Manusia memang tak lepas dari salah dan lupa, bahkan seorang imam salat sekalipun. Bayangkan ketika salat Dzuhur, imam tiba-tiba ragu lalu menambah rakaat hingga lebih dari yang seharusnya. Nah, kalau kita jadi makmum, apa langkah yang tepat untuk menyikapinya?
Baca juga: Hukum Salat Sunah Saat Khutbah Jumat
Memilih antara memisahkan diri atau menanti
Dalam kitab Fath al-Mu’in, Syaikh Zain ad-Din al-Malibary menjelaskan bahwa ketika itu terjadi, maka makmum harus memilih antara niat mufaraqah (memisahkan diri dari imam) atau menanti imam di tasyahhud akhir.
لَوْ قَامَ إِمَامُهُ لِزِيَادَةٍ كَخَامِسَةٍ وَلَوْ سَهْوًا لَمْ يَجُزْ لَهُ مُتَابَعَتُهُ وَلَوْ مَسْبُوقًا أَوْ شَاكًّا فِي رَكْعَةٍ بَلْ يُفَارِقُهُ وَيُسَلِّمُ أَوْ يَنْتَظِرُهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ.
“Apabila imam berdiri untuk menambah (rakaat) seperti rakaat kelima, sekalipun karena lupa, maka tidak boleh bagi makmum mengikutinya. Baik makmum itu seorang masbūq (yang tertinggal rakaat) ataupun sedang ragu dalam hitungan rakaat. Akan tetapi, makmum harus memilih antara memisahkan diri lalu salam, atau menunggu imam hingga selesai, menurut pendapat yang paling kuat.” [Zainuddīn Aḥmad bin ‘Abd al-‘Azīz al-Malībārī al-Hindī, Fatḥ al-Mu‘īn bi-Syarḥ Qurrat al-‘Ain bi-Muhimmāt ad-Dīn, (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, cet. I, 189), hal. 189].
Baca juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!
Bagaimana jika tetap mengikuti imam?
Lebih jauh, Syaikh Abu Bakr Syatha dalam Hāsyiyah I‘ānat al-Ṭālibīn menegaskan maksud dari larangan mengikuti imam tersebut:
(قَوْلُهُ: لَمْ يَجُزْ لَهُ مُتَابَعَتُهُ) أَيْ لَمْ يَجُزْ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يُتَابِعَهُ فِي الرَّكْعَةِ الزَّائِدَةِ، فَإِنْ تَابَعَهُ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ لِتَلَاعُبِهِ، وَمَحَلُّهُ إِنْ كَانَ الْمَأْمُومُ عَالِمًا بِالزِّيَادَةِ، فَإِنْ كَانَ جَاهِلًا بِهَا وَتَابَعَهُ فِيهَا لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ، وَحُسِبَتْ لَهُ تِلْكَ الرَّكْعَةُ إِذَا كَانَ مَسْبُوقًا لِعُذْرِهِ، وَإِنْ لَمْ تُحْسَبْ لِلْإِمَامِ.
“(Perkataan beliau: ‘tidak boleh mengikutinya’) maksudnya, tidak boleh bagi makmum mengikuti imam pada rakaat tambahan. Jika makmum tetap mengikutinya, maka batal salatnya karena dianggap bermain-main. Hal ini berlaku jika makmum tahu bahwa imam sedang menambah rakaat. Namun, jika makmum tidak tahu dan tetap mengikutinya, maka salatnya tidak batal. Bahkan rakaat itu dihitung baginya apabila ia seorang masbūq (makmum yang tertinggal beberapa rakaat), karena ada uzur, meskipun rakaat itu tidak dihitung bagi imam.” [Abū Bakr (al-Masyhūr bi al-Bakrī) bin Muḥammad Shaṭṭā al-Dimyāṭī, I‘ānat al-Ṭālibīn ‘alā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Mu‘īn, (Beirut: Dār al-Fikr li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzī‘, cet. I, 1418 H/1997 M), jil. II, hlm. 50.]
Baca juga: Meninggalkan Salat Jumat Tiga Kali, Benarkah Murtad?
Kesimpulan
Dengan demikian, jelas bahwa ketika imam menambah rakaat, makmum memiliki dua pilihan yang benar secara fikih: niat mufaraqah (memisahkan diri lalu salam) atau menunggu imam di tasyahhud akhir. Mengikuti imam dalam rakaat tambahan justru berisiko membatalkan salat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





