Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo

Saya santri lirboyo

Senin, 20 Oktober 2025 Masehi (29 R. Tsani 1447 H), di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menegaskan pentingnya santri sebagai kekuatan bangsa dan penjaga akhlak.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dengan tegas menyampaikan, “Saya yakin tidak ada kekuatan di bumi pertiwi ini kecuali santri-santri. Ojo nyepeleke santri.” Menurut beliau, santri adalah individu luar biasa yang rela berjuang mati-matian untuk membela bangsa dan negeri. Adab dan akhlak yang dimiliki santri pun tumbuh dari pendidikan pondok pesantren yang konsisten.

Baca juga: Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi dalam Acara Lirboyo Bersholawat dalam Rangka Mensyukuri Hari Santri 2025

Beliau juga menekankan kepercayaan terhadap pesantren. “Sedoyo anak lek saget, dititipaken pondok pesantren. Ojo anggep pondok pesantren iki ora manfaat.” Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mencontohkan tokoh nasional yang lahir dari pesantren, seperti Bu Khofifah, Gubernur Jawa Timur, dan Mbah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4, yang menunjukkan bahwa pesantren melahirkan pemimpin berkarakter.

Alasan Mencium Tangan Kiai

Di era digital, beliau mengingatkan santri untuk waspada terhadap pengaruh negatif. Banyak orang yang tidak menyukai anak-anak mereka mondok di pesantren, dan berbagai konten di media sosial kadang menampilkan hal-hal yang tidak sesuai nilai pesantren. Santri harus tetap kokoh dan bijaksana.

Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar

Dalam majelis itu, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf juga berbagi pengalaman spiritual. Beliau menceritakan kisah beliau pada zaman Guru Zaini Abdul Ghoni Martapura, beliau menyaksikan Guru Zaini meminum air dari tempat cuci tangan Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf dari Yaman. “(Red: orang lain beranggapan) jijik, (beliau menjawab) nggo awakmu memang kowe wi jijiki (jika punyamu, karena memang kamu menjijikkan).”

“La bekas tangane wali, yo wajar nek santri nyucup tangane kiai-ne. Lak tanganmu yo wegah aku kon nyucup.”

(la itu bekas tangannya wali, jadi wajar jika santri mencium tangannya kiai-nya. Jika tanganmu ya tidak mau aku menciumnya.) ” ujar beliau.

Baca juga: Sanad Itu Pedang Para Pencari Ilmu

Kemudian beliau menjelaskan alasan di baliknya: “La wong tangan yang luar biasa, tangan yang selalu membuka mushaf, selalu membuka kitab-kitab yang luar biasa, tangan yang tidak pernah maksiat. Yo wajar nek dicucup.”

(la itu tangan yang luar biasa, tangan yang selalu membuka mushaf, selalu membuka kita-kitab yang luar biasa, tangan yang tidak pernah maksiat. Ya wajar jika dicium.)

Menjaga Adab terhadap Kiai

Kemudian beliau menegaskan kepada semua hadirin tentang pentingnya menjaga adab apalagi terhadap seorang kiai: “Aku gemes nek ndelok kiai-kiai karo santri-santri dielek-elek. Ora terimo aku. Opo maneh santri Lirboyo. Saya itu santri Lirboyo, kulo niku secara tidak langsung santri Lirboyo. Santri Mbah Idris, Mbah Anwar, saya berguru kepada beliau-beliau, (juga) kepada Mbah Kafabihi.”

Baca juga: KH. Ma’ruf Zainuddin: Hakikat Mencari Ilmu dan menjaga hati dalam khidmah

Sebagai penutup, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menyampaikan pesan Sayyidina Ali: “Kalau orang mengajarkan satu huruf padaku, saya akan menjadi khodamnya (pembantu).”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo

  1. MasyaAllah… Salah satu kenikmatan yang wajib disyukuri berasa ditengah orang² alim, semoga kita semua diakui menjadi santri para masyayikh Lirboyo, Aamin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses