Seribu Hari Kiai Idris: Menjadi Tadah Berkah Ulama

LirboyoNet, Kediri — Sebagai pewaris Nabi, ulama bagaikan talang air hujan. Letaknya di atas, mengucurkan ilmu dan berkahnya kepada mereka yang bersedia merendah, tawadlu, dan memuliakan mereka. Dengan meyakinkan diri bahwa merekalah yang termulia, yang pantas teratas, kita yang berada di bawahnya akan teraliri berkah.

Keterangan ini diungkap oleh Habib Umar al-Muthohar Semarang Sabtu malam (11/03), dalam acara “Memperingati Seribu Hari Wafatnya almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi”. Berkah, menurut beliau,  akan mengalir bagai air, “al-barakah yajri kajiryati al-ma’ (barakah mengalir seperti halnya aliran air)”. Kesediaan kita untuk merendah dan tawadhu di hadapan ulama adalah kunci utama mendapatkan aliran keberkahannya. “Tandon air tinggi sepuluh meter, deras keluar dari krannya. Dua puluh meter, lebih deras lagi. Tiga puluh meter, lebih deras lagi. Artinya apa? Semakin kau muliakan, semakin kau hormati, semakin kau ajeni (hargai), semakin deras aliran barakah,” tutur beliau. Tentu saja, karena itu seorang muslim yang taat wajib menghormati guru-guru mereka. Ahya’an wa amwatan. Para guru yang masih hidup, juga bahkan mereka yang sudah wafat.

“(Para ulama yang sudah wafat) kadangkala menjenguk santri-santrinya,” terang beliau.  “Kita sering kan saat tahlil, belajar, menghadiahi fatihah, tiba-tiba tercium bau wangi. Itu salah satu tanda guru kita hadir di samping kita.”

Beliau mengumpamakan ulama yang sudah wafat sebagai timsah (buaya). “Buaya itu hidup di mana? Air. Telurnya di mana? Daratan. Meskipun hidupnya di air, kadangkala ia memeriksa telur-telurnya yang ada di darat. Begitu juga para ulama. Kita ini adalah telur-telur beliau,yang senantiasa dijenguk dan diawasi oleh beliau,” jelas beliau yang hadir bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.