Kontributor: Angga Aditya Putratama (Siswa 1 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo)
Kata “santri” menurut Profesor Johns berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan menurut C.C Berg, istilah santri berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang mengetahui buku suci agama Hindu, atau seorang ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, atau buku-buku agama dan buku-buku pengetahuan[1]. dari definisi di atas menuai kesimpulan bahwa santri adalah seseorang yang mempelajari dan memperdalam ilmu agama kemudian mengajarkannya, hal ini senada dengan perkataan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din yang berupa:
مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَهُوَ الَّذِيْ يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتِ السَّمَوَاتِ
“Barang siapa mengerti agama dan melaksanakannya juga mengajarkan, maka ia disebut orang yang agung di kerajaan langit.” (Imam Ghazali)
Baca juga: Kenapa Masih Ragu Ziarah Kubur? Ini Dalil dan Penjelasannya!
Sumbangsih santri di era penjajahan
Santri sejak zaman dahulu, terus berusaha memberikan tenaganya, ilmunya, dan pikirannya untuk bangsa Indonesia. Mulai dari aspek keagamaan, seperti: menyebarkan agama Islam ke pelbagai penjuru bumi pertiwi.
Selain itu juga, santri berperan aktif dalam mengedepankan sikap Nasionalisme, seperti: Ikut andil dalam memerdekakan Bangsa Indonesia dengan berbagai macam upaya. Salah satu upaya yang harus santri lakukan, yakni dengan fatwa resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945[2] yang terkenal dengan Resolusi Jihad Nahdatul Ulama.
Fatwa ini mampu mengubah jiwa-jiwa umat muslim, menjadi jiwa-jiwa yang penuh gelora api semangat membara, yang sebelumnya takut mati menjadi siap mati, kapan pun dan di mana pun, selama itu untuk bangsa Indonesia.
Juga upaya salah seorang santri dari Tanara, Banten, yang orang-orang menyebutnya dengan sebutan Bapak Kitab Kuning Indonesia, yang tak lain dan tak bukan Syaikh Nawawi Al-Bantani. Beliau ikut andil dalam melawan penjajahan bukan dengan senjata, melainkan dengan menanamkan nilai rasa sikap Nasionalisme yang beliau suntikkan ke dalam sanubari murid-murid beliau. Beliau tak gentar, takut, apalagi mundur. Walaupun Beliau tahu bahwa apa yang dilakukan ini akan membuat nyawa Beliau terancam.
Baca juga: Peran Santri Masa Kini
Santri Lirboyo ikut berperan memberantas penjajah
Jum’at, 17 Agustus 1945, Seorang komandan sudanco di Kediri, Mayor Mahfud Abd, Rahim Pratalikama, tergopoh-gopoh menghadap Kiai Mahrus Aly di Lirboyo. Sang Mayor menyampaikan berita kemerdekaan Indonesia kepada Kiai Mahrus Aly. Keduanya kemudian sepakat untuk melucuti tentara Dai Nippon di Kediri. Para santri Lirboyo dikumpulkan di serambi masjid dan mengumumkan bahwa Indonesia sudah merdeka.
Seketika itu, takbir dan riuh rasa suka cita, perasaan yang tak bisa merangkainya dengan kata-kata menyelimuti hari itu. Kiai Mahrus mengajak para santri Lirboyo untuk melucuti Jepang yang bermarkas di jalan Brawijaya. Tanpa penolakan dan dengan semangat para santri menyambut ajakan itu. Tepat pukul 20.00 WIB, sebanyak 440 santri yang di bawah komando Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh, para santri bergerak menuju markas kempetel yang terjaga ketat. Tepat pukul 1.00 dini hari, dengan membawa senjata seadanya, yang mana lawannya, yakni Jepang dengan persejataan lengkap dan modern, namun malah menyerah tanpa syarat sebelum berperang.
Setelah itu, Jepang kemudian dibawa ke pondok kemudian diserahkan pada Tentara Keamanan Rakyat (TKR)[3].
Baca juga: Cinta Tanah Air dalam Kacamata Santri
Peran santri dalam dunia pendidikan
Peran santri tidak hanya terbatas pada upaya bela negara, tetapi juga sangat besar dalam mewarnai dunia pendidikan, baik sebelum kemerdekaan maupun setelahnya. Hingga saat ini, santri terus berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, selaras dengan cita-cita yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Pada masa kolonial, terjadi perubahan besar dalam sistem pendidikan di Nusantara. Setelah pembubaran VOC pada tahun 1800, pemerintahan kolonial Belanda mengambil alih dan mulai menyebarkan sekolah-sekolah Kristen sejak tahun 1820-an, terutama di wilayah yang tidak berada di bawah pengaruh kekuasaan Islam. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah pemeluk agama Kristen. Sementara itu, lembaga-lembaga pendidikan yang oleh Belanda bentuk umumnya hanya untuk kepentingan penjajah. [4]
Baca juga: Resensi; Hukum Musik dalam Islam
Tantangan santri di era wasternisasi
Westernisasi pun mulai digencarkan, yaitu upaya menggantikan peradaban Islam dan adat-istiadat lokal dengan budaya Barat. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan intelektual dan aktivis masyarakat, termasuk para santri. Mereka menyadari bahwa jika hal tersebut mendapat tempat di negara, pendidikan Islam akan tersingkir, surau dan pesantren akan terpinggirkan, dan Islam bisa menjadi asing di tanah air sendiri.
Sebagai bentuk perlawanan, santri tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga memperkuat pendidikan agama di tengah masyarakat. Mereka menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme, agar umat berani mempertahankan ajaran agama, serta cinta tanah air.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan Belanda juga memiliki sisi positif. Tokoh-tokoh seperti Abdullah dan Ahmad Dahlan melalui analisis sosial yang objektif menyimpulkan bahwa sistem pendidikan Barat juga menyumbang pengetahuan umum dan keilmuan modern. Kesimpulan inilah yang kemudian mereka gunakan sebagai dasar untuk menggabungkan pendidikan model Barat dengan tradisi pesantren. Hasilnya adalah sistem pendidikan yang tetap menjunjung nilai religius sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Baca juga: Manfaat Ilmu Pengangkat Derajat Penyebab Kehancuran
Pesantren yang konsisten dengan kesalafannya
Pesantren salaf dengan model pembelajaran tradisionalnya juga menjadi benteng utama dalam mempertahankan identitas keislaman bangsa. Dari pesantren-pesantren inilah lahir ulama dan intelektual muslim yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Para ulama inilah yang menjadi wasilah (perantara) penyebaran agama Islam sekaligus menjaga harmoni sosial di masyarakat.
Hingga kini, model pendidikan salaf tetap eksis dan terus mendidik generasi muda dengan tujuan membentuk insan yang berakhlak mulia, berbudi luhur, dan bertanggung jawab sebagai penerus bangsa.
Baca juga: Makna Cinta dalam Al-Qur’an: Pelajaran dari Surat Quraisy
Tantangan santri di era sekarang
Memang, hari ini kita tidak lagi menghadapi penjajahan dalam bentuk senjata, tetapi justru dihadapkan pada persoalan-persoalan yang lahir dari dalam negeri sendiri. Contoh yang begitu nyata: ekonomi yang tidak stabil, kemiskinan yang justru tumbuh subur di tanah yang kaya, dan pemerintahan yang seharusnya menjadi pelayan rakyat malah terjerat korupsi. Mengalihkan dana negara demi kepentingan pribadi, keadilan tunduk pada uang, hak asasi manusia terabaikan.
Kita menyaksikan garam-garam impor terjual bebas layaknya garam dapur, judi online merajalela dan meresahkan masyarakat, angka kriminalitas melonjak tanpa kendali. Pembunuhan mulai sebagai hal biasa di bangsa yang konon menjunjung nilai moral. Penyimpangan seksual dan seks bebas kini menjadi pemandangan sehari-hari di kalangan remaja. Nilai-nilai agama dan akhlak bangsa mulai pudar, seolah tak lagi punya arah.
Hutan-hutan hijau berubah menjadi tanah gersang, motivator gadungan menjual mimpi palsu, memperdagangkan agama demi uang, dan penceramah tanpa dasar ilmu menyesatkan umat. Ucapan manis mereka justru mengikis kepercayaan masyarakat terhadap ulama, kiai, dan habaib sejati.
Di tengah kompleksitas masalah ini, santri dituntut untuk tidak hanya paham ilmu agama, tetapi juga sadar akan kondisi sosial, ekonomi, dan moral bangsa. Menjadi santri di era ini berarti siap menghadapi tantangan zaman, menjaga akidah, sekaligus menjadi bagian dari solusi bagi persoalan-persoalan yang melilit negeri.
Baca juga: Pemindahan Ibukota; Perspektif Qoaidul Fiqih
Tanggung jawab santri terhadap PR-PR bangsa
Memang bukan hanya santriyang menanggung semua beban persoalan ini. Namun persoalan ini merupakan tanggung jawab bagi seluruh warga Negara Indonesia. Tetapi santri jangan sampai menutup mata dan membisu atas persoalan-persoalan Negara. Apalagi sampai kabur dari tanggung jawab berupa mengajar keilmuan Islam yang sudah ia dapati dari pesantren. Sudah menjadi tanggung jawab santri untuk ikut andil dalam menjawab persoalan-persoalan yang menyangkut kemaslahatan Bangsa. Santri telah mempunyai bekal ilmu dan akhlak ketika studi ilmiahnya di pesantren, dan santri memang sudah siap untuk bermanfaat untuk umat ketika nanti sudah pulang ke daerahnya masing-masing.
Kontribusi santri dalam menjawab tantangan masa kini
Lantas bagaimana cara santri menjawab PR-PR Negara? Pertanyaan serupa pernah di tanyakan kepada Beliau Maulana Habib Lutfi Bin Yahya, selaku Ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang tinggi, Ulama yang ahli dalam berdakwah, dan Ulama yang memiliki sikap Nasionalisme yang tinggi dalam Bernegara. Beliau menjawab, “ Yang ada di dekat kamu cangkul yaa mencakul saja di lahan yang kosong. Isi lahan yang kosong itu dengan berkebun”. Di waktu yang berbeda, Beliau memberikan nasehat, “ Mulailah dengan sesuatu yang kecil, nanti dari situ akan berkembang”. Juga menuturkan “Kalau kita terus berpikir pasti ada solusi. Setiap sesuatu pasti ada solusinya ”.. Kemudian Beliau menuturkan di kesempatan yang lain, “Nilai-nilai agama, Nasionalisme, dan pertumbuhan ekonomi merupakan tiga pilar permberdayaan umat menuju ketahanan Nasional.”
Dari jawaban dan nasehat-nasehat Beliau Maulana Habib Lutfi, dapat kita petik sebuah pembelajaran bahwa setiap tindakan sekecil apapun yang santri lakukan, jika yang ia lakukan dengan tujuan memberikan kemanfaatan untuk sekitar, seperti: Menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuat kegaduhan di sekitar, menjaga kesehatan jasmani dengan berolahraga, memanfaatkan sisa-sisa barang bekas untuk dibuat kerajinan, tidak membuang sampah sembarangan, aktif bergotong-royang, menghidupi masjid dan tempat ibadah lainnya, serta taat peraturan pemerintah, dan lain-lain. Itu semua sudah termasuk upaya memberikan kontribusi kepada Negara.
Santri tidak mengaji saja
Dan santri yang mencari pengalaman dan sedang berkelana mencari ilmu, baik itu merupakan ilmu yang fardhu ‘ain maupun ilmu yang bernuansa fardhu kifayah. Keilmuan yang fardhu ain seperti : Mengaji ilmu agama. Dan mencari ilmu yang menuai hukum fardhu kifayah, seperti: pengobatan medis, bertani, berternak, berdagang, memperdalam ilmu ekonomi, memperdalam ilmu antariksa, dan keilmuan yang lainnya. Itu semua sudah termasuk cakupan santri dalam kontribusi menyelesaikan persoalan Negara Indonesia. Santri tidak langsung terjun menyelesaikan PR-PR Bangsa tanpa bekal keilmuan yang memadai. Maka dari itu, santri harus belajar sedini mungkin untuk mempersiapkan diri terhadap bidang-bidang keilmuan yang nantinya dibutuhkan guna menjawab tantangan ke depan dan bermanfaat untuk lingkungan. Hal ini seperti dawuh Romo KH. M. Anwar Manshur:
جدد السفنة فاِنَّ البحر عميق
“Perbaruilah kapal kalian, karena sesungguhnya lautan itu amatlah luas”
Baca juga: Halloween, Sejarah dan Legalitas Hukum Merayakannya
Pesan untuk santri
Kesimpulannya, maka langkah awal yang bisa santri lakukan sekarang ini untuk ikut andil menyelesaikan persoalan Bangsa Indonesia ialah dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, mengaji yang mempeng, berlatih melakukan musyawarah (bahtsul masail) dengan menanggapi isu-isu terbaru, taat dan patuh kepada Kiai dan menyiapkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu fardhu kifayah. Adapun action atau tindakan merealisasikan keilmuan tersebut itu nanti ketika santri sudah siap terjun di masyarakat dengan praktek atau metode yang ia minati, entah itu dengan mengajar ngaji, membuka forum kajian ilmu, berceramah, mengadakan pertemuan-pertemuan yang bermanfaat, berbagi ilmu melalui media cetak dan lain-lain. Jangan malu dan gengsi mengemban nama santri, apalagi menyesal menjadi santri. Jangan minder apalagi mundur. Semua orang berhak menjadi santri, namun tidak semua orang bisa menjadi santri. Santri bukanlah profesi, tetapi menjadi santri adalah jati diri. Jagalah nama santri, dan bawahlah nama santri melambung tinggi.
Mungkin ini saja yang bisa disampaikan, mohon maaf yang mendalam jika terdapat kesalahan dalam tulisan yang singkat ini, jika terdapat kebenaran dalam tulisan murni datangnya dari Ilahi, jika terdapat kerusakan murni dari pribadi.
Editor: Muhammad Fihri
[1] Tim FOKUS (Forum Kajian Santri Nusantara), Menyegarkan Peradaban, Pertama (Kediri: Lirboyo Press, t.t.).
[2] Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pedoman Ke-Nu-an, Pertama, Jilid III (Kediri: LBM (LEMBAGA BAHTSUL MASA-IL) Pondok Pesantren Lirboyo, 2014).
[3] Tim Sejarah BPK Pondok Pesantren Lirboyo, 3 Tokoh Lirboyo, Cetakan Ke XVII (Kediri: BPK P2L Dan Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pondok Pesantren Lirboyo, 2021).
[4] (Forum Kajian Santri Nusantara), Menyegarkan Peradaban.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo






Assalamualaikum kak …. Info pendaftaran santri Baru . lulusan SD 🙏🏻