Menjadikan Teman sebagai Penuntun Menuju Kebaikan dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Pendahuluan

Dalam dunia ilmu Psikologis, Manusia adalah Makhluk sosial. Seberapa kuat mereka, psikologi mereka akan runtuh jika mereka tidak bersosialisasi dengan insan lainnya. Berkenalan, berteman, memahami satu sama lain, dan akhirnya menjadi nyaman, itu adalah fitrah manusia dalam hidup. Namun dalam islam, bergaul bukan hanya tentang kenyamanan sosial dan pemuas kebutuhan psikologis, tetapi juga soal arahg hidup dan keselamatan akhirat. Teman yang baik bukan sekadar penghibur ketika kesepian, melainkan penunjuk jalan menuju kebaikan dan kedekatan kepada Allah.

Pengaruh Teman dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah ﷻ menggambarkan penyesalan orang-orang yang salah memilih teman di akhirat:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ۝٢٧يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ۝٢٨

Artinya :“(Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul. Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia.”(QS. Al-Furqan: 27-28)

Ayat ini menjelaskan bahwa persahabatan bukan cuman perkara sepele. Ia bisa menjadi sebab keselamatan, atau justru sumber penyesalan yang tak berujung.

Hadis Nabi tentang Teman yang Baik

Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat tegas dan mudah dipahami:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ: إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ: يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً).

Artinya :“Rasulullah ﷺ bersabda:“Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Dari penjual minyak wangi, engkau tidak akan luput dari salah satu dari tiga hal: engkau bisa membeli minyak wangi darinya, atau ia memberikannya kepadamu, atau setidaknya engkau mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, ia bisa membakar badanmu atau pakaianmu, atau setidaknya engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.”[¹ Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, tahqīq Dr. Muṣṭafā Dīb al-Bughā (Damaskus: Dār Ibn Kathīr dan Dār al-Yamāmah). hal. 741 juz. 2]

Hadist ini menjelaskan bahwa Teman baik, meski tidak secara langsung mengajarkan, tetap memberi pengaruh positif. Sedangkan teman buruk, bahkan tanpa disadari, menyeret kepada keburukan.

Penegasan tabiat manusia dari Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa teman memiliki peran besar dalam membentuk agama dan akhlak seseorang:

لِأَنَّ الطِّبَاعَ مَجْبُولَةٌ عَلَى التَّشَبُّهِ وَالِاقْتِدَاءِ بَلِ الطَّبْعُ يَسْرِقُ مِنَ الطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي صَاحِبُهُ فَمُجَالَسَةُ الْحَرِيصِ عَلَى الدُّنْيَا تُحَرِّكُ الْحِرْصَ وَمُجَالَسَةُ الزَّاهِدِ تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ تكره صحبة طلاب الدنيا ويستحب صحبة الراغبين في الآخرة

Artinya :“Karena tabiat (manusia) tercipta dengan kecenderungan untuk menyerupai dan meniru; bahkan tabiat itu dapat ‘mencuri’ dari tabiat yang lain tanpa pemiliknya sadari. Maka (jika)bergaul dengan orang yang rakus terhadap dunia (maka)akan menggerakkan sifat rakus, dan (jika)bergaul dengan orang yang zuhud akan menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia. Oleh karena itu, bencilah berteman dengan para pencari dunia, dan bertemanlah dengan orang-orang yang menginginkan akhirat(zuhud).”[¹ Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī aṭ-Ṭūsī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. hal. 173 juz. 2]

Karena itu, Al-Ghazali menyebut memilih teman sebagai bagian dari riyadhah an-nafs (pendidikan jiwa), bukan sekadar urusan sosial.

Ciri Teman yang Menuntun kepada Kebaikan

Dalam Islam, teman yang baik memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Mengingatkan kepada Allah, bukan melalaikan.
  2. Menasehati dengan jujur, bukan membenarkan kesalahan.
  3. Mendorong ketaatan, bukan menormalisasi dosa.
  4. Menjadi cermin akhlak, bukan panggung kepentingan.

Persahabatan sebagai Jalan Mendekat kepada Tuhan

Dalam Islam, persahabatan yang berlandaskan iman memiliki nilai ibadah. Bahkan Allah menjanjikan kedudukan istimewa bagi mereka:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي؟ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي 

Artinya :“Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat: ‘Di manakah orang-orang yang saling menyayangi karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku.’”[¹ Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj bin Muslim al-Qusyairī an-Naisābūrī, al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ (Ṣaḥīḥ Muslim). hal. 12 juz. 8]

Cinta karena Allah tidak lahir dari kesamaan hobi semata, tetapi dari kesamaan tujuan: mencari ridha-Nya.

Penutup

Teman bukan hanya pelengkap hidup, melainkan penentu arah. Dalam Islam, memilih teman adalah bagian dari kesungguhan beragama. Siapa yang ingin dekat kepada Tuhan, tetapi abai terhadap lingkaran pergaulannya, sedang berjalan dengan kompas rusak.

Maka bertemanlah dengan mereka yang jika diingat wajahnya, hati tergerak untuk taat; jika lisannya terdengar, iman bertambah; dan jika ia pergi, akhlaknya tertinggal.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak teman yang kita miliki, tetapi ke mana mereka membawa kita.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses