Manshur menyampaikan dawuh yang penuh makna tentang bagaimana seorang pelajar—terutama santri—harus memaknai rasa syukur atas nikmat mondok di pesantren.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Ilmu adalah Fadlullah

Beliau berpesan:

“Kalian mondok di pesantren itu sudah sangat enak, karena di pesantren kalian tak ada gangguan, tak ada yang mempengaruhi dari sana-sini, kalian bisa memperdalami syariat agama Islam ala Ahlusunah waljamaah. Makanya kalian harus bersyukur kepada Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh belajarnya.”

Santri adalah Orang Pilihan

Dawuh ini mengingatkan kita, bahwa nikmat menjadi santri adalah nikmat besar yang tidak semua orang dapatkan. Ada yang rumahnya di samping pondok tetapi enggan mondok, sementara ada pula yang rumahnya jauh justru berangkat mondok. Maka, sebagaimana ditegaskan beliau:

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Berdoa saat Menghadapi Cobaan

“Alhamdulillah kita semua oleh Allah Swt. diberikan keinginan untuk mondok di pesantren, itu adalah suatu nikmat yang sangat luar biasa. Banyak yang rumahnya di samping pondok akan tetapi mereka tidak ingin mondok, sedangkan yang rumahnya jauh dari pondok tetapi berangkat mondok. Makanya kita harus bersyukur, cara syukur kita adalah dengan mencurahkan semua tenaga kita untuk mendalami ajaran syariat Islam.”

Tanggung Jawab Santri atau Pelajar

Lebih jauh, KH. M. Anwar Manshur juga mengingatkan bahwa keberangkatan santri ke pesantren sejatinya bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga membawa amanah masyarakat:

“Kalian semua di sini adalah utusan dari daerah kalian masing-masing, walaupun keberangkatan kalian semua tidak diberangkatkan oleh masyarakat, tetapi keberangkatan kalian ke pondok pesantren adalah sebagai utusan delegasi dari masyarakat kalian, untuk mendalami syariat Islam yang akhirnya kita nanti kembali dan menyampaikannya kepada masyarakat.”

Baca juga: KH. AHS. Zamzami Mahrus: Ilmu dan Barokah

Karenanya, para santri harus benar-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka. Jangan sampai pulang tanpa membawa ilmu, karena itu akan mengecewakan banyak pihak. KH. M. Anwar Manshur menegaskan:

“Dan kita semua itu ditunggu masyarakat, jangan sampai kita mengecewakan masyarakat kita, kalian ditunggu-tunggu hasil belajarnya, sampai rumah kalian tidak bisa apa-apa, kan ini sangat mengecewakan masyarakat. Dan ini tugas kalian, kalian berangkat ke pesantren, kalian harus dalami semua syariat Islam di pesantren, dan ketika kalian pulang kalian ajarkan pada masyarakat kalian, makanya kalian semua harus yang sungguh-sungguh dalam belajar, apa yang belum kalian bisa kalian pelajari di pesantren.”

Penutup

Dari dawuh beliau ini, jelas bahwa cara bersyukur seorang pelajar bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan sungguh-sungguh dalam belajar, menjaga amanah masyarakat, dan meniatkan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada umat. Syukur yang sejati akan tampak dari semangat seorang santri dalam menggali ilmu di pesantren dan mengamalkannya ketika kembali ke tengah masyarakat.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syukur atas Kelahiran Nabi

(Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 12 Desember 2019, di Aula Al-Mu’tamar). (TB)

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses