Tag Archives: pewaris nabi

Pesona Kota Tarim dan Penduduknya

Pesona kota tarim dan penduduknya

Sebuah kota kecil yang hening. Tak ada suara bising klakson kendaraan akibat mobil-mobil yang berebut jalan, tak ada tempat kongkow bagi muda-mudi puber, butik yang menyediakan pakaian keluaran terbaru, tak ada gedung pencakar langit atau jenis kemewahan lain sebagaimana pemandangan umum di kota-kota metropolitan lainnya.

Bila Makkah dan Madinah merupakan penggalan surga yang telah diberkahi oleh Allah, barangkali kota ini adalah luberan berkah kedua kota suci tersebut. Sebuah kota yang penduduknya selalu memegang teguh dan melestarikan ajaran kanjeng Nabi.

Tarim, sebuah kota yang berada di provinsi Hadramaut, Yaman. Nama Tarim konon diambil dari nama putra Raja Hadramaut, yaitu Tarim bin Hadramaut. Kota ini mempunyai eksotika dan nilai sejarah yang sangat tinggi. Hal tersebut bisa dilihat dari arsitektur bangunan dan rumah masyarakat yang terbuat dari tanah.

Meski berada pada kawasan yang berbukit dari batu, kerikil dan padang berpasir, tumbuhan dan pohon-pohon tetap dapat hidup dan tumbuh. Air tetap mengalir dan melimpah. Oleh karena itu, Tarim juga sering disebut Tarim al-Ghanna yang merujuk kepada banyaknya pohon-pohon yang tumbuh serta sungai-sungai yang mengalir di situ. Penduduknya pun dapat hidup dengan makmur melalui kegiatan berdagang, berkebun, dan lainnya.

Penduduk Yaman, Tarim khususnya merupakan orang-orang yang terkenal dengan kelembutan hatinya. Sebagaimana hadits yang ada dalam kitab Al-Jami’ Al-Shoghir, nabi Muhammad SAW bersabda:

أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمِينْ, هُمْ أَرَقَّ قُلُوْبًا, اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَ الْفِقْهُ يَمَانٌ وَ الْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

Keutamaan Ahli (penduduk) Yaman

Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq pun pernah secara khusus mendoakan kota Tarim dan penduduknya. Dalam kitab Fawaid al-Mukhtaroh karya Al-Habib Zain bin Smith diceritakan bahwa ketika sahabat Ziyad bin Labid al-Anshori selaku gubernur Yaman (pada waktu itu) mengajak seluruh penduduk Yaman untuk berbaiat pada kekhalifahan sayyidina Abu bakar, penduduk Tarim lah yang menerima baiat tersebut pertama kali dengan suka rela. Mendengar kabar tersebut, sayyidina Abu Bakar bergembira dan mendoakan secara khusus pada penduduk Tarim dengan tiga hal. Yang pertama sayyidina Abu Bakar mendoakan agar kota Tarim menjadi kota yang makmur, doa yang kedua adalah untuk keberkahan air di kota ini, dan doa-harapan agar kelak lahir banyak ulama dan wali di kota ini (Tarim).

baca juga: Al-Habib Salim bin Abdulloh Assyatiri Tarim Hadramaut Yaman

Selain kemakmuran tanah Tarim, kabaikan dan kelembutan hati penduduknya, kemuliaannya pun juga tampak melalui Ahlu Bait yang banyak menetap di kota ini.  Adalah Al-Imam Ahmad bin Isa, seorang ahlu bait yang berhijrah ke Hadramaut. Dinamakan Al-Muhajir karena beliau meninggalkan Basrah, Iraq pada zaman pemerintahan Khalifah Abbassiyah yang berpusat di Baghdad, pada tahun 317 Hijriyah. Mula-mula ke Madinah dan Mekkah, kemudian pada tahun 318 Hijriyah, dari Mekkah ke Yaman kurang lebih sekitar tahun 319 Hijriyah.

Beliau berhijrah disebabkan karena banyaknya fitnah yang terjadi di Iraq pada waktu itu, banyak para Ahlul Bait keturunan Rasulullah SAW diburu atau bahkan dibunuh karena pemerintah khawatir kalau mereka mau mengambil-alih kekuasaan. Beliau berhijrah dengan diikuti oleh 70 orang dari keluarga maupun pengikutnya.

Dari beliaulah, kemudian ajaran-ajaran Rasulallah SAW berkembang di Hadramaut. Melalui beliau pula, lahir banyak ulama ahlu bait yang dijadikan sandaran bagi umat Islam di dunia. Lantaran beliau semua, kota Tarim menjadi kota ilmu dan kota religius.

Disana, ada banyak pondok dan tempat belajar bagi pelajar Islam dari berbagai penjuru seperti Rubath Tarim, Darul Musthofa, Al-Ahgaf, dan lain sebagainya. Masjidnya pun tak kalah banyak ada ratusan masjid di kota Tarim yang tak pernah sepi dari ibadahnya solihin dan khlowatnya tholibin. Saking banyaknya wali dan ulama di Tarim, kota ini juga menjadi mulia dan membuat lingkungan sekelilingnya terberkahi dengan kebaikan. Sampai ada ungkapan, شوارع تريم شيخ من لا شيخ له. Jalanan kota Tarim adalah guru bagi orang yang tak mempunyai guru.

Kemuliaan di Tarim semakin nampak bukan hanya karena ulama dan ahli ilmu yang masih hidup. Tapi juga oleh alim ulama yang telah meninggal. Di Tarim terdapat tiga makam yang sangat terkenal, yaitu pemakaman Zanbal, Furaith, dan pemakaman Basyar. Tempat beristirahatnya orang-orang mulia disisi Allah. Makam tempat beristirahat para kekasih Allah yang bisa diziarahi oleh siapa saja.

Tarim adalah kota sebagaimana kota dalam doa Sayyidina Abu Bakar. Kota yang berkah air dan tanahnya, makmur penduduknya lantaran banyak ulama, auliya dan solihin yang tak henti-hentinya berbagi  dan mengajarkan kebaikan; tawadhu, adab, dan hidup sederhana. Sungguh beruntung  penduduk Tarim. Sungguh beruntung orang mencintai ahlu Tarim. Wallahu A’lam [*]

tonton juga: MAJELIS SHOLAWAT KUBRO #1

Pesona kota tarim dan penduduknya

Penulis: Nida Muhammad

Seribu Hari Kiai Idris: Menjadi Tadah Berkah Ulama

LirboyoNet, Kediri — Sebagai pewaris Nabi, ulama bagaikan talang air hujan. Letaknya di atas, mengucurkan ilmu dan berkahnya kepada mereka yang bersedia merendah, tawadlu, dan memuliakan mereka. Dengan meyakinkan diri bahwa merekalah yang termulia, yang pantas teratas, kita yang berada di bawahnya akan teraliri berkah.

Keterangan ini diungkap oleh Habib Umar al-Muthohar Semarang Sabtu malam (11/03), dalam acara “Memperingati Seribu Hari Wafatnya almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi”. Berkah, menurut beliau,  akan mengalir bagai air, “al-barakah yajri kajiryati al-ma’ (barakah mengalir seperti halnya aliran air)”. Kesediaan kita untuk merendah dan tawadhu di hadapan ulama adalah kunci utama mendapatkan aliran keberkahannya. “Tandon air tinggi sepuluh meter, deras keluar dari krannya. Dua puluh meter, lebih deras lagi. Tiga puluh meter, lebih deras lagi. Artinya apa? Semakin kau muliakan, semakin kau hormati, semakin kau ajeni (hargai), semakin deras aliran barakah,” tutur beliau. Tentu saja, karena itu seorang muslim yang taat wajib menghormati guru-guru mereka. Ahya’an wa amwatan. Para guru yang masih hidup, juga bahkan mereka yang sudah wafat.

“(Para ulama yang sudah wafat) kadangkala menjenguk santri-santrinya,” terang beliau.  “Kita sering kan saat tahlil, belajar, menghadiahi fatihah, tiba-tiba tercium bau wangi. Itu salah satu tanda guru kita hadir di samping kita.”

Beliau mengumpamakan ulama yang sudah wafat sebagai timsah (buaya). “Buaya itu hidup di mana? Air. Telurnya di mana? Daratan. Meskipun hidupnya di air, kadangkala ia memeriksa telur-telurnya yang ada di darat. Begitu juga para ulama. Kita ini adalah telur-telur beliau,yang senantiasa dijenguk dan diawasi oleh beliau,” jelas beliau yang hadir bersama keluarga.

Selain Habib Umar al-Muthohar, acara malam itu juga dihadiri oleh tamu-tamu agung lainnya. Salah satunya, Sayid Kalim al-Jailani, seorang ulama thariqah Chistiyah berkebangsaan India. Dalam kesempatan ini, beliau mengungkapkan bagaimana kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. harus selalu menjunjung tinggi sunnah-sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi saw.

Andai direnungi dengan baik, akan banyak sekali ditemukan hikmah dari sunnah Nabi saw. Satu kisah sahabat diceritakan oleh Sayid Kalim. Suatu ketika, seorang sahabat memulai berwudlu dengan membasuhkan air ke wajahnya. Serta merta Nabi saw. berseru, “qif! (berhentilah!)”. Beliau menyuruh terlebih dahulu membasuh telapak tangan, berkumur, dan ber-istinsyaq (menghirup air dengan hidung). “Kita tahu, air memiliki tiga sifat. Warna, rasa, dan bau. Ketiga sifat itu harus asli kalau digunakan berwudlu. Dengan membasuh telapak tangan, kita akan tahu keaslian warna air. Dengan berkumur, kita tahu rasa aslinya berubah atau tidak. Dengan istinsyaq, kita tahu ada perubahan atau tidak dari baunya.”

Kesunahan yang lain, semisal bacaan-bacaan di dalam shalat, memiliki hikmah luar biasa. Dalam shalat, hal-hal yang difardlukan oleh Allah hanya gerakan-gerakan dan bacaan yang terbatas. Sisanya adalah kesunahan yang dituntun oleh Nabi saw. “Gerakan fardlu akan membuat ibadah kita sah. Tapi bacaan yang dipandu oleh Rasulullah saw. akan mengantarkan kita pada ibadah yang sempurna. Bacaan-bacaan itu adalah jiwa shalat. Inti shalat. Ruhnya shalat. Maka, masihkah kita acuh kepada sunnah-sunnahnya?” jelas beliau.

Tokoh yang juga hadir adalah Walikota Kediri Abdulloh Abu Bakar berserta perangkatnya, tokoh-tokoh agama Kota-Kabupaten Kediri, dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.][