HomeAngkringSungguh Indah Menjadi Kekasih Rasulullah

Sungguh Indah Menjadi Kekasih Rasulullah

0 1 likes 9 views share

Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang jarang membaca shalawat kepada Rasulullah saw. Pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah. Anehnya, sang Nabi tidak mau menoleh kepadanya. Dengan raut heran dia beranikan diri untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”

 “Tidak.”

Lelaki itu masih menyimpan rasa heran. Kemasygulannya belum terjawab.

 “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”

Lelaki itu menaburkan heran dan masygul di tiap kata-katanya. Ia tahan tarikan nafasnya beberapa detik. Menunggu jawab dari sang kekasih.

“Karena aku tidak mengenalmu.”

Jrusss. Perkataan itu menikam tajam. Seketika hati lelaki itu remuk redam. Jawaban Rasulullah membuat tumpukan rasa rindu lebur, menjadi debu-debu penyesalan. Bagai kekasih yang dicampakkan.

“Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu?”

Hatinya tak terima. Ia ingin dicintai kekasihnya. Bukan dibenci semena-mena.

“Bukankah engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”

Sosok mulia yang ia cintai itu bukanlah membencinya. Ia bukanlah seorang pembenci. Kepada musuh-musuhnya sekalipun, ia tak pernah sedikitpun menanam kebencian. Ia tak punya cukup alasan untuk membenci makhluk-makhluk tuhan, apalagi pada umatnya yang terkemudian.

“Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat diriku.”

Tak pernah mengingat dirimu? Wahai Rasul, bukankah shalatku, puasaku, zakatku, adalah tanda bahwa aku mencintaimu?. Hati lelaki itu dipenuhi keheranan yang memuncak.

“Aku mengenal umatku yang mengingat diriku dalam hari-hari mereka.”

“Kau tahu bagaimana cara mengingatku? Aku diingat oleh umat dengan bacaan shalawat mereka kepadaku. Semakin sering mereka bershalawat padaku, semakin lekat nama mereka hinggap dalam ingatanku.”

Sedetik kemudian, bangunlah laki-laki itu dari mimpi pertemuan itu. Sontak ia bertekad, akan mengingat Rasulullah sepanjang hayat. Sejak hari itu, ia mewajibkan bagi dirinya sendiri untuk bershalawat kepada Rasulullah seratus kali setiap hari.

Waktu terus berlalu dengan janji yang terus ia pelihara, terus ia laksanakan demi rasa cinta. Hingga pada suatu mimpi, ia bertemu Rasulullah saw kembali.

Wahai Rasul, kini aku datang padamu dengan segunung shalawat. Rasa cintaku sudah kuungkap dengan cara yang kau inginkan waktu itu. Akankah kini kau mengenalku? Atau harus ribuan hari lagi kulalui dengan sesaknya tanaman-tanaman rindu?

Sang kekasih itu tersenyum. Melihatnya dengan wajah ranum, seranum delima kala matang merona.

“Sekarang aku mengenalmu.”

Oh, bahagia tiada terkira. Penantian panjang itu berbuah suka. Derita kerinduan meronta-ronta itu musnah, terhapus kata-kata indah nan mesra, aku dikenalnya.

 “Dan akan memberi syafa’at kepadamu.”

Maka nikmat mana yang setingkat dengan perkenan Nabi untuk mengenal umatnya? Dengan janji syafaatnya kelak, di hari penuh penantian dan sengsara? Maka mari perbanyak membaca shalawat di tiap hari-hari kita. Semoga kita dikenal oleh Rasulullah saw. sebagai umat tercintanya.

 

*Disarikan dari beberapa kisah yang ditulis Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.