Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa biasa dalam sejarah Islam. Ia adalah mukjizat besar, perjalanan melampaui ruang dan waktu yang menjadi penghibur bagi Rasulullah SAW saat berada di titik terendah perjuangannya.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam pengertian, dalil, hingga latar belakang menyentuh di balik peristiwa isra mikraj ini.
Baca juga: Hukum Mengingkari Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad
Apa Itu Isra Mikraj?
Secara bahasa dan istilah, peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian utama yang terjadi dalam satu malam:
- Isra’: Perjalanan Nabi Muhammad SAW atas kehendak Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina menggunakan Buraq.
- Mi’raj: Kenaikan Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh, lalu ke Sidratul Muntaha, hingga kembali lagi ke Baitul Maqdis di malam yang sama.
Baca juga: Refleksi Isra Mi’raj; Pulang ke Bumi Membawa Kado Tuhan
Dalil Al-Qur’an tentang Isra
Peristiwa Isra’ secara tegas Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 1:
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا ؕ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)”
Makna Mendalam Ayat Tersebut:
- Kata “Subhana” (Maha Suci): Menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah sesuatu yang luar biasa dan hanya bisa Nabi Muhammad lakukan atas izin Sang Maha Pencipta.
- Kata “Abdihi” (Hamba-Nya): Penegasan bahwa meskipun mencapai derajat setinggi itu, Nabi Muhammad tetaplah seorang hamba. Dalam kajian tasawwuf, menjadi hamba yang Allah akui merupakan derajat yang tinggi.
- Keberkahan Masjidil Aqsa: Disebut berkah secara agama karena menjadi tempat para Nabi, dan berkah secara duniawi karena alamnya yang subur.
Roh dan Jasad: Bagaimana Nabi Melakukannya?
Mayoritas ulama (Salaf maupun Khalaf) bersepakat bahwa Isra Mikraj terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus, bukan sekadar mimpi.
Hal ini dibuktikan dengan penyebutan kata “Hamba” (‘Abdi) dalam Al-Qur’an yang merujuk pada kesatuan jasad dan ruh. Selain itu, peristiwa pembelahan dada, menunggangi Buraq, dan berdialog dengan Nabi Musa AS adalah bukti fisik bahwa perjalanan ini nyata secara lahiriah.
Beberapa pemikir mencoba menafsirkan peristiwa ini sebagai pengalaman batin semata. Namun, para ulama membantah hal ini karena bertentangan dengan teks eksplisit Al-Qur’an dan Sunah serta keagungan peristiwa ini.
Baca juga: Hikmah & Alasan Isra Mi’raj Terjadi pada Malam Hari
Kapan Terjadinya Isra Mikraj?
Para ahli sejarah sepakat bahwa peristiwa ini terjadi setelah masa kenabian (Bi’tsah), namun mereka berbeda pendapat mengenai waktu pastinya:
- Tahun: Umumnya diyakini terjadi satu tahun sebelum Hijrah. Seperti bait ke 46 dalam kitab ‘Aqidat al-‘Awwam.
- Bulan: Ada yang menyebut bulan Rabiul Awal dan ada juga yang menyebut Rajab (yang paling populer di masyarakat).
Apa Latar Belakang Terjadinya Isra Mikraj?
Jika kita melihat sirah nabawiyah, Isra Mikraj terjadi setelah rentetan peristiwa memilukan yang disebut Amul Huzni (Tahun Kesedihan):
- Wafatnya Abu Thalib: Paman sekaligus pelindung utama Nabi dari gangguan kaum Quraisy.
- Wafatnya Khadijah binti Khuwailid: Istri tercinta yang selalu menghibur dan mendukung dakwah beliau dengan harta dan jiwa.
- Penolakan Penduduk Thaif: Saat Nabi mencari perlindungan ke Thaif, beliau justru dilempari batu hingga berdarah.
Di tengah kesedihan yang mendalam itulah, menurut sebagian pendapat, Allah SWT mengundang Nabi ke langit.
Dalam beberapa kitab lain, ada yang melatarbelakangi kejadian Isra Mikraj hanya karena perdebatan langit dan bumi. Yang di dalam perdebatan itu, langit memohon kepada Allah untuk menaikkan Nabi Muhammad ke langit. Hal ini termaktub dalam beberapa kitab. Salah satuya adalah kitab Nur adz-Dzalam Syarh ‘Aqidat al-‘Awwam karya Imam Nawawi Banten yang menukil langsung dari kitab Dzurrat al-Wa’idzin.
Namun terdapat sebagian ulama yang menyanggah dua alasan di atas (Amul Huzni dan percakapan langit dan bumi). Ulama yang menyanggah berpendapat bahwa Allah memberikan mukjizat Isra Mikraj yang istimewa ini hanya karena:
لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا ؕ
“….. agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)”
Sebagaimana telah termaktub dalam surat al-Isra’ ayat 1 di atas.
Baca juga: Isra’ Mi’raj: Peristiwa Agung Rasulullah SAW
Kesimpulan
Isra Mikraj adalah pesan cinta dari Allah kepada Rasul-Nya dan umat Islam. Dari perjalanan ini pula, umat Islam menerima perintah salat lima waktu sebagai “Mi’raj”-nya orang beriman untuk berkomunikasi langsung dengan Allah.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
