Syahdu Berdendang dengan Rima Burdah

Antum tentu tahu Kasidah Burdah. Kasidah karya monumental Imam al-Bushiri ini berisi 160 bait syair. Setiap ujung baitnya (adhdhurub) diakhiri huruf mim dengan bunyi serupa. Sebuah pilihan salah satu unsur badhi’ lafdziy (seni penggubahan syair) yang dinilai sangat istimewa, yang kemudian membuat Kasidah Burdah juga dikenal dengan Qosidah Mimiyah.

Dalam sastra Arab, persamaan bunyi semacam ini disebut sajak atau jinas dalam kasus yang tidak persis sama. Sajak adalah persamaan bunyi setiap akhir kelompok kata (fashilah) dalam kalam natsar (prosa) atau masing-masing ujung setiap syathar bait (arud dan dhurub) dalam syi’ir (puisi). Contoh sajak ini bisa ditemukan dalam doa qunut:

اللهم اهدني فيمن هديت * وعافني فيمن عافيت *وتولني فيمن توليت

Sementara dalam Bahasa Indonesia, persamaan bunyi disebut rima atau persajakan. Setidaknya ada delapan macam jenis rima, diantaranya rima sempurna dan rima tak sempurna atau rima awal dan rima akhir dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan persamaan bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Maka, rima bisa kita sebut semakna dengan sajak dalam sastra Arab.

Dalam dunia sastra, rima atau sajak memiliki fungsi estetis tersendiri yang tidak tergantikan dengan cara lain. Penggunaan rima atau pembentukan sajak dapat memunculkan keindahan dan kekuatan ekspresif dari gagasan yang hendak disampaikan, baik gagasan keras menggelegak penuh prinsip maupun gagasan sembilu berderai air mata. Kita ambil contoh kutipan Kasidah Imam Muhammad al-Bushiri berikut:

أيحسب الصب أن الحب منكتم * ما بين منسجم منه ومضطرم

Apakah orang yang kasmaran menduga bahwa cinta dapat disembunyikan dalam deraian air mata dan keagungan jiwa?

لولا الهوى لم ترق دمعا على ظلل * ولا أرقت الذكر والعلم

Kalaulah bukan karena cinta, tidaklah mungkin engkau teteskan air mata di atas puing-puing, dan tidak pula terjaga sepanjang malam karena mengingat pepohonan dan pegunungan di tempat kekasih

فكيف تنكر حبا بعد ما شاهدت * به عليك عدول الدمع والسقم

Bagaimana engkau pungkiri rasa cinta, setelah deraian air mata dan derita sakit menjadi sebuah saksi terhadapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.