Tag Archives: Indonesia

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial
Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

“Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari Agama dan keduanya saling menguatkan.”
KH. Hasyim Asy’ari

Hari ini, Indonesia tiba di sebuah persimpangan jalan. Hal itu terjadi seiring dengan meruncingnya berbagai problematika kebangsaan di negara kita ini. Sejak dari pasca berdirinya NKRI, bahkan terus berlanjut hingga kini seakan tak kunjung usai mempersoalkan beberapa rumusan kebangsaan. Term nasionalisme salah satunya, sering dibenturkan dengan agama sehingga terjadi tarik ulur antara kebangsaan dan keagamaan. Dua pilar yang seharusnya saling menguatkan itu di perselisihkan seolah bertentangan. Akibatnya, terus menerus memunculkan banyak keresahan. Mulai dari merebaknya aksi terorisme, sikap intoleran terhadap non-muslim, diskriminasi terhadap etnis minoritas dan segudang problematika lainnya. Meski paham nasionalisme sudah terpatri dalam benak setiap santri. Namun, saat ini kita perlu untuk meneguhkan kembali spirit nasionalisme yang kian memudar di generasi milenial.

Akar historis nasionalisme di Indonesia

Paham nation state modern yang lahir melalui perjanjian Westphalia pada tahun 1648 merupakan fondasi sistem politik modern pasca terjadinya perang agama yang berlarut-larut dengan korban mengerikan yang terjadi dalam sejarah Eropa. Pada intinya, paham nation state atau nasionalisme yang sekarang berkembang dan diterapkan di dunia pada umumnya merupakan cerminan dari filsafat individualisme, liberalisme yang bersifat kapitalistik yang netral terhadap agama.

Ini sangat kontras perbedaannya dengan nasionalisme yang berkembang di Indonesia, karena memiliki akar kesejarahan sendiri dan memiliki latar belakang keagamaan tersendiri pula. KH. Wahab Chasbullah adalah ulama Indonesia yang pertama kali memaknai nation state atau nasionalisme berdasarkan nilai Islam dan budaya Indonesia, sehingga  pada akhirnya memudahkan penerimaan konsep pancasila sebagaimana yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Indonesia resmi sebagai sebuah bangsa, lahir sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sebuah ikrar persatuan luhur pemuda-pemudi Indonesia yang bertekad untuk satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan eskalasi tekad bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga kemerdekaan berhasil diperoleh 17 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ikatan kebangsaan yang diikrarkan bangsa Indonesia, tidak semata-mata dibangun atas dasar kesamaan perangai, melainkan lebih pada kesadaran geo-politik, cita-cita, dan nilai-nilai luhur yang hidup mengakar dalam kepribadian bangsa Indonesia. Prinsip seperti inilah, yang selanjutnya melahirkan wajah bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah bangsa majemuk yang terdiri dari pluralitas suku, bahasa, agama, adat-istiadat, namun memiliki kehendak, cita-cita, dan komitmen untuk hidup mencapai tujuan bersama dalam satu bangsa, Indonesia merdeka. Negara bangsa yang berlaku di Indonesia selain mengandung nilai-nilai Islam juga mengacu pada nilai-nilai sejarah Nusantara, sehingga agama dengan negara hanya bisa dibedakan, tetapi sama sekali tidak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Di situ terdapat hubungan simbiosis mutualistis antara agama dan negara. Konsekuensinya negara tidak bisa mengabaikan budaya Nusantara yang beraneka ragam, karena pada hakikatnya negara adalah rumah bagi para penghuninya yang tidak membedakan agama, suku, dan asal-usulnya.

Nasionalisme dalam perspektif Islam

 Nasionalisme memiliki akar kata “nasional” atau “nation” yang berarti “kebangsaan”. Ernest Renan mengartikan bangsa sebagai satu kelompok masyarakat yang memiliki kemauan atau kehendak untuk bersatu. Sementara Otto Bauer mendefinisikan bangsa sebagai rasa persatuan yang lahir karena persamaan nasib. Definisi nasionalisme inilah yang dikutip oleh Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul Negara Paripurna. Banyak kelompok yang tidak setuju dengan ide nasionalisme. Mereka menentang, bahkan menyebutnya sebagai anak kandung sistem demokrasi barat yang cenderung anti agama (sekuler) dan tidak diajarkan dalam Islam. Sementara itu, kelompok lain menilai, kendati dalam Islam ide nasionalisme tidak memiliki ketentuan secara dalil normatif, tidak lantas membuat ide nasionalisme diklaim sebagai ideologi yang keliru dan keluar dari ajaran agama. Meski nasionalisme bangsa barat cenderung mengandung nilai-nilai yang negatif bila diaktualisasikan di negara kita, tetapi yang menjadi prinsip dasar di dalamnya adalah membangun dan merekatkan persatuan-kesatuan (nation-unity) yang selaras dengan prinsip dasar pancasila.

Oleh sebab itu, sistem yang berangkat dan berasal dari peradaban bangsa barat, tidak boleh buru-buru dipandang dan direspon secara negatif. Akan tetapi, harus disikapi secara jernih dengan pandangan positif. Sebagaimana adagium yang sering disampaikan oleh Rais ‘Am PBNU Almaghfurlah KH. A. Sahal Mahfudz:

خُذْ مَا صَفَى وَاتْرُكْ مَا كَدَرَ

“Ambillah perkara yang jernih, dan tinggalkanlah yang keruh.”

Pakar fikih terkemuka asal Suriah, Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam disertasi doktoralnya Atsar al-Harbi Fi al-Islam mengonfirmasi:

وَهَذِهِ الْأُصُوْلُ الضَرُوْرِيَّةُ لِلْمُوَاطَنَةُ تَبْتَعِدُ عَنْ وُجُوْدِ تَصَادُمٍ أَوْ تَعَارُضٍ بَيْنَ الْمَفْهُوْمِ الْغَرْبِيِّ لِلْمَوْطِنِ وَالْمَفْهُوْمِ الْإِسْلاَمِيْ لَهُ.

“Ide dasar nasionalisme yang dipahami paham barat dan Islam tidaklah bertentangan.”

Dalam bahasa Arab sendiri, nasionalisme dikenal dengan istilah “muwatanah” kata ini berasal dari akar kata “watan” yang berarti tanah air. Sementara, istilah tanah air menurut al-Jurjani dalam at-Ta’rifat-nya diartikan sebagai “al-Watan al-Asali” yang berarti tempat seseorang lahir dan tinggal. Menurut pandangan syari’at, rasa cinta tanah air dan nasionalisme telah dituntaskan oleh Rasulullah Saw.:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ المَدِيْنَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِهَا. (رواه البخاري)

“Ketika Rasulullah Saw. pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya, dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.” (HR. Al-Bukhori)

Dalam hadis itu, terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani. Cinta tanah air merupakan prinsip dasar nasionalisme yang paling fundamental. Sebab, mustahil seseorang akan menjaga dan merawat negaranya tanpa didasari kecintaan terhadap tanah airnya. Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri manusia. Tidak mengenal agama, suku, dan golongan.

Maka, bila ada pertanyaan mengapa masih banyak kerusuhan, kasus radikalisme, terorisme dan intoleran yang terkesan anti cinta tanah air? Jawabannya, tidak lain adalah karena dua faktor: Pertama, kurangnya pengetahuan tentang anjuran cinta tanah air. Kedua, karena pemahaman cinta tanah airnya yang keliru. Ungkapan demikian senada dengan asumsi yang diutarakan Syaikh Dr. Ali Jum’ah Muhammad, ulama senior al-Azhar asy-Syarif dan mantan Mufti Besar Mesir:

حُبُّ الْأَوْطَانْ فِيْ الْحَقِيْقَةِ هِيَ الْقَضِيَّةُ الْمُؤْلِمَةُ لِلْإِرْهَابِ، لِأَنَّ الْإِرْهَابَ لاَ يُحِبُّ الْأَوْطَانَ وَيُحِبُّ أَنْ يُحَرِّبَ الأَوْطَانَ.

“Cinta tanah air adalah perihal yang sangat menyakitkan bagi para teroris, karena mereka sangat membenci tanah air, dan gemar memeranginya.“

Walhasil, nasionalisme tidak perlu dipertentangkan dengan Islam, karena nasionalisme bukanlah sebuah istilah baru yang belum pernah disinggung sama sekali dalam Islam,  bahkan sebenarnya justru dapat menjadi media pengejawentahan ajaran-ajaran Islam. Sehingga, semangat cinta tanah air itu secara tidak langsung dapat menjadi bagian dari keyakinan setiap Muslim.

Implementasi Cinta Tanah Air di Era Milenial

Syaikh Muhammad Ibn Alan Ash-Shidiqi dalam karya-nya Dalil al-Falihin Li Thuruq Riyadh as-Shalihin menerangkan:

قَالَ بَعْضُهُمْ : هَذَا هُوَ الْمُرَادُ مِنْ حَدِيْثِ «حُبُّ الْوَطَنُ مِنَ الْإِيْمَانِ» أَيْ : فَيَنْبَغِيْ لِكَامِلِ الْإِيْمَانْ أَنْ يُعَمَّرَ وَطَنُهُ بِالْعَمَلِ الصَالِحِ وَالْإِحْسَانِ.

“Sebagian ulama mengatakan: ‘Ini yang dimaksud dengan hadis cinta tanah air adalah sebagian dari iman’ maksudnya, seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya untuk memakmurkan tanah airnya dengan amal shalih dan kebajikan.”

 Menurutnya, untuk mengaplikasikan wujud cinta tanah air adalah dengan cara meramaikan atau mengisi negeri ini dengan amal shalih dan kebaikan. Kemudian seiring berkembang pesatnya teknologi informasi, hadir dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang cenderung konservatif, radikal, gemar mengkafirkan, dan mengusung agenda penegakan khilafah, menjadi bahaya laten yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Inilah, yang menjadi tanggungjawab dan tantangan generasi bangsa saat ini yaitu menjaga segala ancaman yang merongrong keutuhan NKRI.

Selain itu, komunitas santri juga harus menjadi penggerak (muharrik) dalam pengembangan pengetahuan dan terlibat aktif dalam perdamaian dunia. Sudah tidak zaman lagi, para santri asyik dengan komunitasnya sendiri. Santri-santri milenial harus terlibat aktif dalam pelbagai perkembangan lintas dimensi. Kreatifitas santri milenial tidak hanya dibatasi oleh bilik-bilik pesantren, mereka seharusnya tidak hanya percaya diri dengan kemampuan personal dalam pelbagai pengetahuan, science dan antar bahasa. Namun, santri milenial juga memiliki keunggulan dalam basis moral. Nilai-nilai moralitas inilah yang menjadi daya penunjang bagi santri milenial, di samping kemampuan analisa teks-teks keislaman klasik yang dipelajarinya selama di pesantren.

Kini, saatnya santri-santri milenial berperan sebagai muharrik untuk menebarkan nilai tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan I’tidal (adil) dalam realitas kehidupan, baik di dunia nyata maupun media sosial sebagai bentuk pengabdian nilai-nilai pesantren yang terkoneksi dengan semangat kebangsaan. Guna mengupayakan Indonesia menjadi Baldatun Thayibbatun Wa Robbun Ghofur. Semoga! [AZ]

Baca juga: Cakrawala Santri Indonesia
Simak juga: LAUNCHING VIRTUAL BUKU FIKIH KEBANGSAAN 3

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial
Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial

Referensi

Muhammad Ibn Alan Ash-Shidiqi, Dalil al-Falihin Li Thuruq Riyadh as-Shalihin  (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 1, h. 37.
Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 3, h. 621.
Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili, Atsar al-Harbi Fi al-Islam (Beirut: Dar al-Fikr al-Mua’shir), h. 437.
Yudi Latif, Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), h. 375.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Semester. V asal Purwakarta, Jawa Barat.

Penutupan FMPP XXXVI, Menag Fachrul Razi: Bangsa ini Merdeka, karena Peran Besar Pesantren

LirboyoNet, Kediri—Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menutup secara resmi acara FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) ke-XXXVI se-Jawa Madura pada kamis malam jumat (14/02).

Acara tersebut, dihadiri juga oleh segenap Masyayikh dan Dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Acara yang dimulai sehabis isya itu dibanjiri oleh segenap delegasi FMPP dan santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam kesempatan ini, Menag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menyampaikan sambutan beliau, bahwa “Saya di amanahi oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai menteri Republik Indonesia.”

“Jabatan ini cukup berat, namun saya berprinsip, sepanjang ada doa dan barokah dari para kiai,”

“Terutama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, insyaAllah Allah akan memudahkan tugas-tugas saya.”

Beliau juga menyampaikan, bahwa beliau merasakan ketenangan ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo ini.

“Bangsa ini dapat merdeka, karena peran besar Pesantren”,

“Negara dan pemerintah tidak pernah lupa atas jasa para syuhada’ bangsa dari kalangan Pesantren.”

“Indonesia dari dulu tidak pernah memisahkan antara identitas islam dan identitas kebangsaan,” kata beliau,

“Dan ujung tombak paling utama adalah Nahdlatul Ulama.” Pungkas beliau.

Para ulama kita adalah nasionalis sejati. Jauh sebelum kita merdeka, ulama dan pesantren sudah berkontribusi nyata, mengambil bagian, mengukir peradaban, serta mencerdaskan kehidupan bangsa lewat lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya.

Mereka tetap mempertahankan identitas ke-indonesia-an, menguatkan nasionalisme santri dalam situasi apapun juga.

Pada bulan September 2019 lalu, telah disahkan undang-undang tentang pesantren. Undang-undang ini terbit bukan untuk menyeragamkan pesantren, seperti sekolah, madrasah, atau mengatur pesantren agar mau mengikuti pemerintah. Undang-undang ini hadir dalam rangka menjaga khas pesantren.

Apa yang selama ini dilakukan oleh pesantren, berupa proses belajar-mengajar dengan segala khas-nya.

Baik segi metode, kurikulum dan lainnya tetap akan dipertahankan sebagai sebuah sistem pendidikan yang diakui sebagai sistem pendidikan nasional.

Kalau kita membaca sejarah, bisa akan tergambar dengan jelas bahwa pendidikan asli Indonesia adalah pendidikan pesantren.

Acara pungkas diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dan ditutup dengan doa yang dibawakan oleh KH. Zainuddin Jazuli.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Muhasabah Membuat Diri Berubah

Hukum Memegang Alquran Terjemah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat ini banyak Alquran terjemah dalam berbagai Bahasa, salah satunya yang banyak ditemukan adalah Alquran terjemahan bahasa Indonesia. Bagaimanakah hukum memegangnya bagi orang yang memiliki hadas? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Iqbal, Pati Jawa Tengah)

________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu larangan bagi orang yang memiliki hadas adalah memegang mushaf Alquran. Yang dimaksud Alquran dalam persoalan itu adalah Alquran murni atau terjemahan Alquran. Sehingga apabila memegang tafsir Alquran diperbolehkan.

Adapun Alquran terjemahan yang beredar saat ini, seperti Alquran terjemah bahasa Indonesia, sejatinya tergolong tafsir makna Alquran, sehingga hukum menyentuhnya disamakan dengan memegang tafsir Alquran. Sebagaimana penjelasan Syekh Ismail Zain dalam fatwanya:

 أَنَّ تَرْجَمَةَ الْقُرْآنِ ذَاتِهِ لَا تَجُوْزُ فَإِنْ كَانَتِ التَّرْجَمَةُ لِمَعْنَاهُ فَهِيَ كَالتَّفْسِيْرِ فَلَهَا حِيْنَئِذٍ حُكْمُ التَّفْسِيْرِ فَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنَ الْقُرْآنِ اَلْفَاظًا جَازَ لِلْمُحْدِثِ حَمْلُهَا مَعَ الْقُرْآنِ وَكَذَلِكَ اِنْ كَانَتْ مُسَاوِيَةً فَإِنْ كَانَتْ أَقَلَّ مِنْ اَلْفَاظِ الْقُرْآنِ فَلَا يَجُوْزُ لِلْمُحْدِثِ مَسُّهَا وَلَا حَمْلُهَا .

Sesungguhnya menerjemahkan Alquran secara harfiah tidak dilegalkan. Namun apabila yang diterjemahkan adalah maknanya, maka hukumnya seperti tafsir Alquran. Sehingga apabila jumlah kata tafsirnya lebih banyak, maka diperbolehkan bagi orang yang hadas untuk membawanya. Begitu pula diperbolehkan membawanya ketika jumlah huruf tafsir memiliki jumlah yang sama dengan Alqurannnya. Akan tetapi apabila huruf tafsir lebih sedikit dibandingkan dengan huruf Alquran, maka bagi orang yang hadas tidak diperbolehkan memegang serta membawanya.”[1]

 Namun apabila seseorang ragu mengenai perbandingan jumlah huruf antara terjemah bahasa Indonesia dan huruf Alqurannya, maka tetap diperbolehkan menurut imam Ibn Hajar. Sebagaimana ungkapan Sayyid Abi Bakar bin Muhammad Satho ad-Dimyathi:

 وَجَرَى ابْنُ حَجَرَ عَلَى حِلِّهِ مَعَ الشَّكِّ فِي الْأَكْثَرِيَّةِ أَوِ الْمُسَاوَاةِ، وَقَالَ: لِعَدَمِ تَحَقُّقِ الْمَانِعِ وَهُوَ الْاِسْتِوَاءُ .

Imam Ibn Hajar berpendapat boleh memegang ketika ragu akan jumlah huruf tafsir (terjemahan makna) apakah menyamai atau justru lebih banyak dari Alquran. Beliau menjelaskan: karena dalam keadaan ragu masih tidak ada yang memastikan atas pelarangannya, yakni tidak ada kepastian kalau jumlahnya sama dengan huruf Alquran.”[2]

[]WaAllahu a’lam


[1] Ismail zain, Qurrah al-‘Ain bi Fatawa Ismail Zain, hlm. 45-46.

[2] Sayyid Abi Bakar Syato bin Muhammad Syato ad-Dimyathi, Hayiyah I’anah at-Thalibin, vol. Hlm. 8.

Khutbah Jumat: Mencintai Tanah Air, Melaksanakan Ajaran Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ.

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Ketika seseorang mencintai sesuatu, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk sesuatu itu.
Ketika Anda mencintai suatu hal, pasti anda akan melakukan yang terbaik untuk hal itu.
Demikian pula dengan cinta tanah air.
Ketika Kita meningkatkan rasa cinta Kita terhadap tanah air, maka kita akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kontribusi terhadap kemajuan Negara Kita.

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Cinta tanah air merupakan bagian dari teladan Rosululloh S.A.W.
Alloh S.W.T. berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ…(85

Artinya: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Mekah). …” (Q.S. Al-Qashash; 85)

Ayat ini turun ketika Rosululloh S.A.W. termenung saat meninggalkan kota Mekah dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Seakan beliau berat meninggalkan kota Mekah yang merupakan tanah air sekaligus tempat kelahiran beliau.
Ayat tersebut merupakan janji Alloh untuk mengembalikan Rasululloh ke Mekah. Janji tersebut terlaksana dengan adanya peristiwa penaklukan kota Mekah.

Dalam tafsir Ruhul Bayan, Imam Isma’il Haqqi, Al-Hanafi Al-Khalwati saat menafsirkan ayat tersebut beliau menerangkan:

وَفِي تَفسِيرِ الآيَةِ إِلَى أَنَّ حُبَّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ. وَكَانَ عَلَيهِ السَّلَامُ يَقُولُ كَثِيرًا: “اَلوَطَنَ اَلوَطَنَ”, فَحَقَّقَ اللهُ سُؤْلَهُ

Artinya: “Dalam tafsir ayat di atas, ada isyarah bahwa sesungguhnya cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Rasululloh Saw. sering berkata:Tanah air, tanah air’. Lalu Allah pun mengabulkan permohonan beliau.”

Jama’ah Jumat rohimakumulloh…
Seandainya dalam hati penduduk suatu negara tidak tertanam rasa cinta terhadap tanah air, maka negara akan mudah terpecah belah. Jika negara terpecah belah, maka negara akan direbut dan dikuasai oleh negara lain.

Dalam tafsir ayat tadi, Imam Isma’il menyertakan nasehat sayidina ‘Umar bin Khattab Ra.:

لَولَا حُبُّ الوَطَنِ لَخُرِّبَ بَلَدُ السُّوءِ, فَبِحُبِّ الأَوطَانِ عُمِرَةِ البُلْدَانُ.

Seandainya tidak ada kecintaan terhadap tanah air, maka negara gagal akan dirusak. Maka, dengan cinta tanah air, negara-negara dapat dimakmurkan.”

Rasa cinta terhadap tanah air tidak berarti menjadikan Negara muslim tersekat-sekat. Justru dengan cinta tanah air Rasululloh bisa membuat umat muslim bersatu saling membantu untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih maju.

Ajaran cinta tanah air ini juga diperkuat oleh Sabda Nabi:

وَاللهِ إِنَّكِ لَأَحُبُّ أَرْضِ اللهِ تَعَالَى إِلَى اللهِ وَأَحَبُّ أَرضِ اللهِ تَعَالَى إِلَيَّ, وَلَولَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.  (رَوَاهُ أحْمَدُ)

Artinya: “Demi Allah sesungguhnya engkau (Makah) adalah bumi Allah yang paling dicintai Allah dan aku. Andai pendudukmu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar (hijrah).” (H.R. Ahmad).

Jama’ah Jumat Rohimakumulloh…

Dalam bulan bersejarah ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan keimanan kita melalui rasa cinta terhadap tanah air.

Dengan mencinta tanah air, kita melaksanakan ajaran Nabi.

Dengan mencintai tanah air, kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita.

Dengan mencintai tanah air, kita memajukan dan mensejahterakan Negara Kita dan Negara-negara saudara kita sesama Muslim.

بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بفهمه إنه هو البر الرحيم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Lawatan Pimpinan Pondok Ke Majalengka

LirboyoNet, Majalengka—Rencana kehadiran Pondok Pesantren Lirboyo Cabang Majalengka sudah mencapai tahap penyempurnaan sarana dan prasarana. Diantaranya dengan dibangunnya sarana ibadah pendukung yaitu pembangunan Masjid Mariani yang terletak di komplek Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka. Pembangunan masjid yang sudah dimulai sejak 3 bulan belakangan ini sudah mulai sedikit kelihatan bentuk dan ukurannya.

Pada peletakan batu pertama pembangunan masjid yang berlokasi di Desa Tegal Aren, Kecamatan Ligung, itu dilakukan oleh Bupati Kabupaten Majalengka, Bpk Karna Sobahi. Dan turut hadiri sejumlah perangkat daerah kabupaten Majalengka, para alumni Lirboyo, pimpinan pondok pesantren Lirboyo dan pengasuh pondok pesantren Lirboyo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Dan Alhamdulillah pada jum’at (18/1/2019) pimpinan pondok pesantren Lirboyo Agus Abdul Qodir Ridlwan, Ust. Nu’man Abdul Ghoni, Ust. M. Zaki Fikruhu dan ditemani dengan Ust. Ahmad Muhsin dan Ust. Faizin (tenaga pengajar ponpes Lirboyo V) berkesempatan untuk silaturohim sekaligus meninjau lokasi pembangunan masjid yang terletak di komplek Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka.

Berikut orang-orang yang bertanggungjawab dalam pembangunan Pondok Pesantren Lirboyo V cabang Majalengka:

Ketua HIMASAL Prov. Jabar: KH. Juhadi Muhammad, SH.

Ketua Panpel Pembang Ponpes Lirboyo V: KH. Drs. Ubaidillah Harist, M.Pd.

Sekretaris Panpel Pembang Ponpes Lirboyo V: KH. Atohillah H.Al Fudholli, M.H.I.

Bendahara Panpel Pembang Ponpes Lirboyo V: KH. Yayat Hidayat Tamammi.

Wakil Alumni Himasal di lapangan: Ustad Amin.

Camat Ligung: Bpk.Yoyo.

Kepala Desa Tegal Aren: Bpk. Endan Wibawa.