HomeArtikelMemerdekakan Sejarah Kemerdekaan

Memerdekakan Sejarah Kemerdekaan

0 0 likes 95 views share

Perayaan kemerdekaan RI selalu menjadi momen yang meriah disetiap tahunnya, berbagai macam kegiatan dihelat, ribuan bendera dan pamflet Selamat Dirgahayu dipasang. dimanapun dan dengan cara apapun diseluruh pelosok negeri, kumandang Lagu Kemerdekaan berulang menggaung seantero Nusantara.

Namun, situasi ini tak berbanding sebaliknya, masyarakat lebih antusias dalam hal seremonial perayaan kemerdekaan, akan tetapi kosong dari makna dan sejarah kemerdekaan itu sendiri.

Masyarakat kita terutama kawula muda yang nantinya menjadi tonggak bangsa ini minim minatnya soal urusan sejarah bangsanya, jangankan sejarah bangsanya, sejarah lingkungannya saja mereka acapkali acuh tak acuh. contoh kecil, banyak dari mereka yang kurang tahu silsilah keturunannya.

Penyebabnya, banyak yang mengidentifikasikan salah satunya sebagai efek dari pengaruh globalisasi yang menyasar dari segala lini kehidupan masyarakat kita, mulai dari budaya, teknologi, gaya hidup dan sebagainya. Hal ini tidak bisa kita tolak, namun jangan pula kita acuhkan, sebab besar imbasnya. Ia akan berperan jauh dalam mengontrol pola pikir kita.

Sehingga lambat laun tanpa sadar kita akan meninggalkan budaya dan corak kehidupan lokal kita. Selanjutnya yang dikhawatirkan kita akan terhinggapi rasa  herolessness, merasa tiada mempunyai pahlawan. Sejarah mereka kita acuhkan, kebesaran dan perjuangannya kita sisihkan, lebih tertarik dengan apapun yang berbau asing, merasa rendah dan hina yang itu datangnya dari lokal. Merasa kolot dan ketinggalan zaman.

Sebab yang lainnya adalah berkat pengetahuan kita soal sejarah yang diplesetkan oleh kolonial dulu, mereka menciptakan sejarah yang lebih mengarah kepada kepentingan mereka sendiri berkaitan dengan cengkeraman kekuasaannya di Nusantara. seperti usahanya membuat prasasti yang mendiskreditkan peran Ulama dan Santri dalam perjuangannya melawan penjajah. Kiat mereka meredam perjuangan Ulama, Santri dan Pribumi dilakukan dengan segala bentuk. Bahkan materi pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah mulai tingkat dasar hingga tinggi masih merupakan warisan kolonial, yang jelas tujuannya seperti telah diungkapkan.

Hingga sekarang warisan dari kolonial masih digunakan di negeri ini, seperti UU yang kita pakai, ratusan poin diantaranya merupakan ciptaan kolonial, padahal politik lokal islam yang diwakili kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah sejak lama mempunyai UU yang diterapkan di wilayahnya.

Ambillah contohnya Majapahit, bagi warganya yang berbuat asusila tanpa segan akan dihukum mati. sisi lainnya, UU warisan itu dinilai terlalu lembek dan ringan bagi para pelaku. Jauh dari kata jera untuk tidak mengulangi, bayangkan, koruptor yang merugikan negara ratusan milyar hanya dihukum 3 tahun kurungan, kalau punya uang bisa-bisa hanya 2 tahun, belum lagi remisi yang didapatkan.

Dari sinilah betapa pentingnya kita mengenal sejarah, sejarah bukanlah omong kosong. Seperti yang ditandaskan oleh Bapak Proklamasi Ir. Soekarno saat menyampaikan sambutannya dalam pada peringatan kemerdekaan RI yang ke-3 :

“ Dari mengenal sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah ; bahwa tidak ada bangsa yang bisa menjadi besar dan makmur zonder kerja. terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh dari langit. kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu “kristalisasi” keringat.” Tandas beliau menggebu.

Maka dari  itu sejarah bukan hanya sebagai masa lalu, namun bagaimana kita bisa membaca masa lalu dengan segala yang menguasainya, sebagai petunjuk arah dan haluan-haluan yang kita gunakan untuk kehidupan dan pembangunan kedepan.

Sebagai santri juga janganlah kita sekedar tahu Sejarah Nabi, Khulafa Ar-Rasyidin ataupun sejarah Timur Tengah pada umumnya, namun juga yang berkaitan dengan ke-Nusantaraan jangan kita acuhkan, sebab bagaimanapun juga sejarah selalu berkelindan dengan sosial-kultural sebuah daerah, politik dan masa. jangan dikira seperti ini anti arab.

Kalau tidak demikian, akan terulang kembali para pahlawan dari kalangan Ulama dan Santri yang enggan untuk ikut duduk mengurusi kepemerintahan selepas proklamasi, mereka memilih kembali bergulat dengan kitab-kitab dan para santrinya. Jelas ini hal yang sangat baik, namun bisa kita lihat yang duduk disana adalah para amtenar pegawai pada masa kolonial, yang jalan politiknya juga pasti masih satu urat dengan yang mendidik mereka, kolonial.[1]

 

 

 

[1] Api Sejarah ; Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Insdonesia