KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memberikan beberapa nasihat kepada hadirin di acara Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam rangka Mensyukuri Hari Santri 2025. Pada hari Senin 20 Oktober 2025 M./29 R. Tsani 1447 H. Pukul 19.00 WIB.
Acara ini bertempat di Lapangan Barat Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Beliau juga mengingatkan bahwa majelis sholawat adalah majelis yang diridhai Allah. beliau berkata:
“Majelis yang demikian merupakan majelis yang dihadiri malaikat. Rahmat Allah diturunkan, barokah Allah hadir, dan Allah akan mengampuni serta memberikan pahala bagi setiap orang yang hadir. Bahkan, Allah akan mengumpulkan mereka bersama orang-orang soleh di surga.”
Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar
Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ:
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Orang akan dikumpulkan bersama siapa yang dicintainya.”
Mahabbah kepada Orang Solih
KH. Abdulloh menjelaskan bahwa mahabbah (cinta) tersebut harus kita iringi dengan tasyabuh, yaitu menyerupai orang yang kita cintai dalam ucapan, perilaku, dan akhlaknya. Jika kita mencintai soilihin maka kita harus menyerupai orang solihin. Entah dari ucapannya, atau perilakunya.
Baca juga: Sanad Itu Pedang Para Pencari Ilmu
Ketika hadis ini sahabat terima, mereka sangat bahagia, karena dengan mahabbah, derajat seseorang di akhirat bisa Allah Swt muliakan.
“Orang yang hadir dalam majelis demikian hendaknya berdoa dalam hati: ‘Ya Allah, jadikanlah aku min ahli jannah (termasuk ahli surga).” Karena kata beliau orang hadir di majelis seperti ini Allah akan mengijabahi doanya.
Peran Santri terhadap Bangsa Indonesia
Beliau juga menekankan peran santri dan kiai dalam sejarah bangsa. Sejak masa Walisongo, para kiai dan santri berperan besar dalam mengusir penjajah. Tidak ada kiai yang menjadi antek penjajah. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bahkan memimpin santri-santrinya dalam Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengingatkan:
“Bayangkan, senjata modern dilawan dengan doa. Banyak bom yang tidak meledak berkat doa para santri. Hari Santri kita peringati sebagai ungkapan syukur kepada para ulama dan pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan.”
Baca juga: KH. Ma’ruf Zainuddin: Hakikat Mencari Ilmu dan menjaga hati dalam khidmah
Beliau mengutip:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
“Orang yang tidak bersyukur kepada manusia yang berbuat baik, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah Swt.”
Modal Santri
KH. Abdulloh menegaskan bahwa modal utama seorang santri adalah akhlakul karimah, adab, dan juga takwa kepada Allah. Jika akhlakul karimah adalah kekayaan spiritual yang paling berharga bagi seorang santri, maka takwa kepada Allah akan memudahkan urusan hidup dan membuka pintu rezeki:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syukur, Ilmu, dan Kemuliaan Dakwah.
Beliau juga menambahkan, tawakkal kepada Allah adalah prinsip hidup yang menyempurnakan ketakwaan:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
Nasihat KH. Abdulloh Kafabihi tentang Aksi Damai (demo para santri)
“Di Hari Santri ini, kita oleh Allah diuji kesabarannya. Maka saya sarankan: demo silakan, tetapi koordinasi dengan kepolisian. Yang tertib jangan anarkis, supaya membedakan bagaimana santri demo dan bagaimana yang bukan santri demo. Jangan sampai bakar-bakaran, jangan sampai anarkis. Demo kita dengan istighasah, demo kita supaya dicontoh oleh mereka. Tidak melawan polisi, tidak melawan TNI, demo kita adalah demo damai. Kalau demo dilarang bakar-bakaran, dilarang ugal-ugalan.”
Baca juga: Dawuh KH. Abdul Kholiq Ridlwan: Waktu Seperti Pakaian
“Saya berpesan, jika kalian demo maka tawakkal kepada Allah. Mudah-mudahan orang yang sinis kepada Islam dan Indonesia mudah-mudahan dibasmi oleh Allah Swt., karena orang yang demikian biasanya mengadu domba negara yang kita cintai.
“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Orang yang mengadu domba tidak akan masuk surga.
“Kata Imam al-Ghazali: mengadu domba adalah dosa besar. Dan ini masih usaha (untuk mengadu domba), dan dosa yang paling besar darinya adalah orang yang mau diadu.”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





