Dalam salah satu mauidzahnya di peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyinggung makna fadlullah (karunia Allah) yang ada dalam Al-Qur’an. Menurut tafsir Abdullah bin Abbas RA, fadlullah adalah ilmu.
Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Perintah Rasulullah untuk Para Pelajar
Berilmu adalah sumber kebahagiaan sejati manusia. KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menjelaskan:
“Dengan ilmu maka manusia akan menjadi mulya. Tidak memandang latar belakangnya apa, orang tuanya siapa, atau ia berasal dari mana. Namun, orang yang memiliki ilmu lalu diamalkan dan diajarkan, ia akan menjadi ulama. Para ulama adalah pewaris para nabi, derajatnya tepat di bawah para nabi.”
Ilmu Membawa Kemuliaan
Kemuliaan karena berilmu ini bersifat universal. Seorang fakir atau anak sederhana bisa menjadi mulia dengan ilmunya, lebih tinggi kedudukannya daripada mereka yang hanya memiliki harta atau keturunan. Karena itu, jalan ilmu adalah jalan yang paling pasti untuk mengangkat martabat manusia.
Nabi Isa AS pernah bersabda:
من علم وعمل وعلم فذلك يدعى في ملكوت السموات عظيماً
“Barang siapa berilmu, lalu beramal dengan ilmunya, dan mengajarkan ilmunya, maka ia akan dipanggil agung di kerajaan langit.”
Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Berdoa saat Menghadapi Cobaan
Hadis ini menunjukkan tiga syarat kemuliaan ilmu: dimiliki, diamalkan, dan diajarkan. Pengetahuan yang hanya disimpan tidak akan bermanfaat, tetapi jika kita amalkan dan kita bagikan akan menumbuhkan cahaya dan kemuliaan di sisi Allah.
Ilmu dan Maulid Nabi
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus kemudian menegaskan, berbahagia dengan ilmu adalah bentuk nyata syukur kepada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad saw. Sebab, Nabi datang membawa cahaya keilmuan, wahyu, dan hikmah yang mengeluarkan manusia dari kegelapan.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syukur atas Kelahiran Nabi
Maka, memperingati Maulid Nabi tidak hanya dalam bentuk seremonial, tetapi juga dengan meneguhkan komitmen belajar, mengamalkannya, dan menyebarkannya.
Penutup
Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus ini menjadi pengingat penting bagi santri dan umat Islam: kemuliaan bukan pada harta, kedudukan, atau nasab, melainkan pada ilmu yang bermanfaat. Barang siapa menempuh jalan untuk selalu menambah pengetahuan dan keilmuan, kemudian mengamalkannya, dan mengajarkannya, ia sedang berjalan di jalan para nabi.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





