HomeAngkringPilih Mana, Ikut Kiai atau Nabi?

Pilih Mana, Ikut Kiai atau Nabi?

0 2 likes 533 views share

Syariat Islam yang lahir sejak 14 abad lalu telah banyak mengalami serangkaian perjalanan sejarah yang panjang. Putaran waktu yang sudah cukup lama telah menjauhkan syariat Islam dari masa pengawalan syariat secara langsung oleh Rasulullah Saw. Beragam bentuk model penggalian hukum, pertentangan ulama, asimilasi budaya, dan lain sebagainya telah mewarnai dan memperkaya khazanah syariat hingga sampai pada umat Islam di generasi saat ini.

Di balik seluruh khazanah syariat Islam tidak akan pernah terlepas dari para ulama yang bermain di dalamnya. Karena bagi para ulama, eksistensi syariat merupakan tanggung jawab utama yang telah diamanahkan oleh Allah Swt lewat kredibilitas keilmuan yang telah mereka emban. Begitu besar peranan ulama salaf dalam mengawal dan membimbing jalannya syariat sejak dulu hingga saat ini. Karena dalam diri mereka telah mengalir darah amanah kenabian (warotsah al-anbiya’). Rasulullah Saw telah bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR. Turmudzi).

Sebagaimana telah diketahui, tiada derajat yang lebih tinggi di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pewaris derajat tersebut.[1] Rasulullah Saw tidak pernah mewariskan harta benda. Namun yang dimaksud dari redaksi hadis tersebut bahwasanya Rasulullah Saw hanya mewariskan ilmu, amal, dan perjuangan dakwah. Dengan demikian, ulama merupakan satu-satunya golongan yang paling absah berbicara soal keagamaan. karena merekalah yang memegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah Saw, baik secara intelektual, maupun moral spiritual. [2]

Sejak zaman Rasulullah Saw, umat Islam telah sepakat untuk menjadikan ulama salaf sebagai acuan dan pedoman dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan syariat Islam secara benar. Hal ini sudah dicontohkan oleh para generasi pendahulu. Para Tabi’in mengikuti jejak para Sahabat Nabi Saw, lalu para pengikut Tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para Tabi’in. Demikian seterusnya, sehingga pada setiap generasi para ulama pasti mengacu dan merujuk pada orang-orang dari generasi sebelumnya.

Rasulullah Saw bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud).

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata, “Rasulullah Saw menggabungkan sunnah (ajaran) para khalifah dengan sunnahnya. Dan beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah sebagaimana pengikuti sunnahnya. Dalam memerintah akan hal tersebut, beliau sangat bersungguh-sungguh bahkan sampai memerintahkan menggigitnya dengan menggunakan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang difatwakan oleh para khalifah meskipun bukan keterangan fatwa langsung dari Rasulullah Saw.” [3]

Menurut olah pemikiran yang logis, betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam dengan cara demikian. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan dua cara, yaitu  naql (mengambil dan mengikuti dari generasi sebelumnya) ataupun istinbath ( menggali hukum dari sumbernya dengan cara berijtihad).

Inilah pengertian yang secara tidak langsung telah ditunjukkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud Ra melalui perkataannya:

مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى

“Barang siapa yang menjadi pengikut (yang baik), maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya”.[4]

Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai pedoman, maka pendapat tersebut haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas ataupun ditulis di dalam kitab-kitab yang masyhur dan mu’tabarah di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bahkan melihat kondisi global saat ini, mengharuskan metode taqlid manhaji (mengikuti dalam hal metodologis) dalam Istinbath al-Ahkam (penggalian hukum dari sumbernya yaitu Alquran dan Hadis) harus tetap mengetahui koridor madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Hal ini ditujukan agar rumusan hukum yang dihasilkan tidak menyalahi hasil konsensus mereka (mukholif lil ijma’).  Sehingga segala bentuk bid’ah, kesesatan, dan perpecahan dapat dihindari. Karena semua itu berawal dari model pemahaman yang menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

Yang perlu digarisbawahi, mengikuti ulama salaf bukan berarti mengedepankan fanatisme golongan dalam beragama. Karena setiap individual para ulama yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah lepas dari kesalahan (ghairu ma’shum). Namun jika para ulama salaf telah sepakat menghasilkan konsensus dalam suatu permasalahan agama, maka hasilnya sudah dapat dipastikan benar. Karena Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam hadisnya, bahwa umat beliau tidak akan pernah sepakat dalam sebuah kesalahan/kesesatan.

Walhasil, mengikuti manhaj (jalan) para ulama salaf merupakan sebuah keharusan demi terjaganya pemahaman dan pengamalan syariat Islam secara benar. Dengan memegang teguh ajaran salaf, dan menjadikan beliau-beliau panutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, maupun akidahnya. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan dimana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Rasullah Saw.

Allah Swt berfirman dalam Alquran:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar,” (QS. At-Taubah: 100). Sekian. waAllahu a’lam.[]

 

_____________________________

[1] Mauidzoh Al-Mukminin, juz 1 hal 8, Darul Kutub Al-Islamiyah.

[2] Syarah Riyadus Sholihin, juz 5 hal 433.

[3] I’lam Al-Muwaqqi’in, juz 2 hal 400, Darul Hadits.

[4] Risalah fii Taakkud Al-akhdi bi Madzahib Al-Arba’ah, Karya Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.