Hukum Menunduk kepada Guru dalam Perspektif Ulama

Dalam tradisi keilmuan Islam, bentuk penghormatan kepada guru sering kali diekspresikan dengan menundukkan badan atau kepala. Dan orang-orang yang hanya memandangnya sebelah mata dengan hanya melihat hanya satu hadis tanpa berdasarkan pendapat ulama yang mumpuni pasti akan menghukuminya dengan hukum haram.

Baca juga: Flexing Sedekah di Media Sosial

Hadis yang menjadi rujukan mereka

Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra.:

حَدَّثَنَا سُوَيْدٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لاَ

“Seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau temannya, bolehkah ia membungkuk untuknya?” Beliau menjawab: ‘Tidak.’ Ia bertanya lagi: ‘Apakah boleh ia memeluk dan menciumnya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak.’”

Baca juga: Kriteria Sakit yang Memperbolehkan Tayamum

Larangan pada hadis tersebut hanya sebatas makruh

Secara garis besar, hadis ini secara lahir menunjukkan larangan untuk membungkuk sebagai bentuk penghormatan. Namun, menurut para ulama fikih, larangan tersebut tidak sampai pada tingkat haram, melainkan hanya sebatas makruh.

Abu Sa‘id al-Khadimi menjelaskan dalam Bariqah Mahmudiyyah sebagai berikut:

قال -عليه الصلاة والسلام- «لا» أي لا ينحني فيكره – إلى أن قال – أقول ولهذا الحديث قال الفقهاء يكره الانحناء فيه إلا أن يخاف من شره،

“Nabi ﷺ bersabda: ‘Janganlah (engkau membungkuk),’ yakni larangan itu menunjukkan bahwa perbuatan tersebut makruh. Aku (pengarang) mengatakan, dan karena hadis inilah para fuqaha berpendapat bahwa makruh hukumnya membungkuk (sebagai bentuk penghormatan), kecuali jika seseorang khawatir akan keburukan orang tersebut.”

[Muhammad bin Muhammad bin Mustafa bin ‘Utsman, Abu Sa‘id al-Khadimi al-Hanafi, Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyyah wa Syari‘ah Nabawiyyah fi Sirah Ahmadiyyah, juz 4 (Kairo: Mathba‘ah al-Halabi, t.t., 1348 H), h. 169.]

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Imam Menambah Rakaat?

Menunduk boleh

Sementara itu, Syaikh Ibnu Muflih menukil pendapat Imam Abu al-Ma‘ali yang menyatakan bahwa menunduk sebagai bentuk penghormatan itu boleh, bukan makruh. Dalam al-Adab asy-Syar‘iyyah, beliau menuliskan:

وقال التحية بانحناء الظهر جائز -إلى أن قال- ولما قدم ابن عمر الشام حياه أهل الذمة كذلك فلم ينههم وقال هذا تعظيم للمسلمين انتهى كلامه

“Dan penghormatan dengan cara membungkukkan punggung itu hukumnya boleh. (Hal ini sebagaimana) ketika Ibnu ‘Umar datang ke Syam, orang-orang non-Muslim (Ahludz-Dzimmah) menyapanya dengan cara demikian (membungkuk), dan beliau tidak melarang mereka. Beliau berkata: ‘Ini merupakan bentuk penghormatan kepada kaum Muslimin.’ Selesai.”

[Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufarrij, Abu ‘Abdillah Syamsuddin al-Maqdisi ar-Ramini ats-Tsalahiy al-Hanbali, al-Adab asy-Syar‘iyyah wa al-Manah al-Mari‘iyyah, juz 2 (Beirut: ‘Alam al-Kutub, t.t.), h. 260.]

Baca juga: Hukum Salat Sunah Saat Khutbah Jumat

Tidak sampai menyerupai rukuk dalam salat

Pendapat yang serupa juga oleh Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam tuangkan dalam al-Fatawa al-Mishriyyah. Beliau menegaskan bahwa menundukkan kepala sebagai tanda hormat itu boleh, selama tidak menyerupai rukuk dalam salat. Ia berkata:

ولا بأس بتنكيس الرؤوس بما ينقص عن حد الركوع لمن يكرم من المسلمين

“Dan tidak mengapa menundukkan kepala (sebagai bentuk penghormatan) selama tidak sampai pada batas rukuk, terhadap seorang Muslim yang dihormati.” [‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam, al-Fatawa al-Mishriyyah (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), h. 11.]

Baca juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!

Penutup

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menunduk kepada guru atau orang yang dihormati diperbolehkan selama tidak menyerupai rukuk dan tidak disertai niat pengagungan yang bersifat ibadah. Hal tersebut termasuk bentuk penghormatan sosial yang diperbolehkan dalam adab Islam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses