Tag Archives: cinta

Khutbah Jumat: Mencintai Tanah Air, Melaksanakan Ajaran Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ.

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Ketika seseorang mencintai sesuatu, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk sesuatu itu.
Ketika Anda mencintai suatu hal, pasti anda akan melakukan yang terbaik untuk hal itu.
Demikian pula dengan cinta tanah air.
Ketika Kita meningkatkan rasa cinta Kita terhadap tanah air, maka kita akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kontribusi terhadap kemajuan Negara Kita.

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Cinta tanah air merupakan bagian dari teladan Rosululloh S.A.W.
Alloh S.W.T. berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ…(85

Artinya: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Mekah). …” (Q.S. Al-Qashash; 85)

Ayat ini turun ketika Rosululloh S.A.W. termenung saat meninggalkan kota Mekah dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Seakan beliau berat meninggalkan kota Mekah yang merupakan tanah air sekaligus tempat kelahiran beliau.
Ayat tersebut merupakan janji Alloh untuk mengembalikan Rasululloh ke Mekah. Janji tersebut terlaksana dengan adanya peristiwa penaklukan kota Mekah.

Dalam tafsir Ruhul Bayan, Imam Isma’il Haqqi, Al-Hanafi Al-Khalwati saat menafsirkan ayat tersebut beliau menerangkan:

وَفِي تَفسِيرِ الآيَةِ إِلَى أَنَّ حُبَّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ. وَكَانَ عَلَيهِ السَّلَامُ يَقُولُ كَثِيرًا: “اَلوَطَنَ اَلوَطَنَ”, فَحَقَّقَ اللهُ سُؤْلَهُ

Artinya: “Dalam tafsir ayat di atas, ada isyarah bahwa sesungguhnya cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Rasululloh Saw. sering berkata:Tanah air, tanah air’. Lalu Allah pun mengabulkan permohonan beliau.”

Jama’ah Jumat rohimakumulloh…
Seandainya dalam hati penduduk suatu negara tidak tertanam rasa cinta terhadap tanah air, maka negara akan mudah terpecah belah. Jika negara terpecah belah, maka negara akan direbut dan dikuasai oleh negara lain.

Dalam tafsir ayat tadi, Imam Isma’il menyertakan nasehat sayidina ‘Umar bin Khattab Ra.:

لَولَا حُبُّ الوَطَنِ لَخُرِّبَ بَلَدُ السُّوءِ, فَبِحُبِّ الأَوطَانِ عُمِرَةِ البُلْدَانُ.

Seandainya tidak ada kecintaan terhadap tanah air, maka negara gagal akan dirusak. Maka, dengan cinta tanah air, negara-negara dapat dimakmurkan.”

Rasa cinta terhadap tanah air tidak berarti menjadikan Negara muslim tersekat-sekat. Justru dengan cinta tanah air Rasululloh bisa membuat umat muslim bersatu saling membantu untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih maju.

Ajaran cinta tanah air ini juga diperkuat oleh Sabda Nabi:

وَاللهِ إِنَّكِ لَأَحُبُّ أَرْضِ اللهِ تَعَالَى إِلَى اللهِ وَأَحَبُّ أَرضِ اللهِ تَعَالَى إِلَيَّ, وَلَولَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.  (رَوَاهُ أحْمَدُ)

Artinya: “Demi Allah sesungguhnya engkau (Makah) adalah bumi Allah yang paling dicintai Allah dan aku. Andai pendudukmu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar (hijrah).” (H.R. Ahmad).

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Dalam bulan bersejarah ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan keimanan kita melalui rasa cinta terhadap tanah air.

Dengan mencinta tanah air, kita melaksanakan ajaran Nabi.

Dengan mencintai tanah air, kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita.

Dengan mencintai tanah air, kita memajukan dan mensejahterakan Negara Kita dan Negara-negara saudara kita sesama Muslim.

بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بفهمه إنه هو البر الرحيم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Hari Kasih Sayang, Lima Belas Abad Lalu

Sungguh paradoks. Hari itu seharusnya menjadi hari duka bagi penduduk Makkah. Mereka bakal kehilangan pemuda terbaiknya. Tapi Allah berkehendak lain. Ia jadikan hari itu menjadi hari tak terlupakan oleh mereka: Hari paling bahagia.

Bertahun-tahun seusai menikah, Abdul Muthalib tak kunjung dikaruniai putra. Bangsa Arab di masa-masa sebelumnya mewariskan tradisi nazar untuk hal-hal yang sangat diharapkan. Karenanya Abdul Muthalib merasa perlu melakukannya: Jikalau ia dikarunai putra, sepuluh jumlahnya, akan ia kurbankan putra terakhirnya.

Tahun demi tahun berlalu. Mula-mula ia bergembira. Ia benar-benar dikarunia putra. Satu putra lahir, kegembiraan luar biasa terukir. Satu lagi lahir menyusul kakaknya. Bertambah lagi kebahagiaannya. Hingga kemudian lahirlah Abdullah. Kebahagiaan itu lambat laun berubah kengerian: Abdullah adalah putra yang kesepuluh.

Abdullah tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa tampannya. Budi pekertinya santun, selayaknya putra pemegang kunci Ka’bah. Di masa itu, tak ada perawan yang tak memajang potret tampan Abdullah di hatinya. Bukan hanya klan Quraisy, tapi seluruh perawan Makkah. Abdullah menjelma cita-cita perawan di mana-mana: menjadi pilihan Abdullah sebagai pelabuhan terakhirnya.

Tetapi hari itu tetap tiba. Hari di mana Abdul Muthalib berkehendak menunaikan janjinya: menyembelih salah satu putranya. Berbagai rayuan dihaturkan pada Abdul Muthalib untuk mengurungkan niatnya. Dari keluarga hingga tetangga. Semua berakhir percuma.

Tetapi sungguh. Masyarakat Makkah tak rela pemuda setampan dan sesantun itu meninggalkan dunia ini dengan sia-sia. Abdul Muthalib sebenarnya tak kuasa membunuh Abdullah. Dia putra tercintanya. Tetapi ia bukan orang yang gampang mengingkari janji. Walaupun sebuah janji untuk membunuh anak sendiri. Ia begitu kukuh pada pendiriannya. Sebab sifatnya itulah ia pantas menjadi pemuka masyarakat Makkah.

Tetapi kaum Quraisy yang enggan kehilangan pangeran terbaiknya itu menawarkan hal yang tak bisa ditolak Abdul Muthalib.

“Wahai Abdul Muthalib. Apa yang kau perbuat ini justru akan memperburuk watak kaummu. Mereka akan menganggap pembunuhan ini sebagai perbuatan yang wajar, ‘Toh, pemimpin kita juga melakukannya’. Dan apa yang akan terjadi tahun-tahun kemudian? Mereka akan terbiasa memenggal anak kandungnya. Kau ingin kaum kita mewariskan tradisi seperti ini?”

Dan pada akhirnya hati Abdul Muthalib perlahan luluh. Apalagi kaum Quraisy juga menawarkan win-win solution. Sebagai pengganti kepala Abdullah, Abdul Muthalib dipersilahkan untuk menyembelih seratus unta. Ia terima itu.

Kabar batalnya pengurbanan Abdullah itu tersiar cepat. Maka bergembiralah seantero Makkah. Tak terkecuali seseorang di sudut rumah sana. Perempuan muda yang tak kalah tenarnya dengan Abdullah. Dialah Aminah.

Rumahnya sangat dekat dengan bukit tempat Abdul Muthalib melaksanakan kafaratnya. Ketika Aminah di dalam kamar dan berusaha meredam suka hatinya, di detik yang sama Abdul Muthalib memandang ke arah rumahnya.

“Ibu, untuk apa pemuka Bani Hasyim itu datang ke sini?” Pikirannya bertanya-tanya ketika Abdul Muthalib dipersilahkan ayahnya masuk ke dalam rumah. Tentu saja bersama Abdullah.

Beberapa saat kemudian sang ayah menyusul ke kamar. “Ia datang untuk melamar engkau, Aminah. Sebagai istri bagi anaknya, Abdullah.”

Wahab bin Abdi Manaf, sang ayah, segera kembali ke ruang tamu. Menjamu sang tamu agung. Ia meninggalkan Aminah yang hatinya sedang meluap-luap bahagia. Begitu bahagianya ia. Dadanya yang tak kuat menahan letupan-letupan itu ia tangkupkan ke dada ibunya. Sulit baginya percaya bahwa pemuda idaman Makkah itu memilih dirinya.

Kabar rencana pernikahan ini menyebar ke seantero Makkah. Turut bahagialah mereka. Bagi masyarakat Makkah, pernikahan ini adalah pernikahan yang sempurna: Abdullah diidam-idamkan pemudi Makkah, dan Aminah adalah puncak harapan pemuda-pemudanya.

Jika Abdullah adalah lambang ketampanan Makkah, Aminah adalah lambang kecantikannya. Jika Abdullah mewakili ketangguhan, Aminah adalah tauladan keanggunan. Jika Abdullah simbol budi pekerti, Aminah adalah pemudi dengan kesucian hati.

Maka wajar jika pesta pernikahan itu diselenggarakan Makkah sangat lama: tiga hari beserta malamnya.

Seusai pesta itu, Aminah diboyong ke rumah suaminya. Rumah yang sederhana. Bagi Aminah, dan bagi siapapun yang hidup bersama kekasih hatinya, sesederhana apapun rumah tangga jauh lebih indah daripada istana manapun di dunia.

Innaha Fathimah al-Zahra. Dr. Muhammad Abduh Yamani. Muassasah Ulum al-Quran, Beirut.

Penulis : M. Hisyam Syafiqurrahman santri Lirboyo

Asal Sidoarjo

Khotbah Jumat: Meningkatkan Cinta Kepada Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Tidak henti-hentinya, marilah kita senantiasa sekuat mungkin selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan menjalankan perintahnya serta menjauhi tiap-tiap larangannya karena hal itulah yang akan membawa kita pada kebahagian dihari penghisaban amal kelak. Tidak lupa, kita bersyukur karena telah berjumpa kembali dengan bulan bulan Rabiul Awal.

Dibulan inilah langit malam pernah terang benderang oleh lahirnya bayi bercahaya yang kelak merubah kehidupan Jahiliah bangsa Arab menjadi peradaban yang penuh nilai-nilai keluhuran nan Islami. Bulan ini adalah bulan dilahirkannya manusia termulia yaitu baginda nabi agung Muhammad saw.

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Dibulan kelahiran Nabi ini, hendaknya kita mengukur-ukur dan melihat-lihat kembali adakah dihati ini rasa cinta kepada baginda nabi atau seberapa meresap cinta kita kepada baginda nabi? Karena di akhirat nanti, kita sekalian akan dikumpulkan dengan orang yang kita cintai. Baginda Nabi bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai” (HR. Bukhari)

Demikian sabda nabi ini dimkasudkan kelak di akhirat nanti kita akan dikumpulkan beserta orang yang kita cintai

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Bagaimana cara kita meningkatkan rasa cinta kepada Nabi? Diantaranya adalah dengan mengetahui dan terus menggali kehidupan nabi. Bagaimana nabi bergaul, bagaimana nabi tidur, bagaimana nabi menghormati orang lain, bagaimana nabi menyayangi binatang dan sebagainya. Karena dari tahu itulah diantara sebab yang akan menumbuhkan rasa cinta.

Sambil terus menggali, rasa cinta juga akan timbul dengan sedikit demi sedikit kita meneladani apa yang diamalkan dan disabdakan nabi. Dari sini cinta kita kepada nabi akan mulai meresap dalam sanubari kita. Juga sebagaimana difirmankan Allah swt :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah adalah teladan yang baik bagi kalian semua” (QS. al-Ahzab: 21)

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

semoga Allah swt melimpahkan kita cinta yang istiqomah kepada baginda nabi dan senantiasa bisa meneladani akhlak-akhlak beliau

ِبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Sungguh Indah Menjadi Kekasih Rasulullah

Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang jarang membaca shalawat kepada Rasulullah saw. Pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah. Anehnya, sang Nabi tidak mau menoleh kepadanya. Dengan raut heran dia beranikan diri untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”

 “Tidak.”

Lelaki itu masih menyimpan rasa heran. Kemasygulannya belum terjawab.

 “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”

Lelaki itu menaburkan heran dan masygul di tiap kata-katanya. Ia tahan tarikan nafasnya beberapa detik. Menunggu jawab dari sang kekasih.

“Karena aku tidak mengenalmu.”

Jrusss. Perkataan itu menikam tajam. Seketika hati lelaki itu remuk redam. Jawaban Rasulullah membuat tumpukan rasa rindu lebur, menjadi debu-debu penyesalan. Bagai kekasih yang dicampakkan.

“Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu?”

Hatinya tak terima. Ia ingin dicintai kekasihnya. Bukan dibenci semena-mena.

“Bukankah engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”

Sosok mulia yang ia cintai itu bukanlah membencinya. Ia bukanlah seorang pembenci. Kepada musuh-musuhnya sekalipun, ia tak pernah sedikitpun menanam kebencian. Ia tak punya cukup alasan untuk membenci makhluk-makhluk tuhan, apalagi pada umatnya yang terkemudian.

“Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat diriku.”

Tak pernah mengingat dirimu? Wahai Rasul, bukankah shalatku, puasaku, zakatku, adalah tanda bahwa aku mencintaimu?. Hati lelaki itu dipenuhi keheranan yang memuncak.

“Aku mengenal umatku yang mengingat diriku dalam hari-hari mereka.”

“Kau tahu bagaimana cara mengingatku? Aku diingat oleh umat dengan bacaan shalawat mereka kepadaku. Semakin sering mereka bershalawat padaku, semakin lekat nama mereka hinggap dalam ingatanku.”

Sedetik kemudian, bangunlah laki-laki itu dari mimpi pertemuan itu. Sontak ia bertekad, akan mengingat Rasulullah sepanjang hayat. Sejak hari itu, ia mewajibkan bagi dirinya sendiri untuk bershalawat kepada Rasulullah seratus kali setiap hari.

Waktu terus berlalu dengan janji yang terus ia pelihara, terus ia laksanakan demi rasa cinta. Hingga pada suatu mimpi, ia bertemu Rasulullah saw kembali.

Wahai Rasul, kini aku datang padamu dengan segunung shalawat. Rasa cintaku sudah kuungkap dengan cara yang kau inginkan waktu itu. Akankah kini kau mengenalku? Atau harus ribuan hari lagi kulalui dengan sesaknya tanaman-tanaman rindu?

Sang kekasih itu tersenyum. Melihatnya dengan wajah ranum, seranum delima kala matang merona.

“Sekarang aku mengenalmu.”

Oh, bahagia tiada terkira. Penantian panjang itu berbuah suka. Derita kerinduan meronta-ronta itu musnah, terhapus kata-kata indah nan mesra, aku dikenalnya.

 “Dan akan memberi syafa’at kepadamu.”

Maka nikmat mana yang setingkat dengan perkenan Nabi untuk mengenal umatnya? Dengan janji syafaatnya kelak, di hari penuh penantian dan sengsara? Maka mari perbanyak membaca shalawat di tiap hari-hari kita. Semoga kita dikenal oleh Rasulullah saw. sebagai umat tercintanya.

 

*Disarikan dari beberapa kisah yang ditulis Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Sedalam Cinta, Sesering Menyebut Namanya

Ubayy bin Ka’ab Al-Anshary ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang gigih berjuang bersama Rasulullah saw. Ia bukan termasuk sahabat yang pertama kali masuk islam. Ia baru berikrar ketika Baiat Aqabah kedua. Namun, ia memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah saw. Bahkan, Rasulullah saw. memberinya nama kunyah (julukan), layaknya yang juga dilakukannya kepada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya. Ia sering dipanggil dengan nama Abu al-Mundzir.

Suatu hari, ia ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, aku senantiasa membaca shalawat untukmu. Sebaiknya, berapa banyak lagi aku membaca shalawat untukmu?”

“Sesukamu, Ka’ab.” Rasulullah saw. menyambut ungkapan cinta Ubay bak lembayung senja.

Ubay bertanya lagi, “Bagaimana kalau seperempat waktu dari setiap hariku?”

“Sesukamu. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika sepertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika setengah?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.” Untuk keempat kalinya, Nabi memberi jawaban yang sama.

Ubay adalah sahabat yang sangat mencintai Rasulullah saw. Ia tak puas dengan hanya mengingat dan menyebut nama Rasulullah dalam waktu-waktu tertentu saja. Ia menantang dirinya sendiri untuk bertanya lagi, “Bagaimana jika kutambah dua pertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

Mendapat jawaban yang sama dalam beberapa pertanyaannya, membuat rasa cinta Ubay semakin membuncah. Maka kemudian ia bertekad untuk menghabiskan waktu-waktunya untuk menggumamkan rasa cinta kepada kekasihnya itu, “Ya Rasulullah, akan kugunakan seluruh hariku untuk bershalawat kepadamu.”

Mendengar pernyataan Ubay yang begitu yakin dan sungguh-sungguh, Rasulullah tak segan-segan memujinya. “Kalau begitu, wahai Ka’ab,” ungkap Rasulullah. “Keinginanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni Allah.”

Ubay bin Ka’ab seorang sahabat yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. Ia dalam berbagai waktu dan ruang sering mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Oleh beliau, ia dipuji sebagai sahabat yang paling bagus dalam membaca Alquran.

Seorang yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. saja, dengan sungguh menghabiskan seluruh waktunya untuk menyebut nama kekasihnya. Seseorang yang jelas-jelas mendapat tempat di hati Rasulullah saw. saja, tak rela waktunya hilang tanpa menyirami rasa cinta yang kian waktu kian tumbuh.

Apalagi kita, yang hidup ribuan abad sepeninggal Rasulullah saw. Yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. Yang sangat membutuhkan pertolongan dan belas kasih Rasulullah saw. Apa yang bisa kita lakukan, selain terus memujanya, menyebut-nyebut namanya dalam tiap hirupan nafas, setiap saat, dalam luruhnya doa dan permohonan syafaat?

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.