Berapa Rakaat yang Seharusnya dalam Shalat Tarawih? Panduan Lengkap

Shalat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang umat Islam laksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan setelah shalat Isya. Ibadah ini memberikan keutamaan besar, terutama dalam memperoleh pahala dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah berapa banyak rakaat yang sebaiknya dikerjakan dalam shalat Tarawih?

Pendapat tentang Jumlah Rakaat Tarawih

Sampai saat ini perdebatan antara jumlah rakaat tarawih yang paling tepat masih belum menemui terangnya. Memang sedari awal para ulama berbeda pendapat perihal berapa sesungguhnya tuntunan syariat perihal rakaat dalam shalat tarawih. Ada yang mengatakan 8 rakaat, ada pula yang lebih memilih 11 dan 13. Namun jumhur al-ulama (mayoritas ulama) memilih 20 rakaat dalam shalat tarawih. Tidak tanggung-tanggung ada beberapa ulama yang lebih memilih rakaat banyak dalam tarawih, tepatnya 36 rakaat adalah pilihan bagi mereka.

                Namun ada pendapat as-Sayyid Muhammad as-Syathiri dalam Syarh Yaqut an-Nafis-nya mengenai paling sedikitnya rakaat shalat tarawih, paling ideal dan paling banyak. Berikut ta’birnya:

وَأَقَلُّ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَانِ، وَأَكْمَلُهَا عِشْرُوْنَ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَةٌ وَثَلَاثُوْنَ وَهُوَ عَمَلُ أَهْلِ المَدِيْنَةِ، وَقَالُوا: إِنَّهُمْ أَرَادُوا مُسَاوَةَ أَهْلِ مَكَّةَ، لِأَنَّهُمْ يَطُوْفُوْنَ سَبْعًا بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيْحَتَيْنِ، فَجَعَلَ أَهْلُ المَدِيْنَةِ مَكَانَ كُلِّ سَبْعٍ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. شرح الياقوت النفيس: 194

 Artinya: “Paling sedikitnya rakaat Tarawih 2 rakaat, sedangkan yang paling sempurna 20 rakaat. Dan Imam Malik berkata: 36 rakaat dan itulah yang dilakukan Ahli Madinah, ulama’ Malikiyyah mengatakan: “Ahli Madinah berkehendak menyamakan ibadahnya dengan Ahli Makkah, sebab Ahli Makkah melakukan thawaf tujuh kali putaran di antara dua tarwihan (dua istirahatan), kemudian Ahli Madinah menjadikan posisi setiap tujuh kali putaran dengan melakukan shalat 4 rakaat”. (Muhammad As-Syathiri, Syarah Al-Yaqut An-Nafis, hal. 194)

Pendapat ini jelas sangat menyegarkan kendati bisa mencangkup perbagai kalangan dan pendapat. Ulama yang mengatakan 8, 11, 13, 20 dan 36 rakaat untuk shalat tarawih semuanya masuk koridor ta’bir di atas.

Memilih 20 Rakaat Shalat Tarawih

Masih berpegangan ta’bir di atas yang berkata bahwa jumlah rakaat yang terbaik adalah 20 rakaat. Sejatinya banyak ulama ternama yang lebih memilih 20 rakaat, seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Bujairimi dan masih banyak lagi. Bukan tanpa alasan, para ulama lebih memilih 20 rakaat memiliki landasan hukum yang kuat pula.

Asy-Syaikh al-Halimi menjelaskan mengapa 20 rakaat menjadi jumlah rakaat yang ideal orang muslim laksanakan dalam bulan Ramadhan? Beliau berpendapat “Rahasia di balik 20 rakaat adalah bahwa shalat rawatib di selain bulan Ramadhan berjumlah 10 rakaat, maka di bulan Ramadhan, shalat sunnah sangat berhak sekali untuk dilipatgandakan, karena Ramadhan adalah waktu bersungguh-sungguh dan berbuat tekun.

Shalat Tarawih 20 Rakaat pada Masa Sahabat Umar

Pada masa khalifah Umar bin al-Khattab, shalat tarawih menggunakan jumlah rakaat 20. Bahkan beliau mengatakan bahwa hal ini merupakan bid’ah yang baik untuk orang muslim lakukan.

Terdapat salah satu riwayat yang mengatakan bahwa zaman Sayyidina Umar betul-betul melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat.

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يزيد قال: كانوا يقومون على عهد عمر في شهر رمضان بعشرين ركعة

Hal senada juga terdapat dalam Riwayat al-Baihaqi:

وروى البيهقي بإسناد صحيح أن الناس كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب في شهر رمضان بعشرين ركعة

Dalam kitab al-Muwattha’, Imam Malik berkata bahwa shalat tarawih jumlah rakaatnya adalah 23. Imam al-Baihaqi meluruskan bahwa yang tiga merupakan shalat witir.

Anjuran untuk Memperbanyak Kebaikan

Salah satu alasan utama untuk melaksanakan 20 rakaat shalat Tarawih adalah anjuran dari Nabi Muhammad SAW untuk memperbanyak kebaikan, terutama dalam ibadah shalat. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الصَّلاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَسْتَكْثِرَ فَلْيَسْتَكْثِرَ”. (المعجم الكبير للطبراني: 19/116)

Artinya: “Shalat itu sebaik-baiknya yang diletakkan (yang disyariatkan), barang siapa mampu memperbanyaknya, maka perbanyaklah” (Al-Mu’jam Al-Kabir Al-Thabarani: 19/116).

Hadits ini mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah shalat jika mereka mampu. Oleh karena itu, dengan melaksanakan 20 rakaat shalat Tarawih, umat Islam dapat memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah mereka, terutama selama bulan Ramadan yang penuh berkah. Memperbanyak shalat merupakan cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih pahala yang melimpah.

Mengikuti Sunnah Khulafaur Rasyidin

Selain anjuran untuk memperbanyak shalat, Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan umatnya untuk mengikuti sunnah para Khulafaur Rasyidin, yaitu para khalifah yang memimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, Nabi bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذ. (رواه أحمد: 4/126، وأبو داود: 4607)

Artinya: “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin yang mendapatkan hidayah setelahku, berpegang teguhlah dengan kuat sunnah tersebut” (HR. Ahmad: 4/126, Abu Dawud: 4607).

Sunnah Khulafaur Rasyidin, terutama yang berkaitan dengan ibadah, memberikan petunjuk bagi umat Islam untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan jalan yang benar. Dalam konteks shalat Tarawih, keputusan Sayyidina Umar bin Khattab yang menetapkan 20 rakaat menjadi bagian dari sunnah yang diterima dan dipraktikkan oleh umat Islam. Dengan mengikuti sunnah ini, umat Islam menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin yang mereka terima sebagai contoh dalam menjalankan agama.

Apalagi sunnah yang berasal dari Sayyidina Umar bin al-Khattab, Nabi pernah betul-betul menyarankan umatnya untuk mengikuti tingkah laku Sayyidina Umar. Dalam hadis Nabi bersabda:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ

Artinya: Ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakr dan Umar.

Kesimpulan

Pelaksanaan shalat Tarawih dengan jumlah 20 rakaat memiliki dasar yang kuat, baik dari segi sejarah maupun anjuran dari Nabi Muhammad SAW. Keputusan Sayyidina Umar bin Khattab untuk mengatur shalat Tarawih 20 rakaat berjamaah di masjid diterima luas oleh umat Islam dan diteruskan hingga hari ini. Anjuran Nabi untuk memperbanyak shalat dan mengikuti sunnah para Khulafaur Rasyidin semakin menguatkan alasan mengapa shalat Tarawih 20 rakaat dianggap sebagai pilihan yang tepat. Oleh karena itu, umat Islam yang mampu sebaiknya melaksanakan shalat Tarawih dengan 20 rakaat, karena selain memperbanyak ibadah, mereka juga mengikuti sunnah yang telah diterima oleh generasi terdahulu.

Ikuti kami:

Pondok Lirboyo

Baca juga:

Amalan dan Doa Sesudah Sholat Tarawih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses